Kehilangan Pasangan Jangka Panjang Dapat Mengganggu Kesehatan, Hingga Mengakibatkan Kematian

38

For when you have found your soulmate…

Hold em’ close…
Karena ternyata, hasil riset menunjukkan bahwa kehilangan pasangan jangka panjang bisa mengganggu kesehatan, hingga mengakibatkan kematian guys :(.
 
Yep, pembahasan soal heartbreak ini kembali muncul seiring dengan meninggalnya Pangeran Philip, pasangan Ratu Elizabeth II selama 73 tahun. Berpulangnya sang suami ini tentu bikin publik Inggris khawatir dengan kesehatan sang ratu, karena ternyata, gangguan mental karena kehilangan pasangan jangka panjang itu nggak main-main. Kondisi ini bahkan udah ada nama medisnya, yaitu cardiomyopathy atau “broken heart” syndrome. Adapun sindrom ini menyerang ketika seseorang kehilangan pasangannya yang sudah bersama dalam jangka waktu yang lama, hingga menyebabkan stres akut. Stres akut inilah yang bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kayak insomnia, kecemasan berlebih, maag, depresi, hingga imun sistem yang menurun.
 
Jadi memang ketika mengalami kehilangan, jantung kita bakal berubah bentuk sebagai efek dari stres akut yang kita rasakan. Dalam kondisi normal, jantung bakal kembali ke bentuk semula setelah patah hatinya hilang, namun pada pasangan yang long term, ditambah faktor umur, perubahan bentuk jantung ini bisa menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia) hingga menyebabkan kematian.
 
Adapun resiko orang tua meninggal paling tinggi muncul dalam satu sampai tiga bulan setelah pasangan mereka meninggal. Pada periode ini, resiko kematian ada pada angka 30%-90%, dan angkanya bisa menurun secara berangsur-angsur hingga 15% pada bulan-bulan setelahnya. FYI guys, sindrom ini 90%-nya ditemukan pada perempuan dan ditemukan pada orang-orang dari berbagai ras dan usia di seluruh dunia.
 
Just like love, broken heart is also a universal language…