7 Gereja Katolik di Kanada Dibakar

51

What’s also on fire?

Some churches in Canada.

Really? 
Yep. Bukan karena kena heat wave atau apa, tapi emang kemungkinannya dibakar gengs. Menurut pihak kepolisian Kanada, sudah ada tujuh gereja katolik di Kanada yang terbakar dalam beberapa waktu terakhir ini, dan mayoritas terletak di wilayah teritorial suku native.
 
Kok bisa? 
No one knows yet.  api, banyak yang berpendapat bahwa kejadian tersebut terjadi akibat adanya penemuan kuburan tak bernisan di lokasi bekas sekolah asrama anak First Nations (suku asli Kanada) di Marieval Indian Residential School, last week.
 
Yang waktu itu itu? 
Nope, beda lagi gengs. Yang pertama kali ditemukan itu, sekolahnya terletak di provinsi British Columbia, and you can catch up! here on the issue.  Nah, minggu lalu, ditemukan lagi nih kuburan tak bernisan dari 715 orang lagi di provinsi Saskatchewan, dan kabarnya, kuburan anak-anak juga. Secara keseluruhan, komunitas masyarakat adat di Kanada sudah menemukan hampir SERIBU kuburan tak bernisan yang diduga milik anak-anak suku asli di seluruh Kanada. To make it worst, pihak otoritas berwenang masih belum tahu bagaimana anak-anak suku asli tersebut meninggal :(.
 
Wait, kok bisa banyak gitu? 
A lil history review, jadi sejak tahun 1880, Kanada telah mendanai sekitar 150 sekolah asrama yang dikelola oleh gereja katolik untuk ‘mengasimilasi’ (baca: meng-cultural genoside) anak-anak suku asli ke ‘masyarakat Kanada’ yang membawa agama katolik. Jadi kan sebelum bangsa Eropa dateng ke Kanada, negara tersebut dihuni oleh para suku asli, ada First Nations, Inuit, dan Metis dan menjalankan praktek kepercayaan yang berbeda-beda, tapi umumnya bersatu dengan alam dan sangat menghormati leluhur. Nah setelah datangnya para warga kulit putih ke sana, prahara deh tu. Selain tanah dan sumber pangannya diambil paksa, anak-anak dari suku asli ini juga diambil paksa dari orang tuanya dan ditaro di sekolah asrama, namanya residential school, untuk belajar hal yang kebarat-baratan. Mulai dari namanya diganti, ga boleh ngomong pake bahasa asli sukunya, ga boleh pake baju sukunya, sampe ga boleh ketemu keluarganya. Pemerintah Kanada waktu itu juga terkenal dengan semboyan “Kill the Indian, save the man,” untuk menjustifikasi kebijakan ini. Menurut mereka, yha anak-anak Indian udah ga boleh lagi tu hidup sesuai dengan budayanya, pokoknya hidup mereka harus kebarat-baratan.
 
IDIH.
Yep, but it happened, guys. Jadi tercatat, ada lebih dari 150,000 anak suku asli Kanada dipaksa masuk ke residential school, dan dari total anak-anak yang masuk asrama, setidaknya 4,000 anak nggak pernah balik ke rumah mereka.  Orang tua mereka juga nggak diberi penjelasan kenapa mereka nggak pulang. FYI, kebijakan ini  berjalan sema 113 tahun, dan setelah kebijakan ini berakhir, sekolahnya kemudian ditutup (sekolah terakhir ditutup pada tahun 1996) namun tetap aja belum ada penjelasan kemana anak-anak yang nggak pulang tadi. Nah, belakangan ini, kuburan-kuburan tanpa nisan tersebut baru ditemukan di gereja tempat sekolah tersebut dulunya berada.
 
So sad…and? 
Berdasarkan laporan awal, ditemukan bahwa anak-anak tersebut diduga menjadi korban kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional.  Terus, ada juga laporan yang mengatakan bahwa para pendeta (STOP HERE! the detail would probably too gruesome to read this early in the morning) di sekolah-sekolah tersebut juga menghamili murid-murid perempuan, dan membakar bayi-bayinya setelah dilahirkan.  Terus, mereka mengubur korban-korban tersebut di halaman sekolah untuk hemat uang.
 
That’s why gerejanya dibakar? 
Belum tahu gengs.  Menurut anggota kepolisian Kanada (RCMP) Kopral Sheldon Robb, mereka masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.  Namun menurut mereka, kebakaran yang terjadi kemungkinan terjadi secara disengaja. FYI, gereja-gereja yang dibakar itu juga rata-rata udah dibangun sejak seabad yang lalu, bersamaan dengan pembukaan residential school tadi.
 
Got it. Anything else?
Terkait penemuan kuburan para native children ini, pemerintah Kanada udah berjanji untuk membantu komunitas masyarakat adat untuk healing dan mencari fakta sebenarnya. Selain itu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga bilang bahwa doi udah mendesak Paus Fransiskus untuk menyampaikan permintaan maafnya atas pelibatan gereja katolik dalam praktek kebijakan ini, namun so far, Vatikan belum menyampaikan permintaan maaf. Meski begitu, Paus Fransiskus bakal bertemu sama perwakilan dari para native tribes untuk mendiskusikan lebih jauh soal kasus ini. FYI guys, sistem residential school ini ga cuma dilakukan di Kanada, tapi juga di Amerika Serikat (with a possibly waaaay larger scale). Anggota Kongres keturunan Native American pertama, namanya Deb Haaland juga lagi memperjuangkan rekonsiliasi dan penyelidikan terhadap praktek yang sama di negaranya.