Minggu Lalu, 215 Jasad Anak-anak dan Balita dari Suku Asli Kanada Ditemukan Terkubur di Bawah Bangunan Sekolah Asrama Katolik di British Columbia, Kanada, Tindakan Kekerasan Terhadap Pembela HAM Atas Lingkungan di Indonesia tahun 2020 Mengalami Peningkatan, Pemerintah Memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per Kemarin Sampai 14 Juni 2021 Nanti, China Perbolehkan Satu Keluarga Memiliki 3 Anak Demi Memperbaiki Struktur Populasi dan Menyeimbangkan Jumlah Penduduk Tua yang Semakin Banyak

59

Good morning! 


Hope you had a good rest during yesterday’s off day. Now, as you’re starting the morning, we’re gonna Catch you Up! with some sad news from Canada, human rights, nation-wide PPKM, to China. Or, if you prefer it in audio, listen up! Here. Have a nice day.

Now, let’s start with… Canada native graves.

(Caution! Before you proceed, the following news might be distressing, disturbing and too gruesome to read this early in the morning. You can skip this part and come back again later. Remember, we’re always here, in your inbox).
 
But, if you want to continue…
Guys, sedih banget deh. Jadi minggu lalu, pihak yang berwenang di Kanada menemukan total 215 jasad anak-anak dan balita (paling muda usia 3 tahun!) dari suku asli Kanada yang terkubur di bawah bangunan sekolah asrama Katolik bernama Kamloops Indian Residential School di British Columbia, Kanada.
 
Background please. 
So, a little history lesson here, jadi emang sebelum orang-orang kulit putih dari Eropa dateng ke Kanada, negara itu dihuni oleh suku asli atau indigenous people yang dikenal sebagai “First Nations”. Yhaaa kayak suku Native Americans di Amerika Serikat gitu guys. Namun, seiring dengan datangnya para White Settlers, orang-orang suku asli juga mengalami berbagai penindasan. Kayak tanahnya dirampas, orangnya dibunuh, kebudayaannya diberangus, pokoknya berbagai macam pembantaian dan (uhukkk… genosida) yang bikin jumlah populasi para First Nations ini menurun drastis. Nah, salah satu cara untuk memberangus kebudayaan para indigenous people adalah adanya residential schools tadi.
 
Kayak apa tuu…
Kayak sekolah asrama, yang dikelola oleh gereja. Jadi pada masanya, anak-anak suku asli ini diambil paksa dari keluarganya untuk sekolah di residential school. Tujuannya sih, untuk mengasimilasikan anak-anak suku asli dengan budaya Barat. Namun pada faktanya, mereka benar-benar dicabut dari kebudayaannya sendiri, kayak nggak boleh ngomong pake bahasa sukunya, ga boleh mempraktekkan kebudayaannya, sampe rambut aja harus pendek buat murid cowok. Padahal di kebudayaan orang-orang suku asli di sana, rambut panjang adalah simbol kedewasaan mereka.
 
Terus…
Selain itu, dilaporkan juga bahwa di sekolah-sekolah ini banyak terjadi aksi physical, mental, dan sexual abuse. Menurut penyelidikan pihak setempat, banyak anak-anak suku asli yang meninggal di sekolah karena terkena penyakit, menjadi korban pelecehan fisik yang parah, korban pemerkosaan, korban kekurangan gizi, dan korban kejahatan lainnya. Selain itu sepanjang beberapa tahun terakhir ini, otoritas Kanada juga mencatat bahwa ada lebih dari 4.100 anak yang meninggal di sekolah-sekolah tersebut. Jumlah ini belum termasuk  jasad yang baru ditemukan minggu kemarin itu. FYI guys, sejak abad 19 sampe sekitar tahun 1996, jumlah sekolah sejenis ini ada 130-an di seantaro Kanada.
 
