Corona Updates 11 Oktober 2021, Kasus Pemerkosaan Tiga Anak oleh Ayah Kandungnya, Kebijakan Google Untuk Krisis Iklim Dunia, 2 Jurnalis yang Dianugerahi Nobel Perdamaian

22

Hey ho!

Rise and shine for the new week! Yesterday was World Mental Health Day, and do you know that most heart attacks occur on Mondays? Yep, Monday scaries is real, and it makes the stress level higher than any other day. So, before you start today, we want you to take a deep breath and remember this mantra: All is well. You’re a catch.


As always, we start the week with covid-19 updates…

Aaaand we’re pretty sure it won’t make your Monday gloomy, because the pandemic has been showing some positive trends, both at home and abroad. Now, let’s start with…
 
Home.
  • Per kemarin, 10 Oktober 2021, total kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 4.227.038 kasus, dengan kasus aktif 25.159 angka sembuh 4.059.267 dan kasus meninggal 142.612.
  • Provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta (858.921 kasus), Jawa Barat (703.639 kasus), Jawa Tengah (482.913 kasus), Jawa Timur (396.429 kasus), dan Kalimantan Timur (157.298 kasus).
  • Penduduk Indonesia yang udah menjalani vaksinasi pertama ada sebanyak 99.373.294 dan vaksinasi kedua 56.908.664 dari target vaksinasi Indonesia sebanyak 208,2 juta penduduk.
  • Kemarin banget ni guys, Indonesia baru aja kedatangan 2.000.700 dosis vaksin Pfizer dalam bentuk jadi melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta di Banten dan Bandara Internasional Juanda di Surabaya. Kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, pembelian vaksin ini adalah untuk menjaga stok vaksin di tanah air. Nah, dengan kedatangan kali ini, maka jumlah vaksin di Indonesia udah mencapai 280.527.920 dosis dalam bentuk jadi maupun bahan baku. Terus, vaksin ini rencananya bakal didistribusikan ke 12 provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo.
  • Kemarin juga, Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru aja menyatakan bahwa vaksin virus Covid-19 dengan merek Zifivax halal untuk digunakan. Keputusan ini diterbitkan MUI menyusul izin penggunaan darurat dari BPOM yang udah didapatkan oleh Zifivax. Kata Kepala BPOM Penny K Lukito, efikasi vaksin ini berada di 81,71 persen yang dihitung seminggu setelah seseorang divaksin lengkap.
  • Menjelang Maulid Nabi ni guys, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas baru aja menerbitkan larangan masyarakat untuk menggelar pawai atau arak-arakan saat merayakan hari besar keagamaan yang melibatkan peserta dalam jumlah banyak. Adapun aturan ini diterbitkan dalam rangka mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam menyelenggarakan peringatan. FYI, sebelumnya pemerintah juga udah menggeser Hari Libur Maulid Nabi dari tanggal 19 Oktober ke tanggal 20 Oktober.
  • Buat kamu yang udah kangen umrah, kabar gembira ni guys, karena Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui nota diplomatik Kedutaan Besarnya minggu lalu baru aja mengizinkan pelaksanaan umrah bagi jemaah dari Indonesia. Kata Menlu Bu Retno Marsudi, izin itu diberikan menyusul laju perkembangan Covid-19 di Indonesia yang udah mulai membaik dalam beberapa waktu terakhir.
