Perempuan Bisa Mendorong Kenaikan Ekonomi Global Secara Signifikan

106

Who’s making a huuuge impact on global economy?

Women. 
 
What? 
Yep. Beneran guys, kalo cewek dikasih kesempatan untuk berkarier atau berkontribusi dari sisi ekonomi dengan kesempatan yang sama dengan laki-laki, maka perempuan bisa mendorong kenaikan ekonomi global secara signifikan. Gak main-main, hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di acara Woman in Tax Selasa lalu.
 
Sounds about right…
Tru’. Menurut Bu Ani, kenaikan ekonomi global dari kesempatan tersebut bisa lebih besar sebanyak US$12 triliun (atau Rp1.743 triliun) di tahun 2025. Meanwhile, total potensi kontribusi perempuan dalam perekonomian mencapai US$28 triliun, jika mereka punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. FYI, angka ini meliputi 26% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
 
Terus terus…
Yhaa dari data ini bisa diambil kesimpulan bahwa kalo semakin banyak perempuan yang terlibat dalam perekonomian, maka besaran perekonomian juga bisa meningkat. Selain itu, Bu Ani juga menyatakan bahwa udah banyak studi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga internasional yang menyatakan hal tersebut, contohnya studi yang dilakukan oleh Bank Dunia, McKinsey, dan World Economic Forum (WEF) and so on. 
 
I see, what else? 
Data ini juga diperkuat dengan riset dari “State of the Global Islamic Economic Report” yang menemukan bahwa pengusaha-pengusaha perempuan juga berpotensi menaikkan PDB dunia hingga US$5 triliun (Rp70 ribu triliun) atau sekitar 3-6 persen. Namun lagi-lagi, syaratnya para pengusaha perempuan ini harus punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. Melihat data-data tersebut, Bu Ani mengatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan sangat penting dan justru bisa menguatkan.
 
Di Indonesia juga? 
Banget. Karena dalam penjelasannya, Bu Ani juga menyebut bahwa 53,76 persen UMKM dimiliki oleh perempuan, dan 97 persen karyawan UMKM adalah perempuan. Untuk itu, kontribusi UMKM pada perekonomian nasional mencapai 61 persen.  Selain itu, mayoritas perusahaan yang dimiliki perempuan juga udah berorientasi ekspor.
 
Clap-clap… truly Kartini Masa Kini.
True. Tapi sayangnya, kata Bu Ani, hingga sekarang posisi tinggi di sebuah organisasi masih banyak diisi oleh laki-laki dibanding perempuan.  Hal ini diduga karena perempuan mempunyai beban ganda yaitu pekerjaan di kantor dan pekerjaan domestik (rumah tangga). Terlebih lagi, pekerjaan perempuan 1,8 kali lebih rentan terhadap krisis dibanding laki-laki. Menurutnya hal ini perlu diteliti lebih lanjut, apakah peran perempuan menurun ketika harus menghadapi kehamilan dan mempunyai anak.
 
Speaking about more women in higher position… you might wanna check out our CEO’s latest piece on “Why do we need more women in our newsroom”. Click, clack.