Revisi UU ITE Tidak Masuk Daftar Prolegnas Prioritas 2021, Hasil Investigasi Uighur Menyatakan China Telah Melanggar Ketentuan Konvensi Genosida, Perhatikan Berat Badan Anda Selama Pandemi Untuk Kurangi Resiko Terinfeksi Covid-19, Instagram dan Facebook adalah Aplikasi yang Paling Banyak Membagikan Data Pribadi ke Perusahaan Lain.

185

Good morning!

 
It’s Wednesday already and just a gentle reminder that we’re not going to send emails tomorrow due to Isra’ Mi’raj national holiday. So, take a longer sleep, recharge your soul, have a good Catch Up! with your loved ones and see you again on Friday!

For when you’ve just crossed out one of your priorities…

DPR can relate. 
 
Tell me. 

Ok. Jadi gengs, revisi UU ITE (Informasi Transaksi Elektronik) udah fix nih, nggak masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2021. Padahal dulu Jokowi bilang kalau UU-nya bermasalah ya revisi aja.

 
Background please. 
Remember pas Pak Jokowi minta dikritik? Nah terkait request-nya tersebut, banyak netizen yang heboh gara-gara fakta di lapangan cukup horor.  Masyarakat yang mengkritik pemerintah malah sering berurusan sama hukum, dan dijerat pake UU ITE. Terus, dalam menanggapi pernyataan netizen, Pak Jokowi bilang, ya tinggal direvisi aja UU ITE-nya. Tentu hal ini memunculkan banyak tuntutan supaya UU ITE ini beneran direvisi, karena emang dikhawatirkan bisa mengancam hak kebebasan berpendapat. Catch up more on the issue here. 
 
Yea I remember.

But not so good news buat kamu-kamu yang berharap supaya UU ITE ini beneran masuk prioritas buat direvisi, karena kemarin, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Willy Aditya menegaskan bahwa revisi UU ITE belum masuk Prolegnas karena masih dikaji sama pemerintah. Lebih jauh, Willy bilang bahwa surat edaran Kapolri Jenderal Listyo Sigit tentang UU ITE aja udah cukup efektif.

 
What letter exactly? 

Jadi, sesuai arahan Pak Jokowi pas heboh soal ‘kritik pemerintah’ tadi, Kapolri udah nerbitin surat edaran nomor tentang Kesadaran Budaya Beretika untuk Mewujudkan Ruang Digital Indonesia yang Bersih, Sehat dan Produktif. Isinya tentang pedoman bagaimana menangani kasus-kasus UU ITE. Intinya sih, Polri disebut bakal lebih mengutamakan dialog untuk menuntaskan saling lapor terkait dugaan pelanggaran UU ITE. Selain itu, kepolisian juga bakal mengedepankan upaya preemtif dan preventif melalui virtual police and virtual alert.

 
Virtual police? 
Yep, everybody, meet: virtual police. Jadi mereka ini bakal bertugas memonitor postingan-postingan kita di sosial media dan akan dengan aktif memperingatkan kita kalo ada postingan-postingan yang ‘membahayakan’ atau berpotensi terkena tindak pidana siber. Tujuannya yha kita nggak langsung dijerat UU ITE, tapi diperingatkan dulu gitu gengs. Iya, sekarang emang udah nggak zamannya polisi tidur lagi.
 
Yha terus gimana? 
Menurut Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, pemerintah masih perlu melakukan ‘public hearing’ UU ITE sebelum UU-nya masuk pembahasan di DPR.  Terus, Pak Yasonna juga bilang bahwa ada kaitan antara UU ITE dan RUU KUHP, jadi RUU ITE bisa nyusul aja nanti. Selain itu, beliau juga bilang bahwa Prolegnas kan bisa dievaluasi per semester, jadi pas next semester aja dimasukinnya setelah tim kajian UU ITE selesai mengkaji UU tersebut.
 
Bener ya Paaa….Anything else? 
So far, Tim Kajian UU ITE lagi meminta masukan dari beberapa aktivis, praktisi media sosial, termasuk Deddy Corbuzier, terkait UU ITE.  Menurut Ketua Tim Kajian UU ITE, Sugeng Purnomo di Kemenko Polhukam, bakal ada dua sesi pertemuan yang mereka lakukan.  FYI, Tim Kajian ini bakal bekerja selama dua bulan, dan akan ngasih laporan per 22 Mei 2021 nanti.

Who’s just got a ‘red’ report card?

China.
 
For what? 
For kasus Uighur di Xinjiang, China. Jadi guys, menurut laporan independen dari The Newlines Institute for Strategy and Policy think tank, yang baru aja diterbitin Selasa kemarin, pemerintah China disebut udah melanggar semua ketentuan dalam United Nations’ Genocide Convention. 
 