Meanwhile, internationally…
  • Per 10 Oktober 2021, total kasus positif Covid-19 di dunia udah mencapai 237.618.968 kasus dan 4.849.166 kasus meninggal.
  • Negara-negara dengan kasus terbanyak adalah Amerika Serikat (44.317.553 kasus), India (33.953.475 kasus), Brazil (21.567.181 kasus), Inggris (8.158.935 kasus), dan Russia (7.631.034 kasus).
  • Minggu lalu, Sekjen PBB Antonio Guterres baru aja menyerukan permintaan atas tambahan anggaran sebesar 8 miliar dollar AS (atau sekitar Rp114 triliun) untuk memastikan bahwa distribusi vaksin covid19 terlaksana dengan adil. Dalam keterangannya resminya, Guterres bilang bahwa distribusi vaksin yang enggak adil (cuma terkonsentrasi di negara-negara kaya) itu bahaya banget karena bisa memunculkan varian baru dan menyebabkan lebih banyak kematian.
  • WHO baru aja mengumumkan minggu lalu bahwa pihaknya lagi bersiap-siap mengirimkan persediaan alkes dan obat-obatan untuk menanggulangi covid19 ke Korea Utara. Adapun barang-barang ini udah mau otw dari pelabuhan di China menuju Korut. Hal ini dinilai banyak pihak sebagai tanda-tanda bahwa negara komunis itu bakal membuka perbatasannya yang udah ditutup secara ketat sejak tahun lalu. FYI guys, sampe sekarang, Korut belum melaporkan satupun infeksi covid19, dan bulan lalu juga mereka baru aja menunda penerimaan vaksin covid19 yang tadinya udah dialokasikan oleh WHO buat mereka.
  • Moderna, yang dinilai sebagai merek vaksin yang paling bagus untuk mencegah covid19 disebut men-supply hampir seluruh produksi vaksinnya buat negara-negara kaya, dan justru menjual vaksin dengan harga lebih mahal ke negara menengah atau miskin. Jadi dalam data yang dikumpulkan New York Times, diketahui bahwa dari beberapa aja negara yang berhasil deal sama Moderna, banyak yang sampe sekarang belum menerima kiriman vaksinnya, atau harus bayar 3x lipat dibanding harga yang dijual di AS dan Uni Eropa. Contohnya, Thailand dan Colombia yang harus bayar lebih mahal, Botswana yang kedatangan vaksinnya terlambat, dan ada juga Tunisia yang bahkan nggak bisa in touch sama pihak Moderna. Lebih jauh, World Bank juga menyebutkan bahwa jumlah vaksin Moderna yang dikirimkan ke negara-negara low income cuma satu juta, dibandingkan sama Pfizer di angka 8,4 juta dosis, dan Johnson & Johnson dengan 25 juta dosis.
  • Baru aja kemarin ni guys, pemerintah Fiji memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pembatasan akses masuk ke negaranya. Kebijakan ini diambil setelah negara kepulauan tersebut mencapai 80% vaksinasi penuh bagi para warga dewasa.
  • Dalam pidato pertamanya sebagai Perdana Menteri, PM Jepang Fumio Kishida bilang bahwa dirinya bakal berupaya sekuat tenaga untuk memimpin Jepang keluar dari krisis covid19. Kishida juga memastikan bahwa warganya akan selalu mendapatkan akses vaksinasi, termasuk dosis booster.
  • Setelah tutup selama satu tahun karena pandemi, Pemerintah India baru aja ni guys ngumumin rencananya untuk membuka kembali akses masuk ke negaranya untuk pariwisata dimulai dari 15 Oktober mendatang. Dengan kebijakan ini, maka warga negara asing udah bisa apply visa lagi untuk masuk ke India, setelah pendaftaran tersebut ditutup pada Maret tahun lalu.

