BPS: Indonesia Masih Berada Di Resesi Ekonomi Terburuk Sejak 1998

60

What’s shrinking in Indonesia?

Our GDP aka Gross Domestic Products. 
 
What do you mean? 
Jadi guys, menurut data tentang GDP yang dirilis sama Badan Pusat Statistik (BPS) minggu lalu, diketahui bahwa GDP Indonesia pada kuartal IV 2020 turun hingga 2,19 persen. FYI, penurunan ini adalah yang terburuk sejak 1998.
Remind me. What’s GDP again? 
Well, GDP adalah total produk dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam satu tahun, yang berguna buat ngeliat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Logic-nya, kalo produk dan jasa suatu negara naik, maka ekonominya naik dong, dan GDP-nya naik. Sebaliknya, kalo GDP suatu negara turun, otomatis aktivitas ekonominya turun, dan fenomena penurunan inilah yang disebut dengan resesi ekonomi. Nah, resesi ekonomi ini terjadi kalau GDP turun secara berturut-turut dalam beberapa periode waktu.
 
Feels like I get back to my Econ 101 again.
Rite. Nah dengan hasil laporan ini, maka udah clear nih, bahwa Indonesia masih berada dalam posisi resesi aka tumbuh negatif dalam tiga kuartal berturut-turut.
Oh no…
Jadi secara keseluruhan, di tahun 2020, GDP Indonesia jatuh atau minus 2,07 persen dari tahun sebelumnya.  Making this the worst recession since krisis keuangan tahun 1998 dulu (FYI, pas itu resesinya sampe minus 13 persen). Nah, pada kuartal akhir 2020 ini kan emang Indonesia udah mengurangi pembatasan sosial, tapi tetap aja konsumsi privatnya berkurang, jadi yha nggak ngangkat sih.
Kok bisa gitu? 
Yha salah satu penyebabnya adalah karena konsumsi rumah tangga yang turun 3,6 persen dari tahun sebelumnya, dan turun 4,1 persen dari kuartal sebelumnya. Meanwhile, investasi yang masuk juga turun hingga 6,2 persen. Sedangkan, belanja pemerintah yang diharapkan bisa menggerakkan ekonomi ternyata hanya sebesar 1,8 persen aja, justru lebih sedikit dibanding periode sebelumnya yang pertumbuhannya mencapai 9,8 persen.
 
How come?
Well, banyak faktor ya, di antaranya kalo menurut para ekonom sih, adalah penyerapan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang tidak maksimal.
What’s PEN?
Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional yang dikucurkan pemerintah sebagai respons atas pandemi Covid-19. Jadi kan dana PEN tahun 2020 kemarin itu totalnya Rp 695,2 triliun, namun menurut Menkeu Bu Sri Mulyani, pemerintah hanya mampu menyalurkan dana sebesar Rp579,78 triliun atau 83,4 persen dari anggaran.
 
Dialokasikannya ke mana aja?
So far sih Rp 63,51 triliun untuk klaster kesehatan, Rp 220,39 triliun untuk perlindungan sosial, Rp 66,59 triliun untuk kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, Rp 112,44 triliun untuk mendukung UMKM, Rp 60,74 untuk pembiayaan korporasi, dan Rp 56,12 triliun untuk insentif usaha.
Banyak ugha ya…
Yep, tapi yha gimana, ekonomi kita teteup turun. Menurut ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara, penurunan ini terjadi karena pemerintah salah langkah dalam menyalurkan stimulis keuangan di tahun lalu. Selain itu, kepercayaan masyarakat juga belum pulih karena pemerintah belum bisa mengendalikan tambahan kasus harian kasus covid-19, jadi yhaa banyak warga yang teteup menunda konsumsi dan naro uangnya di bank.
I see, anything else? 
Lebih jauh Bhima juga menyebut bahwa Indonesia butuh waktu lama untuk memulihkan ekonomi, karena kepercayaan masyarakat terhadap vaksin udah berkurang. Padahal, program vaksinasi merupakan senjata utama untuk mendorong perekonomian.