Mengkonsumsi Daging Sapi Menghasilkan Gas ‘Methane’ yang Tidak Ramah Lingkungan

33

For when you’re eating rendang with your coworkers and want to start a conversation…

Well, who doesn’t love rendang, or beef?
Some of you might love rendang, or steak, or grilled beef, or beef patty, or bakso (nyammm) tapi kamu tahu nggak sih guys, bahwa mengkonsumsi daging sapi itu sebenernya nggak ramah lingkungan?
 
Enggak. Emang iya?
Iya, karena pada faktanya, sapi ini ini menghasilkan gas ‘methane’ yang terbukti bisa menahan panas di atmosfer bumi lebih lama dibanding karbon dioksida. Hal inilah yang kemudian bikin pemanasan global terjadi makin cepat. Nah gimana kok sapi bisa menghasilkan gas? Yha bisa, gasnya itu dihasilkan pas sapi bersendawa, kentut, atau mengeluarkan kotoran.
 
IEW.
Nah selain menghasilkan gas metana yang nggak ramah lingkungan tadi, para ahli lingkungan juga bilang bahwa peternakan sapi yang dilakukan secara masif mengakibatkan terjadinya deforestasi (yang tadinya hutan, harus dibabat untuk dijadiin peternakan sapi), dan atas alasan inilah, banyak masyarakat terutama di negara maju yang memutuskan untuk berhenti makan daging sapi.
 
OK and your point is…
Nah ternyata guys, penelitian terbaru yang dilakukan oleh World Food Center, bekerja sama dengan peneliti dari University of California Davis menemukan bahwa kalau sapi dikasih makan rumput laut, maka emisi gas methane yang dihasilkannya bisa berkurang hingga 82 persen. Hal ini tentunya lebih baik buat lingkungan.
 
Whoaaaa… random info, but tell me more.
LOL. Jadi dalam penelitiannya itu, ditemukan bahwa kalo pakan sapi dicampur sama rumput laut, maka dalam jangka waktu lima bulan, maka produksi gas methane yang dihasilkan sapi berkurang hingga 82 persen. Jadi proses ilmiahnya itu, ketika makan, maka sapi akan memproduksi gas methane untuk mencerna makanan yang high fiber/serat tinggi. Nah, ternyata, ada rumput laut yang bernama Asparagopsis taxiformis yang bisa melawan proses tersebut, sehingga produksi gas metana-nya berkurang.
 
Emang sebahaya itu ya gas methane?
Iya. Jadi emang sebenernya, gas metana lebih mudah menghilang, namun mereka lebih efektif dalam menahan panas di atmosfer, yaitu hingga 30 kali lipat dibanding karbon dioksida. Nah di Amerika Serikat sendiri, sektor agrikultur berkontribusi hingga 10% dalam menghasilkan emisi gas, dan mayoritasnya berasal dari gas metana tadi. Berangkat dari fakta ini, para peneliti kemudian berusaha mencari alternatif, gimana caranya kita masih bisa makan daging sapi tanpa berkontribusi negatif pada lingkungan. Akhirnya ditemukanlah alternatif rumput laut ini.
 
Oh gitu…anything else? 
Nah sekarang, para peneliti sedang berusaha untuk menjawab tantangan berikutnya, yaitu bagaimana memastikan bahwa jenis rumput laut Asparagopsis taxiformis ini supply-nya cukup untuk para peternak sapi. Hal ini mengingat jumlah sapi ternak yang banyak dan supply rumput laut yang terbatas.
 
There you go. Now, you’re a food scientist 😛