WHO : Jumlah Kasus Corona dan Kematian Akibat Corona Mulai Menurun di Berbagai Daerah, Kemenpan-RB Menyiapkan Sanksi Bagi ASN yang Tetap Pulang Kampung Selama Mudik Dilarang Tanggal 6 – 17 Mei, Jaksa Agung dari 44 Negara Bagian di AS Mengirim Surat ke Facebook Agar Membatalkan Rencana Mereka Untuk Membuat Instagram Anak di Bawah Umur 13 Tahun, aka Instagram for Kids, Obesitas dan Tekanan Darah Tinggi di Usia Dini Akan Mempengaruhi Performa Kognitif aka Proses Berpikir Kita

89

Hi there,

Idul Fitri is tomorrow, so… we will enjoy as much ketupat, opor, sambel goreng ati, and kue kering as possible. And here’s the list of things we won’t do on Idul Fitri:
1. Gathering with a lot of people
2. Answering to “kok belum nikah?” questions
3. Sending emails

But, in case you wanna impress your family about how knowledgeable you are about Israel-Palestine conflict, you have to listen to this. Finally, 

Have a blessed Idul Fitri and see you again on Friday!


For when you want to start the long weekend with good news…

Covid-19 cases are declining worldwide.

 
Whooaa seriouslyy??
Yep. World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa jumlah kasus corona dan kematian akibat corona udah mulai menurun di berbagai daerah, kayak Eropa dan Amerika.
 
Yeay!!!
Yep, hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pada saat rapat di Jenewa, Swiss, Hari Senin kemarin. Namun tetep aja, walaupun angkanya udah turun, jumlah kasusnya tetap tinggi. Beliau menyebut bahwa so far, ada 5.4 juta kasus baru dan 90.000 kematian global dalam beberapa minggu terakhir. Menurutnya, yha angka kasusnya masih tinggi.
 
Terus terus…
Dalam kesempatan yang sama Mr. Tedros juga ngasih peringatan supaya tren yang terjadi pada tahun lalu nggak kembali terulang. Nah tren-nya ini, apalagi kalo bukan pelonggaran protokol kesehatan dan nggak jaga jarak. Menurutnya, tahun lalu, ketika protokol kesehatan udah dilonggarkan, kasus corona malah naik lagi. Doi juga mengatakan bahwa pemerintah terlalu cepat melakukan pelonggaran. Contohnya kayak India, di mana saat ini, kasus Covid-19nya justru makin parah.
 
Tell me more about the declining cases…
Oh iya, soal berkurangnya kasus, Menurut Mr Tedros, program vaksin yang udah digulirkan oleh banyak negara emang berhasil menurunkan jumlah kasus positif corona yang akut. Tapi nggak semua negara punya akses terhadap vaksin tersebut.  Untuk itu, adanya ketidakseimbangan distribusi vaksin adalah challenge paling tinggi dalam menghentikan pandemi.
 
Beda jauh ya jumlah vaksinnya?
Iya.  Masih menurutnya, negara-negara dengan pendapatan lebih tinggi, udah mendapatkan 83 persen vaksin. Sementara itu, negara-negara miskin baru menerima 17 persen vaksin. FYI, negara-negara maju itu sekitar 53 persen dari total populasi dunia, sedangkan negara miskin terdiri dari 47 persen.
 
Terus gimana?
Mr. Tedros menyarankan supaya setiap pemerintah tetap berupaya untuk menurunkan jumlah kasus Covid-19 di negaranya. Terus, meskipun jumlah kasusnya menurun, bukan berarti kita boleh jalan-jalan tanpa masker, nggak jaga jarak, dll, apalagi kalo kamu belum divaksin. Jadi, sementara ini, tetap jaga protokol kesehatan, karena nanti juga bakal datang waktunya kita nggak perlu pake masker lagi kok.
 
Pleaseee comeeee sooon….

For when you’re an ASN and still going for mudik…

Be careful for punishment.
 
Punishment from whom?
From Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).
 
Really?
Yep, jadi kemarin, Kemenpan-RB menyampaikan bahwa pihaknya udah menyiapkan sanksi bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tetap pulang kampung selama mudik dilarang dari tanggal 6 – 17 Mei.
 
Wah, apa sanksinya?
Menurut Deputi bidang Kelembagaan dan Tata Laksana Kemenpan-RB Rini Widyantini, sanksinya udah diatur di peraturan pemerintah tentang Disiplin PNS. Jadi sanksinya itu ada yang ringan, sedang, dan berat. Menurutnya, sanksi ringan itu kayak dikasih teguran aja. Tapi, kalau ASN tetap mudik, sanksinya bisa sedang, atau berat.
 
Go on…
Ok.  Menurut bu Rini, sanksi sedang diberikan untuk ASN yang merugikan instansi atau lingkungan masyarakat. Jadi, jika ada ASN yang mudik dan terbukti menularkan covid-19 di instansi atau lingkungan masyarakat, ASN tersebut bisa dikenakan sanksi sedang, yakni berupa penurunan pangkat.
 
