Korea Utara Masih Kembangkan Nuklir Langgar Sanksi PBB

120

For when your biggest secret being leaked on a group chat…

North Korea can relate. 

 

Hah kenapa?
Jadi, Senin lalu, bocor deh tuh, dokumen rahasia punya lembaga pengawas sanksi independennya PBB yang diperuntukkan ke dewan keamanan PBB aka The Security Council. Isinya, menyebutkan bahwa Korea Utara masih mengembangkan senjata nuklir dan program rudal balistik sepanjang tahun 2020. Dokumennya bilang bahwa hal ini merupakan pelanggaran atas sanksi internasional, secara kan Korut lagi disanksi dan nggak boleh mengembangkan senjata nuklir.

 

Give me some background.
Got it. Jadi sejak tahun 2006, Korea Utara udah dijatuhi sanksi sama PBB untuk mengakhiri program pembuatan nuklirnya. Mereka nggak boleh mengujicoba nuklir, nggak boleh menerima impor senjata dan bahan peledak, hingga barang-barang mewah. Hal ini juga udah disetujui sama 15 anggota dewan keamanan PBB *uhuk China uhuk* untuk nggak ngasih funding buat program pengembangan nuklir dan misil balistiknya Pyongyang.

 

I see…
Nah ternyata guys, laporannya si pengawas independen tadi justru menyebutkan bahwa Korut masih melanjutkan program pengembangannya. Disebutkan juga bahwa Pyongyang dapet dana sekitar US $316 juta antara tahun 2019 – November 2020, dari hasil nge-hack.

 

WHAT DO U MEAN NGE-HACK?
Yha jadi stole aka nyolong dari hasil kegiatan cyber hack yang mereka lancarkan. Jadi yang di-hack itu financial institutions kayak cybercurrency gitu. Terus mereka juga melakukan pencurian berbagai aset online, dan ditotal-total, hasil hack-nya ini nyampe 300-jutaan USD itu. Nah abis itu, dananya kemudian dipake untuk mengembangkan senjata nuklir tadi.

 

Good lord…
Yep. Nah FYI gengs, sebenernya pada tahun 2018 kan Korut udah sempat meledakkan tempat mereka mengetes senjata nuklirnya sebagai tanda bahwa mereka berkomitmen untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklirnya. Namun penemuan dari laporan tadi bikin negara-negara lain be like, “Hmm… something smells fishy here…”

 

Well, I bet US has a say.
Yep, FYI guys, jadi laporan tahunan ini rilis cuma beberapa minggu setelah Joe Biden dilantik jadi Presiden AS. So, new president means new policy, dan Biden bilang, dia akan menerapkan pendekatan baru ke Korut. AS juga menyebut bahwa mereka bakal mengevaluasi kebijakan yang ada selama ini, dan bisa juga ada potensi diplomasi in the future.  

 

Emang selama ini gimana?
Yha pas eranya Donald Trump sih, hubungan Washington dan Pyongyang intens aka sering ketemuan. Selain itu, Trump juga jadi presiden AS yang sedang menjabat pertama yang menginjakkan kaki di tanah Korut. Nah FYI, sebenernya pertemuan-pertemuan yang dilakukan sama Trump dan Jong-un itu salah satunya untuk nego-nego supaya Jong-un menghentikan program pengembangan nuklirnya, but he’s like, “Yha tapi owe jangan disanksi terus dong ah…”

 

Are these sanctions bad?
Yhaa jujur lumayan bad sih guys, karena sanksinya itu, selain nggak boleh menerima impor senjata dan alat-alat militer, mereka juga nggak boleh menerima impor tekstil, barang mewah, minyak mentah, sampe warganya nggak boleh kerja di negara lain. Meanwhile, sebagai negara yang kaya sumber daya alam, ekspor berbagai hasil bumi dari Korut kayak batu bara, besi, emas, tembaga, hingga sea food juga dilarang. Yha jadinya mereka nggak bisa menjual hasil buminya ke negara lain. To make things worse, di tahun 2013, DK PBB juga melarang segala bentuk transaksi keuangan lintas negara sama Korut, jadi mereka makin terkucilkan dari sistem finansial global. Tambah covid deh, sekarang.
Pantesan Captain Ri pindah ke Swiss ya gengs…