Now tell me more about that school…
OK. Jadi sekolah yang bernama Kamloops Indian Residential School ini merupakan residential school terbesar di Kanada yang dikelola oleh Gereja Katolik (atas nama pemerintahan Kanada) sejak tahun 1890 sampai 1969. Sekolah tersebut kemudian ditutup pada tahun 1978, dan menurut otoritas setempat, jasad anak-anak yang ditemukan itu adalah jasad siswa dari sekolah Kamloops ini.  In fact, udah ada data resmi yang mencatat bahwa emang ada 50 kematian di sekolah itu, tapi ternyataa jumlahnya lebih.
 
Crazyyy… 
Yes.  FYI, sistem sekolah kayak di Kamloops ini udah lama dikritik oleh banyak orang, dan udah ditutup juga. Adapun residential school yang paling terakhir ditutup adalah Gordon Residential School, di tahun 1996.
 
OK.. Anyone said anything?
Yep, Pemimpin dari persatuan para First Nations Perry Bellegarde kemudian menyerukan pada Perdana Menteri Justin Trudeau untuk melakukan investigasi terhadap penemuan ini karena bener-bener ga diketahui banget nih, identitas, sampe pelaku dari pembunuhan ini siapa. Selain itu, Perry juga bilang bahwa kalo kejadian kayak gini terjadi di Kamloops, maka tentunya terjadi juga di sekolah lain 🙁
 
Kalo dari pemerintah ada komentar?
Ada. Jadi Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan bahwa penemuan tersebut adalah catatan gelap dan memalukan dari sejarah Kanada. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Kanada berpihak dan mendukung keberadaan suku asli Kanada dan akan memberikan bantuan kepada mereka hingga bisa pulih dari trauma masa lalunya. Selain itu, Trudeau juga mengatakan bahwa perlu ada investigasi dan bahwa pemerintah Kanada berkomitmen terhadap proses rekonsiliasi dan berkomitmen terhadap terungkapnya kebenaran. FYI guys, statement ini kemudian menuai kritikan dari netijen karena yhaa bukan “sejarah” juga ya, karena penutupannya baru 1996 banget.
 
OK. Anything else?
Penemuan ini membuat pembahasan terkait penindasan dan genosida yang dilakukan oleh negara-negara barat kayak Amerika Serikat dan Kanada terhadap penduduk asli atau native kembali mencuat. Pasalnya, walaupun kebijakan udah berubah, namun hingga saat ini, kebanyakan indigenous people di kedua negara tadi masih hidup dalam kemiskinan, depresi, dan suicidal rate yang tinggi.

When things are getting worse…

For Environmental Human Rights Defenders. 
 
Who? 
Pembela HAM atas lingkungan gengs. Yep, jadi menurut laporan monitoring ELSAM (lembaga studi dan advokasi masyarakat), tindakan kekerasan terhadap pembela HAM atas lingkungan di Indonesia pada  tahun 2020 mengalami peningkatan.
 
Really? 
Yep. Sepanjang tahun 2020, ELSAM mencatat ada 60 kasus kekerasan terhadap pembela HAM atas lingkungan.  Adapun korbannya mencapai 178 korban individu, dan 21 korban kelompok. FYI, pembela HAM atas lingkungan itu maksudnya orang-orang yang berusaha melindungi lingkungan/alam, sekaligus melindungi hak asasi manusia.
 
I see, siapa yang melakukan kekerasan? 
Menurut laporan mereka, ada 108 aktor pelaku kekerasan terhadap pembela HAM atas lingkungan, yang terdiri dari pemerintah, perusahaan atau lembaga lain. Adapun pihak yang paling sering diadukan adalah negara (72 aktor), dan aktor non-negara sebanyak 36 aktor.  Dari pihak negara, yang paling sering diadukan adalah polisi sebanyak 60 kali, sedangkan di aktor non-negara, perusahaan mendapatkan peringkat pertama yang paling sering diadukan, yaitu sebanyak 28 orang pelaku kekerasan.
 
