Rombongan Presiden Kunjungi Kalimantan Selatan Menerjang Banjir

40

Who’s just made a trip in the rain?

Pak Presiden Joko Widodo.

Really? 
Yep guys. Kemarin, Pak Jokowi baru aja berangkat dari Jakarta ke Kalimantan Selatan untuk melihat langsung kondisi lokasi banjir di Kabupaten Banjar. Banjir ini sendiri udah terjadi sejak Selasa (12/1).
 
Tell me more.
Dalam kunjungannya itu, Pak Jokowi menyampaikan dukacita yang mendalam atas korban yang meninggal di musibah tersebut. Beliau juga bilang bahwa banjir kali ini adalah banjir besar yang mungkin udah lebih dari 50 tahun nggak terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan.
 
Terus terus…
Nah pas lagi otw, rombongan mobil kepresidenan juga harus melewati banjir yang cukup tinggi, sampai roda mobilnya tenggelam. FYI guys, Pak Presiden juga melihat kondisi Jembatan Mataraman yang putus karena banjir.  As you know, Jembatan Mataraman ini adalah jembatan utama penghubung jalan Trans Kalimantan, tanpa jembatan ini, tidak ada akses ke wilayah banjir.
 
Go on…
Nah, dari hasil tinjauannya itu, Pak Jokowi kemudian memberikan tiga perintah kepada para jajarannya, yaitu:
  • Meminta Jembatan Mataraman yang putus, untuk diperbaiki dalam empat hari.
  • Memerintahkan supaya proses evakuasi masyarakat yang terdampak dilakukan dengan optimal oleh seluruh komponen.
  • Memastikan supaya logistik yang dikirim oleh pemerintah kepada masyarakat terdampak dapat tercukupi.
Got it.
Dalam keterangannya kemarin, Pak Jokowi juga menyebutkan bahwa banjir Kalsel ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga Sungai Barito tidak sanggup menampung air hujan yang turun. Menurutnya, Sungai Barito hanya mampu menapung 230 juta meter kubik air, sementara itu hujan deras yang terjadi di Kalsel mempunyai debit air sebesar 2,1 miliar meter kubik. That’s why banjir.
Curah hujan aja ni?
Nggak juga sih guys. Jadi kalo menurut Direktur Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Kalsel Kisworo Dwi Cahyono, namanya bencana alam pasti ada hubungannya sama kerusakan lingkungan. Yha emang curah hujan tinggi, namun ada faktor lain yang membuat banjir di Kalsel kian parah dari tahun ke tahun, yakni darurat ruang dan darurat bencana ekologis.
 
Maksudnya?
Well, jadi selain carut marut tata kelola lingkungan dan sumber daya alam, sejak beberapa tahun terakhir ini, Kalsel juga mengalami degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi tersebut ada 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara. Belum lagi lahan di Kalsel yang dari 3,7 juta hektar total luas lahan, hampir 50 persen di antaranya sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit. Nah, kerusakan ekosistem inilah yang bikin area tangkapan air tidak berfungsi secara maksimal hingga akhirnya terjadi banjir.
 
Jadi dalam bencana ini, BNBP mencatat ada 112.709 orang terdampak dan harus mengungsi. Selain itu, ada 27.111 rumah di 10 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang terendam banjir, dan ada sekitar 20 ribu masyarakat yang berada di pengungsian.