Now let’s talk about: kelanjutan kasus Pemerkosaan Tiga Anak di Bawah Umur di Luwu Timur, Sulsel. 

*Trigger warning! This content mentions sexual abuse, which could be unsettling to some readers. Proceed with cautions!*
 
Update me.
Ok. In case you haven’t heardProject Multatuli di awal bulan Oktober ini baru aja ngerilis laporan reportase yang berjudul “Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor ke Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan.” Artikel ini viral di media sosial dan gak lama setelahnya, situs projectmultatuli.org gak bisa diakses pada tanggal 6 Oktober 2021 kemaren gengs.
 
Wait, I need more background.
Sesuai judulnya, artikel ini menyampaikan informasi tentang tiga anak di bawah umur di Luwu Timur, Sulawesi Selatan yang diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri yang merupakan ASN di tahun 2019 lalu. Ibu dari ketiga anak tersebut kemudian melaporkan kasus ini ke Polres Luwu Timur, tapi 63 hari kemudian kasus tersebut dihentikan sama polisi karena dianggap bukti-buktinya kurang mencukupi. Padahal, bukti dari kasus ini dianggap udah cukup banget, bahkan keterangan dari ketiga anak dan hasil visum juga keluar guys. Hal ini kemudian memunculkan gelombang protes di sosmed dengan tagar #Percumalaporpolisi karena yhaa… abis laporan, ternyata laporannya di-dismiss gitu aja.
 
Hiks :(. Terus akhirnya kenapa artikelnya gak bisa diakses?
Yep, karena disebutkan ada serangan DDoS (distributed denial-of-service) alias serangan server gitu gengs. Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, diketahui pola yang ada dalam peretasan DDoS ini polanya bukan kayak pola yang diciptakan kalo manusia yang ngeretas. Nah, makanya ni sampe banyak media di Indonesia nge-repost artikel tersebut ke situs mereka sebagai bentuk solidaritas. Oh iya, kalo kamu pengen tau laporan lengkapnya, tapi dalam bentuk audio, bisa didengerin di podcast ini ya guys. Aaaall credit goes to Project Multatuli.
 
OMG…
Gak lama setelah Itu, Polres Luwu Timur juga ikut komen di postingan Project Multatuli dan bilang kalo kasus tersebut adalah hoaks alias gak bener. Terus, Polres Luwu Timur melalui akun Instagram @humasreslutim juga menyebutkan nama asli ibu korban beserta ketiga anaknya yang sebenernya disamarkan di artikel Project Multatuli. Hal ini tentu aja dikecam banyak netijen gengs, sampe Project Multatuli ngehapus komentar tersebut karena dianggap melanggar keamanan privasi korban.
 
Geeez…anyone saying anything?
Koordinator Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Erick Tanjung mengecam aksi yang dilakukan oleh Humas Polres Luwu Timur tersebut. Menurut Erick, harusnya polisi melakukan upaya hak jawab atau hak koreksi sebagaimana tertulis dalam Pasal 5 ayat (2) dan (3) UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Kata Erick juga tindakan Polres Luwu Timur ini mengabaikan supremasi hukum dengan ngecap produk jurnalisme sebagai hoaks, padahal namanya produk jurnalisme pasti udah lewat berbagai wawancara dan proses pengumpulan informasi yang sesuai kaidahnya.
 
🙁
Terus lanjut soal penyebutan nama asli korban dan ibu korban ni gengs, Erick juga bilang kalo penyebutan identitas orang tua korban oleh Polres Luwu Timur adalah bentuk tindakan yang juga gak profesional dan mengabaikan hukum. Soalnya ni, pada Pasal 17 ayat (2) UU Perlindungan Anak mewajibkan setiap pihak untuk merahasiakan identitas anak yang menjadi korban kekerasan seksual.
 
So, what now?
Dari segi kasus sih, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono bilang kalo misalkan Polri masih nunggu bukti baru dari kasus ini. Sedangkan, LBH Makassar yang mendampingi ibu korban dan ketiga anaknya dalam kasus ini bilang udah beberapa kali ngasih bukti ke pihak kepolisian tapi gak ada tanggepan apa-apa. Menanggapi ini, Rusdi bilang hal tersebut karena bukti baru itu belom sampe ke pihak Polri. Meanwhile, per Jumat kemaren ni gengs, situs projectmultatuli.org belom pulih sepenuhnya. Hal ini disampaikan oleh salah satu co-founder Project Multatuli Fahri Salam yang bilang kalo meskipun udah bisa dipegang lagi sama pemilik situs, tapi ada beberapa fitur yang belum balik sepenuhnya.

Who’s saying “no” to climate crisis deniers?

Google.
Yoi guys, kamu content creator yang enggak percaya sama krisis iklim? Well, yaudah berarti kamu enggak bisa dapet duit dari iklan di Google ya.
 
