Muslim di AS Memboikot Acara White House Eid Celebration Virtual oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden

65

Who’s decided not to come to Halal biHalal in the White House?

The Muslim community in the United States.
 
Why? 
Karena mereka kecewa sama sikap pemerintahan Biden dalam serangan Israel ke Palestina.
 
I need some background. 
OK. Jadi beberapa kelompok advokasi masyarakat muslim di Amerika Serikat memutuskan untuk memboikot gelaran halal bihalal aka White House Eid Celebration yang dilaksanakan secara virtual oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden Hari Minggu kemarin. Alasannya, mereka kecewa sama Pemerintahan Biden yang ‘membantu, bersekongkol, dan membenarkan’ serangan udara Israel terhadap warga Palestina di Gaza.
 
Tell me more.
OK. Jadi hingga saat ini, serangan Israel ke Palestina semakin parah, di mana kemaren banget nih, Israel baru aja mengkonfirmasi bahwa mereka berhasil menghancurkan terowongan sepanjang 15 meter milik Hamas. Tapi ga cuma terowongan bawah tanahnya aja yang ancur guys, namun jaringan listrik dan jalan rayanya juga ambyar. Menurut otoritas setempat, serangan ini merupakan yang paling parah yang dilakukan Israel ke Palestina sejak ketegangan antara kedua belah pihak terjadi di Bulan Ramadan lalu. Mau tau awal mula serangannya gimana? Details here.  
 
I see, terus kenapa Halal bi Halal-nya diboikot? 
Karena Biden dinilai ‘membenarkan’ tindakan Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Menurut Nihad Awad, Executive Director of the Council on American-Islamic Relations (CAIR), mereka nggak bisa merayakan Idul Fitri dengan Pemerintah Biden yang jelas-jelas ‘mendukung’ perbuatan Israel terhadap warga Palestina di Gaza.  Padahal sebelumnya CAIR yang mendorong masyarakat Muslim di AS untuk ikutan acara ‘spesial’ (virtual Eid Celebration) tersebut.
 
Ouch..terus gimana? 
Well, CAIR mengatakan bahwa Presiden Biden punya kekuatan politik dan kewenangan moral untuk menghentikan ketidakadilan. That’s why CAIR mendorong Biden untuk memihak kepada para korban, bukan ke yang ‘menimbulkan’ korban. Selain itu, beberapa pembuat kebijakan di AS yang tergolong progresif, beserta advokat Palestina dan kelompok HAM, sampe model Bella Hadid juga mendorong Presiden AS untuk menekan Israel untuk menghentikan serangan militer mereka. Selain itu, anggota senat asal Vermont Bernie Sanders juga mendorong negaranya untuk nge-review lagi kebijakan AS yang ngasih bantuan militer sebesar US$ 4 Milyar per tahun.
 
Whoaaaa….
Nah, desakan nggak cuma datang dari luar negeri, tapi juga luar negeri. Dalam meeting mendadak yang digelar sama Dewan Keamanan PBB (UN Security Council) pada Minggu kemarin, China meminta Amerika Serikat untuk jangan ganggu-ganggu deh, kalo anggota security councils mau mengambil tindakan dalam konflik ini, mendingan u bantuin cari solusi untuk menurunkan ketegangan di sana. Terus, China juga menawarkan diri untuk menjadi host ‘peace talks’ antara Israel dan Palestina.
 
Lha… terus US ngapain?
Nah ini nih guys, yang bikin banyak pihak kuciwa karena Biden dinilai ‘membenarkan’ serangan Israel terhadap Palestina. Dalam percakapannya via telepon sama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu kemarin, Biden bilang bahwa Israel mempunyai ‘hak’ untuk membela diri (right to defend) dari ‘serangan’ warga Palestina.  Hal ini dikritik oleh anggota-anggota partainya sendiri yang menyatakan bahwa seharusnya Biden menentang serangan yang dilakukan oleh Israel.
 
OK Anything else I need to know?
FYI guys, sejak pindahan ke White House aka jadi presiden, Biden dinilai banyak pihak belum melakukan apa-apa dalam mengubah kebijakan presiden AS sebelumnya Donald Trump yang super keras terhadap Palestina. Yep, di era Trump, AS dengan terang-terangan mendukung  pendudukan Israel di Palestina, mindahin ibu kota Israel (dari Tel Aviv) ke Yerusalem yang masih merupakan tanah Palestina, menghentikan bantuan kemanusiaan AS ke Palestina, sampe mengabaikan hubungan diplomatik sama Palestina. Nah dalam kampanyenya, Biden kerap bilang bahwa kebijakan Trump itu “merusak” dan dangkal, serta doi mendukung solusi dua negara. Tapi ya gitu, now that the conflict has escalated dan dia udah jadi presiden, kebijakan US terhadap Palestina-Israel dinilai masih sama aja kayak pas jaman Trump.