10 Negara Paling Bertanggung Jawab Atas Krisis Iklim

24

Yep, we’re gonna talk about climate change again today. Again.

Kali ini, soal SEPULUH negara yang paling bertanggung jawab atas krisis iklim yang terjadi saat ini. 
Yoi, jadi baru-baru aja ni guys, lembaga riset lingkungan Carbon Brief merilis hasil analisanya tentang negara-negara penghasil emisi karbon terbesar dari tahun 1850 sampe 2021. Hasilnya, ada sepuluh negara penghasil emisi terbesar di dunia, dan sayangnya, menurut Carbon Brief, enam dari top 10 ini belum terlalu menunjukkan komitmennya untuk mengurangi produksi emisi gasnya yang menyebabkan efek rumah kaca aka pemanasan global.
 
Geez… siapa aja tu?
Jadi 10 negara tersebut, sesuai dengan urutan dari tertinggi ke terrendah ada Amerika Serikat, China, Rusia, Brazil, Indonesia, Jerman, India, Inggris, Jepang, dan Kanada. Adapun dari segi jumlahnya, AS ada di posisi pertama dengan persentase total emisi yang dirilis ke udara sebesar 20% guys, disusul oleh China di angka 11%, Russia di 7%, Brasil di angka 5% dan Indonesia 4%.
 
Wait, Indonesia made it to the list?
Yep, somebody please tell Pak Jokowi. Jadi, dua negara tropis yakni Brasil dan Indonesia masuk daftar karena produksi CO2 terkait perusakan hutan yang dihasilkan dari areanya termasuk yang terbesar. Pada penelitian kali ini, Carbon Brief emang untuk pertama kalinya memasukkan variabel emisi dari perusakan dan pembakaran hutan ke dalam itungan emisinya. Karena itulah, negara-negara dengan area hutan tropis yang besar (tapi mengalami deforestasi yang parah) masuk daftar, Meanwhile, sebenernya kalo diitungnya dari hasil emisi karbonnya aja, Brasil sama Indonesia bisa jadi enggak masuk.
 
Yha terus kenapa variabel perusakan hutan ini harus diitung?
Karena menurut peneliti Carbon Brief Simon Evans, kita enggak bisa guys, nggak ngitung faktor karbon yang dihasilkan oleh kebakaran dan alih fungsi hutan ke itungan produksi emisi total. Hal ini karena alih fungsi hutan itu berkontribusi sampe 1/3 dari produksi kumulatif CO2 global. Iya, emang sejak akhir abad 19 dan menuju abad 20, hutan tropis di Brasil dan Indonesia berkurang drastis karena beralih fungsi, jadi buat lahan karet, tembakau, hingga kelapa sawit. Nah, efek dari deforestasi inilah yang bikin emisi karbon banyak dihasilkan oleh Indonesia dan Brasil.
 
🙁 Go on…
Tapi guys, meskipun masuk ke daftar negara dengan produksi emisi tertinggi, namun negara-negara kayak China, India, Brasil dan Indonesia menghasilkan efek emisi perorangan yang lebih rendah karena negara-negara ini padat penduduk. Secara kumulatif, populasi dari keempat negara tadi mengisi 42% dari populasi dunia, tapi hanya 23% emisi yang mereka hasilkan sejak tahun 1850-2021. Sebaliknya, sisa enam negara lainnya yaitu AS, Rusia, Jerman, Inggris, Jepang dan Kanada kalo warganya digabung hanya mengisi 10% dari total populasi dunia, tapi emisi yang dihasilkan mereka mencapai 39%.
 
Not making me feel any better though.
Same. Maybe we can start by… encouraging our govt to take climate issues more seriously? Karena emang kayaknya kita lumayan ketinggalan ni gengs dalam hal komitmen terhadap isu lingkungan ini. Jadi masih menurut Carbon Brief, dari kesepuluh negara tadi, baru AS, Inggris, Jerman, dan Kanada yang udah menyampaikan komitmen baru mereka untuk mengurangi produksi emisi karbonnya sebelum Climate Summit (COP 26) digelar akhir bulan ini. Itu juga masih dinilai kurang, kayak misalnya Amerika Serikat yang meskipun udah meningkatkan sumbangan dananya untuk isu iklim ke negara berkembang, namun jumlahnya masih dinilai kecil kalo dibandingin sama besaran emisi yang mereka hasilkan.
 
OK. Anyone saying anything?
Ada Duta Climate Vulnerable Forum (CVF) Mohamed Nasheed yang bilang kalo prinsip utama dari “keadilan iklim” itu harusnya negara penghasil emisi terbesar yang juga mengambil peran utama untuk bertanggungjawab mengatasi permasalahan ini. Dengan adanya hasil analisis ini, maka jelas siapa yang harusnya take on the role, which is yang pertama tentunya Amerika Serikat, disusul Cina dan Rusia.
 
I see…
Terus dalam negosiasi di PBB sebelumnya, negara-negara berkembang juga menegaskan bahwa negara yang jadi tajir karena energi fosil harus mengambil tanggung jawab paling besar dalam menangani climate change ini. Misalnya, dengan memberi anggaran buat pengembangan energi dengan emisi rendah di negara berkembang, hingga mempersiapkan perlindungan dari efek global warming yang kian parah.
 
Got it. Anything else?
Ngomong-ngomong COP26 di akhir bulan nanti, udah terpilih seratus orang sebagai perwakilan masyarakat global yang tergabung dalam Global Citizens’ Assembly. Mereka bakal mewakili berbagai elemen masyarakat kayak NGO lingkungan buat membahas temuan mereka untuk mendukung jalannya summit yang bakal digelar di Glasgow, Inggris nanti gengs.