Aksi Protes Warga Myanmar Tolak Kudeta Militer

64

Who’s finally pressed the unmute button on Myanmar?PBB aka the United Nations (UN) and other countries. 

On what? 
On aksi demo besar-besaran yang lagi terjadi di Myanmar.
Hah? Demo apaan? 
Demo menolak kudeta militer yang dilakukan sama kelompok militer Myanmar (Iyaa, yang ada video “ampun bang jago”-nyaaa). Jadi di awal Februari lalu, pemimpin sah dan demokratis Myanmar yang dipimpin sama Aung San Suu Kyi digulingkan dari pemerintahannya dan kemudian ditahan oleh kelompok militer. Since then, para anggota militer ini udah mengambil alih tampuk pemerintahan dan menahan Suu Kyi dan beberapa pejabat pemerintahannya dengan tuduhan melakukan kecurangan di pemilu tahun lalu (catch up! more here).  Nah, sejak itu, terjadi protes besar-besaran oleh warga yang menuntut supaya kekuasaan dibalikin lagi ke kelompok demokrasi…
 
Go on…
Awalnya, aksi protes dilakukan secara damai dengan masyarakat yang membawa balon, panci, hingga wajan untuk menunjukkan kekezelannya. Namun over the weekend kemarin, kondisi memanas setelah terjadinya aksi penembakan yang dilakukan oleh kelompok keamanan terhadap para pendemo, yang menyebabkan tewasnya dua orang peserta aksi. Hal ini kemudian bikin kondisi di sana makin mencekam, karena pihak militer juga mengancam bahwa mereka yang melakukan aksi protes bisa kehilangan nyawa.
SEEERIOUSLYYYY?
Yep, so far
, sejak aksi protesnya dilakukan di awal Februari lalu, udah ada tiga orang meninggal dan sekitar 640 orang yang ditangkap, didakwa, sampai dijatuhi hukuman. Jadi emang sejak kudeta dilakukan, aksi protes ini nggak henti-hentinya berlangsung di berbagai penjuru negeri. Pemerintah Myanmar sendiri udah sejak dua minggu yang lalu berusaha membendung aksi protes dengan melarang adanya kumpul-kumpul lebih dari lima orang, memberlakukan jam malam, hingga mematikan internet di malam hari. Tapi teteup aja, massa menggelar aksinya.
 
Terus, ada penjagaan?
Yha ada banget. Kelompok militer ini bahkan udah mengerahkan banyak kendaraan lapis baja untuk melakukan penjagaan di kota-kota besar Myanmar, kayak Yangon, Myitkyina, Mandalay, dan Sittwe untuk menghadapi para pemrotes ini.
Hmm so tense, what did the UN say? 
They said, “my mic is unmuted rite? Can everybody hear me?” Jadi baru aja kemarin, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres angkat bicara dan mendesak Militer Myanmar untuk menghentikan represi dan membebaskan ratusan demonstran yang ditangkap sejak awal aksi protes terjadi, sekaligus mengakhiri aksi kekerasan. Selain PBB, Uni Eropa juga udah mulai khawatir sama kondisi di Myanmar dan mereka berencana bakal menggunakan seluruh cara diplomatik untuk mencapai solusi dari masalah ini dan at the same time, menyiapkan sanksi terhadap Myanmar.
Anyone else?
Well, there’s a lot. Ada juga Amerika Serikat yang bilang bahwa mereka “deeply concerned” terhadap laporan-laporan terkait tindakan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap para pemrotes. Next, the UK juga bilang bahwa mereka bakal ‘take action’ lagi setelah mendengar ada korban tewas karena tembakan kelompok militer. Sebelumnya, pada minggu lalu, Inggris juga udah memberikan sanksi ke tiga jenderal Myanmar, dengan tuduhan melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Finally Singapura, sebagai investor asing terbesar di Myanmar, juga angkat bicara dan mendesak pihak militer untuk menahan diri, jangan sampai ada korban jiwa lagi, dan mengembalikan situasi seperti semula.
Whooaa, did Myanmar say anything? 
Yep.  Kementerian Luar Negeri Myanmar juga udah mengeluarkan pernyataan resmi dan bilang kalau PBB dan negara-negara asing lainnya telah melakukan ‘campur tangan’ terhadap urusan dalam negeri mereka. Menurut mereka, pihak berwenang melakukan pengamanan dengan kekuatan minimum, even dalam menghadapi demonstrasi yang nggak sah.
Hmmm ok, anything else? 
FYI, Facebook sampai menghapus page-nya militer Myanmar gara-gara mereka melanggar kebijakan Facebook tentang larangan melakukan penghasutan untuk kekerasan pada Minggu (21/2).  Selain itu, aksi anti-kudeta pada Senin (22/2) juga disebut sebagai aksi “2222” karena tanggalnya. Hal ini mirip sama aksi 8888 yang terjadi di Myanmar gara-gara kudeta di tahun 1988.