Hah kenapa emang?
Karena dalam keterangannya minggu lalu, Google mengumumkan bahwa pengiklan, jasa penerbitan, hingga pembikin video di YouTube udah nggak bisa lagi me-monetize konten-kontan yang berisi penolakan atau ketidakpercayaan atas fenomena krisis iklim. Hal ini merupakan kontribusi Google dalam upaya mendukung masyarakat global yang saat ini emang lagi fokus banget mengantisipasi krisis iklim guys. Dengan adanya kebijakan ini, maka para content creator yang bilang bahwa mereka enggak percaya sama krisis iklim di konten-kontennya gak bakal bisa dapet Google AdSense, which in turn bikin mereka gak bisa menghasilkan duit dari penempatan iklan di kontennya.
 
Can you explain?
Sure. Jadi, kalo kamu suka nontonin YouTube dan bukan pake akun premium, pasti kamu bakal ngeliat banyak iklan di video yang kamu tonton. View kamu tersebut itu merupakan penghasilan buat si yang punya konten.
 
Yep, terus?
Nah, Google gak bakal ngasih iklan di konten-konten yang dianggap “contradicts well-established scientific consensus around the existence and causes of climate change“. Jadi misal ni, kalo ada konten yang nge-state, “Suhu bumi gak makin memanas kok” dan semacamnya, konten itu gak bakal dapet duit dari view iklan karena kenyataannya sekarang emang suhu bumi memanas dan udah ada banyak bukti penelitiannya.
 
Sounds cool…
Yep. Sebelumnya, Google emang udah punya daftar beberapa topik sensitif yang dilarang dengan menghentikan pemasukan AdSense-nya ni, kayak misalnya konten soal penggunaan senjata api dan lain-lain. Baru kali ini ni isu krisis iklim made it to the listNow everybody is like… “Your move, Facebook”, karena sebagai saingan terbesar Google dalam hal digital advertising, FB sampe sekarang belom melakukan manuver serupa.
 
Got it. Did anyone say anything on this?
Yep. Ada peneliti ilmu sosial lingkungan di University of Oxford Lisa Schipper yang mempertanyakan efektivitas dari kebijakan ini. Menurut Lisa, topik-topik kayak gini masih belum bisa difilter dengan baik kalo cuma ngandelin mesin aja. Doi ngasih contoh kayak konten yang ngepromosiin clean energy oleh perusahaan fosil. Kalau diliat secara lewat, ya konten ini bakal lolos dari Google, tapi kan kenyataannya konten kayak gini cuma greenwash perusahaan fosil, aka bikin perusahaan tersebut keliatan “green” padahal kenyataannya gak kayak gitu.
 
Hmmm. Ada respon dari Google?
Terkait filter konten, Google bilang kalo mereka bakal pake both mesin otomatis dan juga manusia buat ngefilter konten isu krisis iklim. Google juga bilang kalo mereka bakal terus konsultasi sama para ahli dalam hal filter konten kayak orang-orang yang terlibat dalam “United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change Assessment Reports”.
 
Got it. Anything else?
Langkah perubahan kebijakan Google ini diumumin seminggu setelah Google bilang kalo mereka bakal nge-ban konten yang ngasih misinformasi soal vaksin gengs. Kabarnya, kebijakan ini juga berbarengan sama fitur terbaru YouTube yang bertujuan buat ngurangin carbon footprint para penggunanya.

Who’s just won Noble Peace Prize?

Journalists Maria Ressa and Dmitry Muratov.
 
Yeay!!! Congrats to alllll hard-working journalists around the world, karena  setelah 86 tahun jurnalis enggak pernah meraih nobel perdamaian, maka pada tahun ini, kondisinya berubah guys. Ada dua orang jurnalis, yakni Maria Ressa dari Filipina dan Dmitry Muratov dari Rusia yang dianugerahi nobel perdamaian.
 
