Kata Pemerintah Mengenai Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang

56

Now, let’s talk about the biggest drama over the weekend.

I KNOWWWWW, THE DEMOCRAT!
Yep.

Now tell me everything!
OK. Jadi gengs, pada Jumat (5/3) kemarin, telah berlangsung Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara, dan hasilnya… menetapkan Pak Moeldoko (Kepala Kantor Staf Presiden) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

 
Wait, isn’t…Ketua Umumnya Demokrat itu Mas AHY ya?
Yep, according to pernyataannya Mas AHY aka Agus Harimurti Yudhoyono ga lama setelah KLB digelar sih emang gitu ya. Jadi dalam keterangan persnya, Mas AHY bilang bahwa dirinya adalah Ketua Umum Partai Demokrat yang sah, dan KLB Deli Serdang itu inkonstitusional, ilegal, dan nggak sah.
 
Jadi Ketumnya Mas AHY? Apa Pak Moeldoko? I am confused…
Same, but let us give you some background here. Jadi guys, sejak 2013 lalu, Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) udah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, menggantikan Ketua Umum sebelumnya, Anas Urbaningrum. Nah jabatan PAK SBY ini kemudian berakhir pada tahun 2020 lalu, di mana beliau digantikan oleh anak sulungnya, Mas AHY pada kongres partai yang digelar pada April tahun lalu. Nah udah kan tuh, Mas AHY jadi Ketum…
 
Ok go on…
Nah lalu sekitar awal Februari tahun ini. Mas AHY menyatakan bahwa ada gerakan politik yang mau “mengkudeta” atau mengambil alih Partai Demokrat dan salah satu yang terlibat adalah Pak Moeldoko. Mas AHY bilang, kudetanya dilakukan sama lingkaran Pak Jokowi, dan beliau juga udah ngirim surat ke Pak Jokowi terkait hal ini. Catch up here for details. Nah balik lagi ke Pak Moeldoko, waktu itu beliau bilang bahwa dirinya nggak terlibat, dan yhaaa ada sih ketemu sama Kader Demokrat yang curhat-curhat tapi yha didengerin aja…
 
Terus, terus dooong…
Nah terus, pasca pernyataan itu, mulai deh bermunculan gejolak-gejolak di tubuh Partai Demokrat, di antaranya pemecatan terhadap tujuh orang kader Demokrat oleh AHY karena disebut terlibat dalam kudeta, yakni Darmizal, Yus Sudarso, Tri Yulianto, Jhoni Allen Marbun, Syofwatillah Mohzaib, Ahmad Yahya, dan satu orang lagi karena disebut melanggar etika, yakni Marzuki Alie. Selain itu, muncul juga pernyataan dari Pak SBY yang menyebut bahwa, “Yakin deh, Pak Jokowi nggak tahu apa yang dilakukan sama Moeldoko…” and finally, suara-suara untuk digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) bermunculan. FYI guysKLB itu biasanya digelar emang untuk memilih dan menetapkan pimpinan partai.

I see…
Nah terus guys, Damrizal, yakni salah satu Kader Demokrat yang udah dipecat AHY menyatakan bahwa KLB bakal digelar pada 5 Maret, dan yha kejadian. Damrizal bilang, tujuan KLB ini adalah untuk menggantikan kepengurusan AHY dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia juga bilang bahwa Partai Demokrat harus dipimpin oleh Ketua Umum yang kompeten, terbuka, egaliter, dan tidak semena-mena. Doi juga mengklaim bahwa sebagian besar Ketua DPD dan Ketua DPC sudah bersedia untuk hadir dalam KLB tersebut.
 
Ooooh jadi itu alesannya…
Iya, terus ada juga kader Demokrat yang dipecat lainnya, Jhoni Alen Marbun yang bilang bahwa kongres sebelumnya di tahun 2020 yang mengukuhkan AHY sebagai Ketua Umum merupakan hasil rekayasa SBY. Johni bilang bahwa SBY udah mendesign seluruh perwakilan daerah untuk mendukung AHY. Makanya, kata Johni, AHY ini ada di puncak gunung, tapi nggak pernah mendaki, dan sekarang udah di puncak, gatau cara turunnya.
 
Got it. Now tell me more about the congress…
Nah jadi dalam kongres yang digelar over the weekend kemarin, pihak panitia mengklaim bahwa KLBnya didukung sama 387 perwakilan kader DPC dan DPD dari seluruh Indonesia dan 5 hotel udah penuh. Pada KLB tersebut juga muncul beberapa nama yang dicalonkan sebagai calon ketua umum, dan hasilnya, Pak Moeldoko diputuskan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, meskipun doi nggak hadir langsung dalam kongres tersebut. Malemnya, beliau kemudian hadir di lokasi kongres dan bilang bahwa yhaa saya sangat menghargai perbedaan pendapat di kongres ini, inilah namanya demokrasi…
 
….
FYI guys, karena nggak hadir secara langsung, pimpinan sidangnya ngasih kabar ke Moeldoko via telepon kalau dia terpilih.  Dalam telepon tersebut, Moeldoko sempat bertanya para peserta KLB like, “Is this for real? KLB ini sesuai sama AD/ART nggak nih?” and para peserta jawab “sesuai”.  Terus Moeldoko lanjutin be like, “beneran serius milih gue?” dan pada jawab “seriuuus” dan akhirnya terpilih deh, Moeldoko jadi Ketum Partai Demokrat versi kongres Deli Serdang.
 
Terus, KLB-nya lancar?
Yhaaa banyak tanggapan sih. Misalnya, KLB tersebut sempat dibubarin sama kubu DPD Demokrat Sumut yang mendukung AHY, hingga ada insiden lempar-lemparan batu dan kayu. Terus pada waktu yang bersamaan juga, Mas AHY menggelar apel pimpinan bersama DPD Demokrat di seluruh Indonesia, di mana sebanyak 34 perwakilan DPD udah bulat menolak hasil kongres Deli Serdang. Meanwhilepemerintah bilang mereka nggak bisa membubarkan kongres karena bakal berlawanan sama undang-undang soal menyampaikan pendapat di muka umum.
 
Oh iya, how did Cikeas respond?
KZL. Ketua Majelis Tinggi DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bilang bahwa KLB di Sumut itu nggak sesuai AD/ART partai. Terus, menurutnya, nggak ada pengurus DPD Partai Demokrat di seluruh Indonesia yang mau diadakannya KLB. Selain itu, Mas AHY juga bilang bahwa Moeldoko adalah ketum abal-abal dari kongres yang ilegal. Finally, Mas AHY juga meminta ke Presiden Jokowi dan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly untuk nggak mengesahkan hasil KLB tersebut.
 
Terus kata pemerintah apa?
Yhaa menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD sih, hingga saat ini belum ada persoalan hukum karena emang belum ada permintaan legalitas hukum terkait hasil KLB di Deli Serdang kepada pemerintah. Meski begitu, Prof Mahfud berjanji bahwa pemerintah bakal menindaklanjuti KLB tersebut secara transparan dan sesuai hukum jika udah menerima laporan secara resmi.
 
Yuk, ditunggu…