China dan Amerika Serikat Sepakat Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim

80

Who just decided to be friends?

China and the USA. 
 
Friends on what?
On tackling the climate change. Iya gengs, jadi emang dua negara penghasil karbon terbanyak di dunia, yaitu China dan Amerika Serikat baru aja sepakat untuk bekerja sama dalam menghadapi climate change aka perubahan iklim.
 
Whooaa…seriously? 
Yep. Jadi, minggu lalu, U.S. special envoy for climate, John Kerry dan Wakil Menteri Luar Negeri China, Xie Zhenhua baru aja meeting di Shanghai untuk membahas hal ini. Terus di hari Minggu (18/4) kemarin, keduanya mengeluarkan joint statement untuk mengkonfirmasi kesepakatan tersebut.
 
What’s in it? 
First, bahwa China dan AS berkomitmen untuk bekerja sama dan juga dengan negara lain untuk menghadapi krisis iklim. Second, keduanya juga berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah konkrit demi mengurangi produksi emisi mereka demi mencapai target Paris Agreement, yaitu penambahan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius atau well below 1,5 derajat Celsius. Third, mereka setuju untuk membantu negara-negara berkembang beralih ke energi terbarukan dengan cara menginvestasikan dana dalam teknologi tersebut.
 
Nice…
Selain itu, kedua negara juga mengakui bahwa dana pembangunan harus fokus ke proyek-proyek yang rendah karbon, bukan yang emisi karbonnya tinggi. Terus, keduanya juga mengakui bahwa climate change adalah salah satu isu penting yang memang harus di-address. Selain itu, perjanjiannya juga berisi langkah-langkah spesifik terkait kebijakan apa aja yang akan diambil soal climate change ini.
 
I see…
Yep, terkait hal ini, Mr. Kerry bilang bahwa emang isu ini penting banget, karena ada hubungannya dengan urusan hidup-mati di berbagai belahan dunia lain. Karenanya, beliau bilang bahwa negara-negara harus bisa duduk bareng, ngobrol, dan bekerja sama secara konstruktif dalam upaya menanggulangi climate change.
 
OK. Good to hear.
FYI guys, perjanjian ini muncul cuma beberapa hari sebelum Amerika Serikat menggelar virtual climate summit pada Kamis – Jumat ini dengan mengundang 40 pemimpin dunia. Adapun Presiden China Xi Jinping belum mengkonfirmasi apakah pihaknya bakal hadir apa enggak, namun adanya perjanjian ini memunculkan spekulasi bahwa kedua negara punya kebijakan yang sejalan terkait climate change. FYI, pertemuan virtual ini dilakukan dalam rangka persiapan untuk pertemuan Konferensi Iklim ke-26-nya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bakal diadakan di Glasgow, UK pada November tahun ini.
 
Got it. Anything else I need to know?
Well, kayak yang disebutkan sebelumnya, Amerika Serikat dan China emang merupakan negara penghasil emisi gas tertinggi di dunia. Kedua negara juga tengah berupaya untuk mengurangi hal ini dengan meluncurkan berbagai kebijakan agresif, misalnya China yang berjanji untuk mencapai carbon peak-nya (puncak emisi, artinya abis ini, produksi emisinya harus menurun) sebelum tahun 2030, dan mencapai carbon neutrality by 2060. Meanwhile, di bawah Joe Biden, Amerika Serikat juga tengah melakukan langkah-langkah konkret demi menanggulangi perubahan iklim, seperti mengalokasikan lebih banyak budget ke green economy dan siap-siap join lagi ke Paris Agreement.