Whooaa emang mereka ngapain? 
Yha melakukan dugaan pelanggaran HAM. Jadi setidaknya, para aktor pelaku kekerasan tadi melakukan 65 tindakan pelanggaran HAM, dan yang paling sering dilakukan adalah tindakan penangkapan (20 tindakan), dan pembunuhan (2 tindakan).
 
I see… 
Nah guys, berdasarkan hasil monitoring ELSAM juga, diketahui bahwa terjadi kenaikan tingkat kerentanan pembela HAM atas lingkungan di tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019. Jumlah kasusnya di tahun 2019 terdapat 27 kasus, sedangkan di tahun 2020 naik menjadi 60 kasus. Selain itu, jumlah korban individu  juga meningkat, contohnya aja di tahun 2019 terdapat 128 korban individu, dan di tahun 2020 mencapai 178 korban individu. Terus, jumlah aktor pelaku dugaan pelanggaran HAM (negara dan non-negara) juga meningkat, di tahun 2019 sebanyak 50 aktor, dan di tahun 2020 menjadi 108 aktor.
 
Banyak ugha ya…anything else? 
Yep lumayan banyak.  FYI, korban-korban tersebut termasuk kelompok petani, masyarakat adat, mahasiswa, nelayan, aktivis, jurnalis, akademisi, dll.  Selain itu, aksi-aksi protes yang dilakukan warga meningkat di daerah rural. ELSAM menilai bahwa kerja-kerja perlindungan pembela HAM atas Lingkungan ke depannya harus memperhitungkan model perlindungan yang menyeluruh.

When you thought the pandemic is over soon…

Be patient. 

What do you mean?
Karena pemerintah baru aja memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) per kemarin sampai 14 Juni 2021 nanti.
 
Whaaat?
Yep, menurut Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), Airlangga Hartarto, PPKM kali ini bakal dilakukan di seluruh provinsi di Indonesia.
 
Kenapaaaa???
Yha karena Satgas Penanganan Covid-19 mencatat ada penambahan kasus positif per 24 – 30 Mei 2021 yang melonjak, yakni sebanyak 40.821 kasus. Meanwhile, Senin kemarin ada penambahan 5.662 kasus positif, 5.121 sembuh, dan 174 kasus meninggal.  Jadi, in total, kasus di Indonesia sudah mencapai 1.821.703 kasus, 1.669.119 sembuh, 102.006 dalam perawatan, dan 50.578 meninggal.
 
I see…anything new? 
Yep. Jadi Ketua Satgas Penanganan Covid 19, Ganip Warsito meminta Satgas di seluruh daerah untuk menerapkan aturan pemerintah tentang PPKM ini dengan serius. Ganip juga memberikan delapan poin terkait pelaksanaan PPKM Mikro, which are:

  • Satgas untuk lebih gencar melakukan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antara Satgas pusat dan daerah.
  • Satgas daerah untuk berpedoman kepada kesimpulan dan rekomendasi dari Satgas Pusat terkait perkembangan covid-19.
  • Satgas untuk melakukan pengendalian dan kontrol terhadap mobilitas penduduk dari satu daerah ke daerah lain, termasuk tentang kedatangan warga negara asing (WNA) dan memenuhi aturan yang berlaku.
  • Satgas untuk meningkatkan kewaspadaan dengan berkoordinasi ketat antar Kementerian/lembaga dan instansi terkait, termasuk Pemda, TNI/Polri di wilayah. Satgas juga agar mengawasi bandara, pelabuhan, atau lintas batas nasional.
  • Satgas untuk mendorong pelaksanaan protokol kesehatan 3M dan protokol karantina tanpa toleransi.
  • Perpanjangan PPKM Mikro harus diterapkan sesuai dengan Inmendagri.
  • Satgas untuk mengoptimalisasi posko PPKM Mikro.
I see, anything else?
Terkait kebijakan baru ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga meminta Indonesia untuk mewaspadai lonjakan jumlah kasus Covid-19 di Malaysia. Pak Listyo kemudian meminta personel kepolisian untuk melakukan penanganan Covid-19 di perbatasan negara secara ketat.

Who’s making some policy changes?