Background please. 
Ok. Jadi emang China ni udah lama disebut-sebut melakukan ‘genosida’ terhadap etnis Uighur di Xinjiang China. In case you forgot, etnis Uighur adalah minoritas muslim di bagian baratnya China, di mana wilayahnya berbatasan sama Uzbekistan, Turki, Mongolia, Kazakhstan, dan Kirgistan. Nah beberapa minggu lalu, kasus tersebut dibahas oleh Dewan HAM PBB, dan mereka mendesak supaya perwakilan internasional bisa melihat langsung kondisi etnis Uighur ini ke China, to which they respond, “Monggo silakan lihat fakta lapangannya sendiri.”  Catch up more on the issue here.
 
Back to the genocide…
Iya gengs, jadi emang konvensi genosida itu adalah aturan internasional terkait genosida (upaya pemusnahan suatu bangsa atau etnis) yang udah disepakati di Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sejak Desember 1948. Dalam dokumen tersebut, ada definisi yang jelas tentang genosida itu apa.  First, genosida adalah upaya untuk menghancurkan/memusnahkan kelompok etnis, ras, atau agama tertentu.  Berdasarkan konvensi ini, ada lima cara untuk melakukan genosida, kayak membunuh anggota kelompok tersebut, mencelakakan tubuh atau mental kelompok tersebut, and so on. 
 
This is not what I want to read this early in the morning.
We understand, but this is where the important part is: Laporan hasil investigasi soal Uighur tadi menyatakan bahwa China telah melanggar ketentuan dari konvensi genosida (aturan internasional tentang genosida). Padahal, mereka turut menandatangani konvensi tersebut.
 
Really??
Yep, dalam laporan yang disusun oleh lebih dari 50 ahli HAM global, kejahatan perang, dan hukum internasional itu, disebutkan bahwa ada sekitar 2 juta Uighur dan minoritas muslim lainnya yang ditahan di “detention centers” di wilayah tersebut.  Menurut The United States Department of State aka Deplu-nya AS, para korban bilang kalau mereka di-indoktrinasi, mengalami pelecehan seksual, dan disteril secara paksa.
 
Oh no…
Yep, pihak China sih bilang kalau tudingan tadi nggak benar, dan mereka bersikeras bahwa kamp-kamp itu adalah untuk memberangus paham-paham ekstremisme dan terorisme. However, the international world be like, “ga percaya!” dan pada tanggal 19 Januari kemarin, pemerintah Amerika Serikat udah mendeklarasikan bahwa Pemerintah China melakukan genosida di Xinjiang. Selanjutnya, parlemen Kanada dan Belanda juga udah mendeklarasikan hal yang sama baru-baru ini.
 
I see, anything else? 
Menurut Azeem Ibrahim, Director of Special Initiatives at Newlines, dan penulis dalam laporan tersebut bilang kalau buktinya udah buanyaak banget kalau China melakukan genosida.  Menurutnya, China yang merupakan salah satu kekuatan global, adalah “arsitek genosida”. So, if you’re curious about the report, click here.

For when you reallyyyy have to watch your weight during the pandemic…

Yep, we’ve heard it all before. Pandemi Covid-19 ini risky banget, terutama buat mereka yang punya penyakit bawaan, orang tua, hingga buat mereka yang kelebihan berat badan (obesitas).
 
Yep, but how risky is it?
Nah, ini nih yang baru aja ditemukan oleh CDC aka Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat kemarin. Jadi dalam penelitiannya itu, CDC meneliti data dari 150.000 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19. Data ini diambil dari sekitar 200 rumah sakit di Amerika Serikat sejak Maret sampe Desember tahun lalu, dan hasilnya adalah….
 
Tell me!
Menunjukkan bahwa kelebihan berat badan sangat signifikan dalam meningkatkan risiko seseorang masuk rumah sakit dan meninggal karena Covid-19. Lebih jauh ditemukan juga bahwa makin tinggi BMI (Body Mass Index) seseorang, maka bakal makin tinggi juga risiko covid-nya. Data CDC menunjukkan bahwa pasien dengan BMI 41 (extremely obese) atau lebih 33% lebih berisiko untuk masuk rumah sakit dan 61% lebih berisiko meninggal karena Covid, dibandingkan mereka yang berat badannya sehat.
 
Geez…
Yep dan hal yang sama juga berlaku buat mereka yang underweight atau berat badannya di bawah normal (BMI di bawah 18). Untuk yang underweight ini, mereka lebih mungkin masuk RS dibanding yang berat badannya normal, namun risiko kematian mereka lebih kecil dibanding yang overweight. 
 