Kalo sanksi berat?
Nha, kalo sanksi skala berat juga bisa diberikan kalo ASN merugikan negara. Misalnya, ASN tersebut melakukan pelanggaran pidana. Untuk membuat laporan tersebut, pelapor harus membuat berita acara disertai bukti-bukti.
 
Kayaknya tetangga gue yang ASN kemarin mudik deh…
Nah, kalo kamu mengetahui bahwa ada ASN yang mudik, padahal misalnya nggak ada kepentingan darurat, maka kamu diminta untuk lapor ke Menpan RB.
 
Caranya?
Melalui situs online. Kemenpan-RB udah menyediakan website untuk melaporkan ASN yang tetap mudik lebaran. Website-nya ini:  lapor.go.id/laporan.  Di situs tersebut, pelapor bisa mengisi jenis pelanggaran, waktu, lokasi, dan instansi ASN yang melanggar tadi.  Don’t worry, kamu bisa merahasiakan namamu sebagai pelapor kok. Setelah mengirim laporan, pelapor diminta untuk mengisi identitas, like KTP, nama lengkap, nomor telepon, dan email.
 
Hmmm I see, what else?
Sejauh ini, Bu Rini bilang bahwa instansinya belum menerima laporan kalau ada ASN yang mudik sejak Kamis (6/5) kemarin. Tapi, pemantauan tetap jalan sih.  FYI, situs tersebut nggak cuma untuk laporin ASN yang mudik, tetapi juga laporan pelanggaran ASN secara umum. Hingga saat ini, situs lapor.go.id sudah menerima 640 ribu pelanggaran ASN.

For when Instagram is going to have IG for kids…

Judges are like… no, don’t. 
 
What are you talking about?
Jadi gengs, jaksa-jaksa agung dari 44 negara bagian di Amerika Serikat pada awal minggu ini baru aja mengirim surat ke Facebook. Isinya, para jaksa itu meminta Facebook untuk meng-cancel rencana mereka yang akan membuat Instagram untuk anak-anak di bawah umur 13 tahun, aka Instagram for kids. 
 
Hah? Emang ada Instagram for kids?
Belum ada, tapi lagi dirancang aja. FYI, batas umur minimum untuk ikutan Instagram yang biasa adalah 13 tahun ke atas. Nah, Instagram for kids ini rencananya akan bisa dipake untuk anak-anak di bawah umur 13 tahun. Terus, Instagram juga berjanji bahwa anak-anak nggak bakal disuguhi iklan-iklan.
 
Tell me more.
Nah, terkait rencana ini, para jaksa yang tergabung dalam the National Association of Attorneys General menyampaikan penolakannya. Menurut mereka, media sosial bisa membuat mental anak-anak tertekan, khususnya bagi anak-anak kecil.  Selain itu, di umur yang masih kecil, belum tentu juga anak-anak ini memahami makna dari ‘privacy’. Intinya, para jaksa menilai bahwa ada banyak alasan mengapa Instagram for kids berbahaya bagi anak-anak. Untuk itu, mereka mendesak CEO Facebook, Mark Zuckerberg untuk ‘lupain aja deh rencananya’.
 
Hmmm I see, any other concerns?
Para jaksa juga menyatakan bahwa menurut riset, kebanyakan pake sosial media juga bisa meningkatkan masalah kesehatan mental. Terus, mereka juga nggak setuju sama aplikasi Instagram for kids yang memperbolehkan pengguna anak-anak untuk chatting sama orang yang nggak dikenal. Menurut para jaksa, mereka masih terlalu muda untuk bisa memahami hal-hal yang bisa mereka dapat secara online, apalagi tentang online relationships.
 
Terus? Any comments from Facebook?
Well, dalam sidang di hadapan kongres bulan lalu, Zuckerberg justru bilang bahwa aplikasinya bisa membantu anak-anak untuk ‘bersilaturahmi’ sama teman-temannya. Selain itu, mereka juga bisa belajar dari konten-konten online yang positif. Lebih jauh, Zuckerberg mengakui bahwa emang ada beberapa isu yang perlu diperhatikan dan dicari jalan keluarnya, misalnya, tentang gimana orang tua bisa mengontrol pengalaman online si anak. Namun teteup aja, Instagram for kids bisa membantu banyak orang. Lagian juga, yha anak-anak juga udah terlanjur online anyway.
 
Hmmm..is that all?
Nope. Facebook juga mengatakan bahwa karena anak-anak udah pada online, jadi Instagram for kids diharapkan dapat memperbaiki kondisi ini dengan memberi orang tua kontrol dan visibilitas tentang apa aja yang dilakukan si anak di platform tersebut.  Selain itu, platform IG for kids juga dibangun melalui konsultasi ke ahli perkembangan anak, keselamatan anak, dan kesehatan mental si anak.
 
I see, anything else?
Yep. FYI, di tahun 2018, para advokat kesehatan masyarakat udah mengecam rencana adanya Facebook Messenger Kids.  Menurut mereka, FB for kids bakal mengekspos anak-anak ke dampak-dampak berbahaya di media sosial.