China.
Yoi guys, kamu tahu nggak, bahwa China adalah negara dengan populasi terbanyak di dunia? Terus, kamu tahu juga nggak, bahwa untuk menekan pertambahan jumlah populasinya itu, sejak tahun 80-an, China punya kebijakan one child policy, di mana satu keluarga cuma bole punya satu anak aja. Nah di tahun 2015, jumlahnya bertambah jadi dua, dan minggu lalu banget nih, pemerintah meningkatkan batasannya menjadi tiga. Meaning, sekarang tiap keluarga di China udah boleh punya tiga anak.
 
Selain meningkatkan caps jumlah anak tadi, pernyataan resmi dari Presiden Xi Jinping juga bilang bahwa pemerintah bakal memberlakukan berbagai kebijakan yang mendukung peningkatan jumlah populasi China demi memperbaiki struktur populasi dan menyeimbangkan jumlah penduduk tua yang makin banyak (aging population). Adapun bantuan kebijakan ini berupa subsidi untuk biaya pendidikan, bantuan beli rumah dan keringanan pajak buat keluarga, memastikan perlindungan hukum buat kaum perempuan yang kerja, sampe mengurangi praktek mahar yang mahal banget yang bikin pengantin susah untuk menikah. Selain itu, pemerintah juga bakal mengkampanyekan “pernikahan dan cinta” untuk para anak muda.
 
FYI guys, hasil sensus penduduk yang dilakukan tahun ini emang menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi China saat ini adalah yang paaaaling slow sejak tahun 1950an. Hal ini tentunya mendatangkan kepusingan baru buat pemerintah, kayak makin banyaknya generasi tua, gender imbalance (karena pas cuma boleh punya satu anak itu, banyak orang tua yang mengaborsi kalo anaknya cewek), hingga anak muda yang makin enggan untuk punya anak banyak.

“Kenyataannya adalah mal, sinema, dan semua tempat kerja sudah dibuka untuk tatap muka. Jadi sudah saatnya sekolah-sekolah kita melakukan tatap muka terbatas,”
 
Gitu guys kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim pas ngomongin soal pemukaan kembali sekolah bersama DPR RI Senin kemarin. Kata Mas Nadiem, sebenernya sekolah-sekolah udah diperbolehkan melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas sejak Januari 2021. Namun yha ortu bebas aja, mau bolehin anaknya ke sekolah apa enggak.
 
Back to school has never been this exciting….

Catch Me Up! Recommendations

It’s been so…..hot lately here near Catch Me Up! HQ. So, since sunscreen will soon be your best friend, here are some things to get to know more about ’em. Welcome, welcome, summer time.

Announcement


Thanks to Tata for buying us coffee yesterday!

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click hereAtau, kalo kamu mau beli merchendise resminya Catch Me Up! kamu juga bisa belanja-belanji di sini. Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kami kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Angel’s Stories

1. Naik angkot ke daerah Tanah Abang dan jujur clueless banget karena belum pernah naik angkot sebelumnya. Pas mau turun, baru tahu kalau ternyata sekarang bayar angkot pake kartu Flazz dan pas coba pake kartu Flazz aku ternyata gak bisa, pas udah kebingungan, tiba-tiba ada bapak-bapak kasih Flazznya ke supir angkotnya terus bilang punya aku dibayar dia aja. Walaupun gak seberapa, tapi hati langsung lega. Thanks a lot for your help, Pak!
-Udah pernah naik angkot-
 
2. Senin pagi aku sebagai pejalan kaki lagi nyebrang lewat zebra cross di salah satu jalan besar di Jabodetabek. Pas lagi nyebrang, aku ditabrak motor sampai kepental dan laptopku juga. Untungnya Tuhan masih menyelamatkan nyawa aku dan 3 mas-mas pengendara motor. Bener-bener bersyukur banget karena Tuhan masih sayang <3
-Mahasiswi tingkat akhir-
 
(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. You can also check our previous angel stories on our angel’s Instagram. Go go go!