WHO: Kerja Terlalu Lama Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Bahkan Sampai Menyebabkan Kematian

118

When you’re a workaholic… 

Beeee really careful about your health.
 
Kenapa emang?
Karena baru aja nih, World Health Organizaion (WHO) menyatakan bahwa kerja terlalu lama aka overwork bisa meningkatkan risiko penyakit, bahkan sampai menyebabkan kematian bagi ratusan ribu orang per tahunnya.
 
Seriously?! 
Iya. Berdasarkan studi yang dipublikasi oleh Jurnal Environment International, diketahui bahwa orang yang kerja lebih dari 55 jam setiap minggunya mempunyai sekitar 35% risiko kena stroke dan 17% risiko meninggal karena penyakit jantung.  Risiko tersebut lebih tinggi dibanding orang-orang yang bekerja sesuai dengan standar normal yaitu antara 35 – 40 jam per minggu.
 
35-40 jam itu sekitar berapa yaa per hari?
Yhaa jam kerja normal 9 to 5 guys. Jadi kalo kamu mulai kerja lebih lama dari itu, hati-hati ya…
 
Uh-oh…go on…
Nah, menurut Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus “No job is worth the risk of stroke or heart disease” jadi ia menganjurkan agar pemerintah, bisnis, dan pekerja untuk mencari cara-cara melindungi kesehatan pekerja. Studi tersebut juga menjelaskan bahwa di tahun 2016 terdapat 488 juta orang yang terekspos ke risiko-risiko akibat durasi kerja yang lama banget.  Di tahun yang sama, secara keseluruhan, lebih dari 745.000 orang meninggal akibat kerja lembur yang mengakibatkan stroke dan penyakit jantung.
 
That’s a lot…
Agree. Selain itu, studi tadi juga melibatkan International Labour Organization (ILO) dan dilakukan antara tahun 2000 – 2016.  Nah, selama tahun 2000 sampai 2016, angka kematian akibat penyakit jantung naik 42% dan dari stroke juga naik menjadi 19%. Btw, studi ini belum membahas kondisi kerja selama pandemi.
 
Emang kenapa kalau pandemi? 
Meskipun belum dibahas secara lebih jauh di studi ini, menurut WHO, pandemi menyebabkan orang-orang bekerja lebih lama. Hal ini karena banyak industri yang nggak bisa membatasi antara pekerjaan sama rumah, apalagi kalo kamu WFH.  Selain itu, banyak perusahaan yang terpaksa mengurangi karyawannya, alhasil karyawan yang nggak kena ‘cut’ harus kerja lebih lama.
 
I see, anything else?
Studi ini juga menunjukkan bahwa laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi, utamanya mereka yang tergolong middle-age or older. Terus secara wilayah, orang-orang di Asia Tenggara dan Pasifik Barat mempunyai risiko paling tinggi terpapar overwork ini. Meanwhile, orang-orang di Eropa mempunyai risiko yang paling rendah.
 
Bye, we’re moving to Europe…