Kebijakan Google Untuk Krisis Iklim Dunia

12

Who’s saying “no” to climate crisis deniers?

Google.
Yoi guys, kamu content creator yang enggak percaya sama krisis iklim? Well, yaudah berarti kamu enggak bisa dapet duit dari iklan di Google ya.
 
Hah kenapa emang?
Karena dalam keterangannya minggu lalu, Google mengumumkan bahwa pengiklan, jasa penerbitan, hingga pembikin video di YouTube udah nggak bisa lagi me-monetize konten-kontan yang berisi penolakan atau ketidakpercayaan atas fenomena krisis iklim. Hal ini merupakan kontribusi Google dalam upaya mendukung masyarakat global yang saat ini emang lagi fokus banget mengantisipasi krisis iklim guys. Dengan adanya kebijakan ini, maka para content creator yang bilang bahwa mereka enggak percaya sama krisis iklim di konten-kontennya gak bakal bisa dapet Google AdSense, which in turn bikin mereka gak bisa menghasilkan duit dari penempatan iklan di kontennya.
 
Can you explain?
Sure. Jadi, kalo kamu suka nontonin YouTube dan bukan pake akun premium, pasti kamu bakal ngeliat banyak iklan di video yang kamu tonton. View kamu tersebut itu merupakan penghasilan buat si yang punya konten.
 
Yep, terus?
Nah, Google gak bakal ngasih iklan di konten-konten yang dianggap “contradicts well-established scientific consensus around the existence and causes of climate change“. Jadi misal ni, kalo ada konten yang nge-state, “Suhu bumi gak makin memanas kok” dan semacamnya, konten itu gak bakal dapet duit dari view iklan karena kenyataannya sekarang emang suhu bumi memanas dan udah ada banyak bukti penelitiannya.
 
Sounds cool…
Yep. Sebelumnya, Google emang udah punya daftar beberapa topik sensitif yang dilarang dengan menghentikan pemasukan AdSense-nya ni, kayak misalnya konten soal penggunaan senjata api dan lain-lain. Baru kali ini ni isu krisis iklim made it to the listNow everybody is like… “Your move, Facebook”, karena sebagai saingan terbesar Google dalam hal digital advertising, FB sampe sekarang belom melakukan manuver serupa.
 
Got it. Did anyone say anything on this?
Yep. Ada peneliti ilmu sosial lingkungan di University of Oxford Lisa Schipper yang mempertanyakan efektivitas dari kebijakan ini. Menurut Lisa, topik-topik kayak gini masih belum bisa difilter dengan baik kalo cuma ngandelin mesin aja. Doi ngasih contoh kayak konten yang ngepromosiin clean energy oleh perusahaan fosil. Kalau diliat secara lewat, ya konten ini bakal lolos dari Google, tapi kan kenyataannya konten kayak gini cuma greenwash perusahaan fosil, aka bikin perusahaan tersebut keliatan “green” padahal kenyataannya gak kayak gitu.
 
Hmmm. Ada respon dari Google?
Terkait filter konten, Google bilang kalo mereka bakal pake both mesin otomatis dan juga manusia buat ngefilter konten isu krisis iklim. Google juga bilang kalo mereka bakal terus konsultasi sama para ahli dalam hal filter konten kayak orang-orang yang terlibat dalam “United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change Assessment Reports”.
 
Got it. Anything else?
Langkah perubahan kebijakan Google ini diumumin seminggu setelah Google bilang kalo mereka bakal nge-ban konten yang ngasih misinformasi soal vaksin gengs. Kabarnya, kebijakan ini juga berbarengan sama fitur terbaru YouTube yang bertujuan buat ngurangin carbon footprint para penggunanya.