PBB: Myanmar Semakin Mencekam dan Hampir Sama Seperti Perang Sipil di Suriah 2011

96

For when things are getting worse in Myanmar…

Still? 
Yep, malah makin parah guys. Jadi kemarin, pejabat HAM PBB Michelle Bachelet bilang bahwa apa yang terjadi di Myanmar saat ini udah mencekam banget, dan mirip-mirip sama perang sipil yang terjadi di Suriah tahun 2011 lalu.
 
Seriouslyyyyy?
Iya. Karena itulah Bachelet mendesak negara-negara anggota dewan HAM PBB untuk segera mengambil langkah konkrit demi menghentikan aksi represi yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap warganya sendiri. Adapun seruan ini disampaikan setelah terjadi lagi bentrokan antara demonstran dan pihak militer di kota Bago, minggu lalu. Bentrokan tersebut menewaskan 82 orang dan memaksa ratusan warga untuk mengungsi ke desa-desa sekitarnya.
 
Jadi masih ada nih aksi protesnya?
Masih banget guys. In case you need a refresher, jadi sejak Februari lalu, suasana di Myanmar emang lagi panas gara-gara kudeta yang dilancarkan kelompok militer terhadap pemimpin demokratisnya yang dijabat oleh Aung San Suu Kyi. Since then, a lot of things happened: Suu Kyi jadi tahanan rumah, militer mengambil alih kekuasaan, dan masyarakat Myanmar yang menolak pemerintahan militer turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya. Hal inilah yang kemudian direspons oleh pihak militer dengan tindakan kekerasan.
 
Is it deadly?
Oh yeah, very. Hingga saat ini, terhitung udah ada lebih dari 700 orang, termasuk anak-anak, yang meninggal sejak aksi kudeta dilancarkan. Selain itu, udah ada sekitar 3.000 warga yang ditangkap melalui razia malam. Sedangkan dari segi ekonomi, Myanmar juga diprediksi bakal collapse, karena banyak bank yang tutup, ATM nggak ada duitnya, proses produksi di pabrik-pabrik terhenti, hingga perusahaan-perusahaan internasional yang memilih untuk tutup dan menerbangkan karyawannya keluar dari Myanmar. In a nutshell, Myanmar is on a brink of a destruction. 
 
Oh no…
Yep, terus baru-baru ini, kelompok advokasi Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) juga menyebut bahwa pihak militer menggunakan senapan, granat roket, dan granat tangan dalam melakukan berbagai aksinya. Terus, ada postingan di Facebook dari salah satu serikat pelajar di Myanmar yang menyebut bahwa pihak militer ngasih harga sebesar 120.000 Myanmar kyat ($85) bagi keluarga yang mau mengambil jenazah keluarganya yang tewas karena bentrokan, dan ada juga laporan yang menyatakan bahwa pihak militer melarang tenaga medis untuk membantu warga yang luka-luka.
 
This sounds terrible…
It does. Lebih jauh, Bachelet juga bilang bahwa apa yang terjadi di Myanmar mirip dengan apa yang terjadi di Suriah tahun 2011 lalu. Menurutnya, dulu juga aksi protes di Suriah dilakukan secara damai, namun aksinya justru berhadapan dengan kekerasan dari pihak militer, yang ujungnya menyebabkan kondisi Suriah porak-poranda kayak sekarang. Bachelet juga ngingetin supaya kesalahan yang terjadi di Suriah supaya jangan sampe kembali terulang di Myanmar.
 
So, what now? 
Well, Dewan HAM PBB sih menyerukan pada negara-negara anggotanya untuk ikut mendorong dihentikannya kekerasan di Myanmar dengan cara menghentikan pasokan senjata dan keuangan untuk pihak militer. Menurut Bachelet, hal ini juga demi menghentikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan tindak pidana terhadap kemanusiaan yang tengah terjadi.