Pemilu Jerman Kanselir Baru Gantikan Angela Markel

20

Who just said “We got ‘neue’ counchellor”?

Germany.
Yoi, Neue ya gengs, bukan Neuer, apalagi Manuel Neuer. Neue is German for new, and we are referring to kanselir baru Jerman yang bakal menggantikan kanselir sebelumnya, Angela Merkel yang udah menjabat selama 16 tahun. Yep, pada pemilu federal Jerman yang digelar Hari Minggu kemaren, Merkel memutuskan untuk enggak kembali mencalonkan diri, dan bilang bahwa udah saatnya Jerman “membuka chapter baru”.
 
Whoaa terus…
Nah terus, hasil pemilu kemarin menunjukkan bahwa Partai centre-left Social Democratic Party (SPD) meraih suara terbanyak di pemilu federal sebesar 25,7%, beda tipis sama partainya Angela Merkel, Christian Democratic Union (CDU) sebesar 24,1%. Hasil ini tentunya bikin SPD happy dan CDU sedih, secara ini adalah hasil terendah yang diraih CDU pasca perang dunia kedua.
 
I need more background on German election please.
You got it. Jadi, setiap eligible voter di Jerman menggunakan hak pilihnya sebanyak dua kali gengs. Pertama, buat milih anggota parlemennya, kedua buat milih partainya. Nah, pada pemilihan pertama, warga bakal milih langsung anggota parlemen di dapilnya, dan ada 299 distrik pemilihan di Jerman. Di pilihan kedua, mereka bakal milih partai apa yang didukung. Apakah CDU/CSU, SPD, atau partai lainnya kayak Green Party atau Free Democratic Party (FDP). Nah, tapi nih, kalo satu partai gagal dapet 5% suara di pemilihan partai, maka para anggota parlemen yang terpilih dari partai tersebut otomatis gagal juga buat menduduki parlemen gengs.
 
Whoa, terus kursinya ke mana dong?
Kursinya bakal dialihkan ke partai-partai dengan suara terbanyak di pemilihan partai instead of dikurangin. Karena itulah, jumlah kursi parlemen bahkan bisa lebih dari 299, tergantung “pendapatan ” kursi dari partai-partai peraih suara terbanyak. Kayak di pemilu federal tahun 2013, pas Merkel kembali menang, jumlah kursi parlemen akhirnya mencapai lebih dari 600.
 
Got it. Now onto Merkel’s successor, who is it gonna be?
Jawabannya adalah: belom pasti. Karena, sistem pembentukan pemerintahan di Jerman emang agak rumit ni gengs. First, kita omongin soal hasil pemilihan partai dulu deh ya. Jadi, udah dijelasin di awal kalo SPD memimpin dengan angka 25,7%. Meskipun begitu, belom pasti kalo SPD bakal memimpin Jerman dengan menjadikan Olaf Scholz, selaku kandidat kanselirnya, sebagai pengganti Merkel.
 
Kenapa gitu?
Karena, untuk jadi kanselir di Jerman itu harus didukung oleh suara mayoritas di parlemen. Artinya, kandidat tersebut harus memiliki dukungan lebih dari 50% untuk maju sebagai kanselir dan untuk partainya supaya bisa membentuk pemerintahannya sendiri. Karena itulah, partai-partai ini harus koalisi sama partai lain sampe jumlah pendukungnya mencapai angka mayoritas gengs. Bahkan bisa jadi ni, SPD malah jadi oposisi pemerintahan nantinya kalo partai-partai lain membentuk koalisi di luar SPD dan berhasil memenuhi kuota kursi mayoritas. Jadi, pembentukan pemerintahan ini bisa memakan waktu mingguan, bahkan sampe berbulan-bulan.
 
Sounds complicated…
Yep, just like the language (LOL). FYI, Selain SPD dan CDU, dua partai lainnya yang juga meraih suara lumayan banyak adalah Green Party (Greens) dengan perolehan suara 15% dan Free Democratic Party (FDP) 11%. Jadi, ini semua emang masih tergantung lobi-lobian partai sih, dan nanti koalisinya kayak apa. FYI, selama kanselir baru belum terpilih, Merkel bakal tetap menjabat gengs, ga akan ujug-ujug mundur.
 
Hmmm. Anything else?
Menurut Politico, ada beberapa alasan ni kenapa akhirnya SPD bisa menang dari CDU. Pertama, SPD banyak ngebahas soal isu krisis iklim ni, dan ternyata masyarakat Jerman ngeliat isu tersebut lebih penting diangkat ketimbang isu pandemi covid yang dibawa oleh CDU. Selain itu, diketahui juga masyarakat lebih dukung Olaf Scholz ketimbang kandidat dari CDU, Armin Laschet. Disebutkan juga bahwa para pemilih perempuan yang tadinya memilih CDU karena Merkel, banyak yang pindah jadi pemilih Scholz.