Pemimpin Junta Militer Jadi PM Myanmar

35

Who run the world? Girls. Who run Myanmar?

The military.
 
Update terbaru dari rusuh-rusuh di Myammar ni guys, Hari Minggu kemarin, pemimpin junta militer Myanmar Min Aung Hlaing mengumumkan bahwa dirinya adalah Perdana Menteri negara tersebut.
 
LAH emang sebelumnya bukan?
Bukan. Jadi doi aja tuh sebenernya melakukan kudeta atas pemerintahan sah-nya kelompok demokrasi yang dipimpin sama Aung San Suu Kyi. Terus update terbaru kemaren nih, selain mengumumkan bahwa dirinya adalah perdana menteri di Myanmar, doi juga bilang kalo pemilu bakal digelar pada tahun 2023 mendatang.
 
Hold on. I need some background.
OK. Jadi guys, emang Myanmar ini udah lama dalam kondisi genting karena kudeta yang dilakukan oleh kelompok militer pimpinan Aung Hlaing bersama jajaran kelompok militernya pada Februari lalu. Jadi kudetanya dilakukan terhadap pemerintahan prodemokrasi, dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, yang udah secara sah memenangkan pemilu setahun sebelumnya.
 
Kenapa mereka melakukan kudeta deh?
Karena waktu itu alasannya adalah kelompok prodemokrasi melakukan pemilu curang, jadi yha pemilunya harus diulang lagi. Terus Suu Kyi juga menjadi tahanan rumah dengan berbagai tuduhan, termasuk di antaranya kepemilikan walkie talkie ilegal (don’t ask us why….). Nah sejak saat itu, kondisi di Myanmar memanas, dengan turunnya para warga ke jalan yang menuntut supaya kepemimpinan lama dibalikin lagi. Kan w nggak milih u. Gitu lah kira-kira kata para peserta aksi protes guys.
 
I see…
Nah seiring dengan berjalannya waktu, the clashes turned violent, dengan ratusan orang meninggal dan ribuan orang ditangkap polisi. Para warga tetep minta supaya kelompok militer turun dan membebaskan pemimpin mereka yang sah. Meanwhile, dari awal kudeta, kelompok militer udah bilang bahwa mereka bakal mengambil alih kepemimpinan dan menggelar pemilu dua tahun lagi. Nah kemarin itu diumumin lah bahwa dua tahun lagi adalah pada Agustus 2023.
 
So, is everybody happy with that?
Of course not. Warga maunya ga ada pemilu lagi dan yaudah pemimpin lama aja dibalikin. Selain itu, 2 Agustus 2023 dinilai ngaret setengah tahun lebih, karena klo diitung dari awal kudeta, which is 1 Februari 2021, maka kan harusnya pemilu-nya digelar Februari lagi, gitu.
 
Got it. 
Yep, selain ngomongin soal pemilu, Hlaing juga bilang bahwa pihak pemerintahannya sekarang siap kerja sama dengan special envoy aka pihak yang ditunjuk ASEAN untuk mengakhiri kekerasan di Myanmar. Kemarin, emang para Menlu ASEAN udah meeting untuk bahas soal special envoy ini, dan so far udah ada utusan dari Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang jadi kandidat sebagai pihak penengah antara ASEAN dengan Myanmar.
 
Now tell me more about this special envoy…
Nah, emang para pemimpin ASEAN lagi under pressure banget, karena udah enam bulan berlangsung dan belum ada progres yang signifikan di konflik Myanmar. Dalam keterangan resminya kemarin, Menlu Bu Retno Marsudi bilang bahwa perkembangan ini nggak baik, dan Myanmar harus buru-buru meng-acc special envoy yang diajukan sama ASEAN. Kata Bu Retno, special envoy ini harus bisa dapet full akses ke para pihak yang berkonflik, termasuk para kelompok prodemokrasi yang sekarang masih pada di penjara. Sejauh ini sih belum ada pengumuman resmi yang ditunjuk ya guys, tapi kata Hlaing, mereka maunya sama orang Thailand, aja, tapi ya ASEAN punya beberapa proposal nama lain, jadi kita liat dulu.
 
OK. Anything else?
Time is running out, bapak-bapak dan ibu-ibu. Sebagai organisasi multinasional kawasan, ASEAN sebenernya udah lama mendapat kritikan baik dari komunitas internasional maupun warga Myanmar sendiri yang meminta supaya kalompok tersebut melakukan aksi lebih terhadap konflik di Myanmar. Namun yha tentu saja hal ini terbentur sama prinsip non-intervensi yang diterapkan oleh ASEAN terhadap para negara anggotanya. Meanwhile, kondisi konflik di Myanmar makin parah, apalagi pada kondisi pandemi gini. Banyak warga yang nggak mendapat akses kesehatan karena emang layanan masyarakat banyak yang terhenti, hingga menyebabkan banyak kematian.