Jokowi Merasa Tertampar, Tegaskan Tidak Ingin Jadi Presiden 3 Periode

39

Who’s being slapped on the face?

Presiden Jokowi.

 
Weyyy serius siapa yang nampar? 
Not literally slapped sih gengs. Jadi, ada wacana amandemen (perubahan) UUD 1945 yang katanya bakal menambah masa jabatan Presiden jadi tiga periode. Dalam menanggapi wacana ini, kemarin Pak  Jokowi bilang kalau doi merasa kalau ada yang mau ‘menampar’ wajahnya.
 
Why? 
Karena dari awal, Pak Jokowi udah meminta supaya amandemen UUD 1945 fokus ke masalah Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) aja.  Eh ternyata malah ada yang mau bahas tentang masalah pemilihan dan masa jabatan Presiden, which is so out of topic. Nah emang guys, akhir-akhir ini, bermunculan isu soal jabatan presiden. Ada yang bilang supaya presiden dipilih sama MPR lagi, ada yang bilang supaya jabatan presiden jadi tiga periode (which is 15 years) sampe ada juga yang menyampaikan usulan supaya masa jabatan presiden dalam satu periode itu durasinya ditambah jadi delapan tahun.
 
HAH apaan si. 
Yha gitu. Pak Jokowi juga bilang bahwa wacananya jadi ke mana-mana. Jadi yaudah gausah jadi diamandemen aja UUD 45-nya, dan kita bisa fokus ke tekanan-tekanan lain yang juga nggak mudah diselesaikan.
 
GBHN…UUD 45…dude I was asleep during my PPKn class.
Got it. Let us break it down for you. Nah jadi emang akhir-akhir ini, wacana soal jabatan presiden tiga periode ini muncul, seiring dengan munculnya wacana perubahan aka amandemen UUD 45. Jadi emang untuk mengubah masa jabatan presiden ini, diubahnya harus lewat UUD 45, karena emang diaturnya di sana. Secara UUD 45 ini merupakan salah satu dasar negara yang penting banget, maka kalau mau mengubah UUD 45, maka perlu dibahas dan disetujui dulu oleh MPR, dan prosesnya pun nggak mudah.
 
Go on...
Nah, seiring dengan munculnya berita bahwa UUD 45 bakal diubah, maka muncul deh, isu-isu yang juga bilang bahwa dalam perubahannya itu, di antaranya adalah mau bikin presiden bisa dipilih sampe tiga kali.
 
HAH kata siapaaa?

Kata Mantan politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Pak Amien RaisIn his words: “Jadi sekarang ada semacam publik opini, yang mula-mula samar-samar tapi sekarang makin jelas ke arah mana rezim Jokowi. Jadi mereka akan mengambil langkah pertama meminta sidang istimewa MPR, yang mungkin satu, dua pasal yang katanya perlu diperbaiki yang mana saya juga tidak tahu, tapi kemudian nanti akan ditawarkan baru yang kemudian memberikan hak presidennya itu bisa dipilih tiga kali, nah kalau ini betul-betul keinginan mereka, maka saya kira kita sudah segera bisa mengatakan ya innailaihi wa innailaihi rojiun.”

 
Wait, tapi bener???

Let’s hear it from… Ketua MPR RI-nya langsung, Pak Bambang Soesatyo aka Bamsoet. Menurut doi, nggak ada kok pembahasan internal MPR RI untuk memanjangkan masa jabatan presiden-wakil presiden dari dua periode ke tiga periode. Selain itu, pembatasan maksimal dua periode dilakukan supaya Indonesia terhindar dari masa di mana jabatan kepresidenan berlangsung tanpa batas, kayak yang pernah terjadi pada masa lalu.

 
Well, still remember that one.
Us, too. Nah terkait wacana ini, udah banyak pihak yang menolak, di antaranya dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bilang bahwa perubahan ini nggak urgent. Selain itu, jabatan presiden juga cukup dua periode aja, demi menjaga iklim demokrasi dan menjauhi perbuatan kekuasaan menyimpang seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Selain PKS, Partai Demokrat juga menyatakan penolakannya dan bilang bahwa jabatan lebih dari dua periode berarti melanggar undang-undang dan…yha sama, nggak urgent.
 
Anyone supporting, tho?
Let’s see…uhm… here we have politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid yang secara pribadi bilang bahwa doi mendukung wacana penambahan masa jabatan presiden Indonesia hingga tiga periode. Menurutnya, yha belom tentu Pak Jokowi mau sih, tapi kalo mau yha bisa jadi PKB dukung.
 
Now let’s hear it from…Pak Jokowi.
Nggak minat tuh. Gitu kata beliau. Kemarin juga Pak Jokowi bilang bahwa doi nggak niat, nggak minat, dan nggak mau melanggar konstitusi yang mengatur supaya jabatan presiden hanya berlangsung selama dua periode. Pak Jokowi juga meminta supaya jangan deh, menyebabkan kegaduhan baru, karena kan kita lagi fokus menangani pandemi.