Yuk kenalan yuk, siapa sih, Ressa dan Muratov? Jadi, Maria Ressa ini adalah pendiri sekaligus CEO dari media Filipina, namanya Rappler. Beliau dikenal sebagai jurnalis yang sering mengkritik Presiden Filipina Rodrigo Duterte atas kebijakannya yang dikenal semakin mengancam kebebasan sipil di sana. Ressa udah berkarier di dunia jurnalisme selama 35 tahun dan merupakan penerima Nobel Perdamaian Individu pertama dari Filipina dalam bidang apa pun. Meanwhile, Muratov adalah Editor in Chief dari koran independen Rusia, namanya “Novaya Gazzetta”. Beliau juga dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam atas pemerintahan Vladimir Putin saat ini. FYI, Muratov adalah penerima Nobel Perdamaian pertama di Rusia setelah pemimpin Uni Soviet Mikhael Gorbachev di tahun 1990.
 
Terkait penghargaan ini, Kepala Komite Nobel Norwegia Berit Reiss-Andersen menyebut bahwa keduanya telah memperjuangkan kebebasan pers dan berpendapat di tengah kondisi dunia yang memanas saat ini, dan di negara yang dinilai semakin otoriter dan mengancam kebebasan pers.
 
Dan FYI lagi ni gengs, terakhir kali jurnalis menerima penghargaan Noble Peace Prize itu di tahun 1935 oleh jurnalis asal Jerman Carl von Ossietzky. Doi menerima penghargaan tersebut setelah menulis tentang program rahasia Jerman dalam melakukan persenjataan kembali pada tahun 1930an, yang sebenarnya dibatasi oleh Perjanjian Versailles.

“Please don’t try this at home,”

Gitu guys isi caption dari postingan Menteri Pertahanan Pak Prabowo Subianto dalam Instagramnya kemarin. Jadi isi postingannya adalah foto seorang personel Komcad (Komando Cadangan) yang lagi beraksi membelah tumpukan hebel (bahan bangunan pengganti batu bata atau batako) pake kepala. FYI guys, hebelnya itu ditumpuk empat dan semuanya berhasil terbelah dua.

Uhmmm yep, no sir. Thank you for the reminder.

Announcement


Thanks to Vika for buying us coffee today!

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click here Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Ajak-ajak yuk!

Yep, kamu bakal langsung dapet merchandise eksklusif dari Catch Me Up! kalo kamu ngajak teman-teman kamu berlangganan! Caranya gampang banget, kamu tinggal klik link di bawah ini dan mulai deh, sebar-sebar referral code kamu ke teman, sodara, gebetan, rekan kantor, pokoknya siapa aja boleee….

Atau, kamu juga bisa langsung nge-klik share button di bawah ini! Kumpulin terus referral kamu untuk dapetin merchandise-nya ya! Gratis!


Catch Me Up! recommendations

There’s nothing screams “adulting” louder than a clean house. So, here are some cleaning hacks to start your week. Thank us later.

Angel’s Stories

1. Sore tadi aku sama adekku yang usianya 3 tahun beli bubur kacang ijo di warung langganan. Tetiba ada beberapa mas-mas yang beli juga. Sambil nunggu mereka pada duduk berderet di samping kami. Nah adek aku emang super aktif anaknya. Naik turun kursi, keluar masuk warung dll, ajaibnya salah satu mas-masnya itu baek banget. Pas adek aku mondar mandir di bawah meja, aku liat si masnya naruh tangannya di sisi bawah meja biar adekku ga kejedot gitu lho. Trus adek aku yang petakilan itu tu dibantu turun kursi. Pokoknya masnya kayak bapak-able gitu gaes, sesimpel naruh tangan bawah meja aja bikin nyesss hati. Gue bersyukur ternyata masih ada orang yang peduli sekitarnya, auto inget CMU :))
-Kota emping-
 
2. Hari Rabu kemarin ultahku. Aku memang ngga pernah berharap banyak yang ingat dan ngucapin apalagi mendoakan, tapi bener-bener ngga expect ternyata banyak sekali yang ngucapin dan ngedoakan. Bahkan temen yang aku kira lupa ultahku malem-malem malah dateng ke rumah sambil ngasih surprise dan kartu ucapan yang manis.. Thank you so much bestie. I’m glad to have you all.🤗
-Faa, Malang-
 
(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. You can also check our previous angel stories on our angel’s Instagram. Go go go!)