When you’ve been thinking “healthier lifestyle starts tomorrow”…

Jangan guys.
Justru the earlier, the better. Karena menurut studi terbaru yang dilakukan oleh American Heart Association, diketahui bahwa obesitas dan tekanan darah tinggi di usia dini akan mempengaruhi performa kognitif aka proses berpikir kita (kayak mengingat, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan) di usia 30an, 40an, juga 50an. Berdasarkan studi tersebut, semakin tinggi risiko penyakit yang kita alami di usia dini, maka semakin rendah performa kemampuan kognitif kita di masa depan. Untuk mengetahui hal ini, para ilmuan tadi melakukan studi sejak tahun 1980 terhadap 3.600 anak-anak Finlandia yang berumur 3 – 18 tahun. Nah, anak-anak ini diteliti perkembangannya sejak mereka masih berusia dini, dan di-follow up terus hingga selama 30 tahun. Fast forward, di tahun 2011, udah ada lebih dari 2000 partisipan penelitian yang umurnya berkisar antara 34 – 49 tahun, kemudian mereka diminta mengikuti tes kognitif komputer.
 
Hasil tesnya menunjukan bahwa anak-anak yang sedari kecil udah punya tekanan darah dan kolesterol tinggi, maka memorinya kurang optimal ketika sudah dewasa. Sedangkan mereka yang udah mengalami obesitas sejak anak-anak, performa visual processing speed-nya juga berkurang. Selanjutnya untuk anak-anak yang menderita penyakit gula, tekanan darah, dan kolesterol, diketahui bahwa ingatan mereka kurang optimal, visual processing-nya juga berkurang, dan kecepatan reaksi juga menurun. FYI, objek penelitian ini semuanya adalah orang berkulit putih, jadi masih butuh penelitian lebih lanjut untuk melihat dampaknya terhadap komunitas lain.

“Yang penting kesadaran,”

Gitu guys kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo pas menjelaskan soal kondisi pos penyekatan di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi yang akhirnya jebol karena banyaknya pemudik. Menurut Pak Purnomo, polisi juga nggak bisa maksa balik gitu karena para pemudik bukan pengunjuk rasa, jadi yhaaa kalo persuasi ga jalan, akhirnya dilolosin aja.
 
When there is a will, there is a way…

Catch Me Up! Recommendations

Tired of “Jika tangan tak bisa berjabat, atau tubuh tak bisa bertemu…” on your Idul Fitri greetings? Well, here’s some alternatives. 

Announcement


Thanks to Yang Baca CMU for treating us coffee yesterday!
 

(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click hereAtau, kalo kamu mau beli merchendise resminya Catch Me Up! kamu juga bisa belanja-belanji di sini. Dengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kami kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)


Angel’s Stories

1. Jadi beberapa bulan lalu aku ngilangin buku dosenku. Aku bilang kalau aku akan ganti, tapi beliau nolak dan bilang kalau uangnya dipake buat beli buku yang aku perlu aja, karena harganya juga lumayan mahal. Dua minggu lalu akhirnya diniatin buat ganti beneran bukunya, padahal awalnya uangnya mau aku pake buat nambah tabungan persiapan daftar beasiswa S2. Eh ternyata aku dapet banyak discount pas beli bukunya dan jadinya berkurang lumayan banget. Alhamdulillah. :’) Anyway, mau mohon doanya juga supaya pendaftaran beasiswaku lancar dan aku bisa lolos beasiswanya ya, CMU readers!
-Anonymous-
 
2. When my father passed away, banyak sekali kerabat yang bilang, “Jangan sedih, harus kuat. Jangan nangis, harus bisa jagain mama,” dst. Pada saat itu, kata-kata tersebut memaksa aku untuk memanipulasi emosi aku supaya tidak merasa sedih dan tidak menangis. Hal tersebut secara fisik somehobuat badanku rasanya sakit, mungkin karena terlalu menahan diri. Kemudian ada seorang ibu yang menghampiri aku, mungkin beliau notice aku yang sebetulnya sedih tapi berusaha tegar. Ibu tersebut bilang, “Gapapa kalau mau nangis, itu manusiawi. Ibu juga walau sudah tua begini masih suka nangis kalau ingat almarhum ayah Ibu.” Then I went to the bathroom and cried alone. Setelah itu, aku merasa sangat lega dan merasa ada kekuatan baru. Jadi buat teman-teman semua, kalau ada kerabat yang sedang berduka cita jangan “paksa” mereka untuk kuat dan tidak menangis karena untuk beberapa orang, seperti aku, akan menyalahkan diri sendiri ketika perasaan sedih itu datang and it doesn’t help at all. Untuk ibu yang saat itu “mempersilakan” aku untuk nangis, terima kasih banyak Bu. Kata-kata itu justru yang malah sangat menguatkan sampai saat ini dan membuatku tidak menghakimi diri sendiri atas kesedihan yang aku alami.
-grmr-
 
(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. You can also check our previous angel stories on our angel’s Instagram. Go go go!