Terus terus…
Terus, CDC juga menemukan bahwa sekitar 78% orang yang masuk rumah sakit, butuh ventilator hingga meninggal adalah mereka yang overweight atau obesitas. FYI guys, risiko-risiko ini makin besar kemungkinan kejadiannya pada mereka yang berusia di atas 65 tahun.
 
Got it. Anything else?
Terkait penemuannya ini, CDC mendorong pembuatan kebijakan yang mengutamakan kelompok ini, yakni misalnya, dengan memprioritaskan vaksin buat orang-orang dengan berat badan berlebih dan orang tua.

For when your Instagram is your best friend…

Be careful guys.
 
Karena ternyata, berdasarkan studi yang dilakukan penyedia layanan cloud storage pCloud, ditemukan bahwa Instagram dan Facebook adalah aplikasi yang paling banyak membagikan data pribadi kita ke perusahaan lain. Adapun data-data yang dibagikan adalah tanggal lahir kita dan kebiasaan kita kapan buka aplikasinya. Jadi, baru-baru ini pCloud baru aja merilis nama-nama aplikasi  yang sering membagikan data pribadi pengguna. Studi ini punya tiga kategori, yakni pelacakan, iklan pihak ketiga, dan iklan pengembang atau pemasaran. Adapun hasilnya, 79 persen data pengguna Instagram disampaikan ke perusahaan lain. Lalu di posisi selanjutnya ada Facebook (57 persen), dan ada juga LinkedIn dan Uber Eats yang sama-sama menjual 50 persen dari data penggunanya.
 
Studi ini juga menyebut bahwa 80 persen aplikasi memakai data pengguna tersebut untuk kebutuhan pemasaran dan iklan.
 
Selain itu, pCloud juga merilis aplikasi yang ‘baik’ dalam menjaga data pribadi kita, which includes: Signal, Clubhouse, Netflix, Microsoft Teams, Google Classroom, Shazam, Etxy, Skype, Boohoo, Amtrack, Zoom, Shop dan IRS2Go all.

“Kalau diizinkan buka saya juga mau nonton, kangen,”

Gitu kata Gubernur Jawa Barat Kang Ridwan Kamil pas cerita soal kerinduannya bisa nonton langsung pertandingan sepak bola tim favoritnya Persib Bandung di stadion. Menurut Kang Emil, idealnya kompetisi sepak bola di Indonesia bisa dilangsungkan selama protokol kesehatan bisa diterapkan, yhaaa sama kayak di liga-liga Eropa sekarang lah…
 
Sama Pak, sama….

Catch Me Up! Recommendations

Lagi rame-rame soal ghosting ni… and if you’ve ever done that, and somehow, you want to reconnect with the person, respectfully, here’s how.

A thank you note…


Thanks to Putriweda, CGL, seseorang, and Sanisna for buying us coffee yesterday!
 
(Mau ikutan nraktir tim Catch Me Up! kopi? Here, here…just click hereDengan mendukung, kamu nggak cuma beliin kami kopi yang menemani kami nulis, namun kamu juga udah men-support kami untuk terus berkarya dan membuat konten-konten berkualitas yang imparsial dan bebas dari kepentingan. Thank you so much!)

Angel’s Stories

 
1. Akhir-akhir ini tugas sekolahku banyak banget, gak ada habis-habisnya. Benar-benar bikin tertekan. Padahal, sebentar lagi bakal menghadapi UTBK. Plus, minggu depan aku bakal ada Ujian Akhir Sekolah. Ingin sekali rasanya speak up kepada guru yang bersangkutan, tapi sepertinya hal kayak gitu gak bakal ngaruh juga dan gak bakal nyelesain masalah. Yang hanya bisa aku lakukan hanyalah sabar :’). Namun beruntungnya, aku punya grup khusus gitu buat belajar UTBK . Di sana aku nemuin banyak temen sefrekuensi dan aku bersyukur banget bisa kenal mereka, karena orang-orangnya pada friendly semua meski kami belum pernah ketemu secara langsung❤️. Terima kasih sudah jadi mood booster-ku di kala down! Buat kalian yang tahun ini jadi maba, tetap semangat ya! Sukses buat kita semua! Xoxo <3
-(Ca) maba ‘21-
 
2. Aku cuma mau bilang makasih, buat laki-laki baik yang selama ini udah nemenin aku. You’re not only my very best friend, but you’re my love tooLike what you’ve said, let’s grow up together and take a good care of each other. Dari kamu aku belajar, kalau di dunia ini masih ada laki-laki baik hati yang sederhana dan jujur. Aku suka kamu yang selalu ada apanya. ILU, Mr. T ❤
-Sam-
 
(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. You can also check our previous angel stories on our angel’s