BPOM Umumkan Hasil Laporan Uji Klinis Vaksin Sinovac Efektif 65,3 Persen

170

What’s just been approved?Vaksin Sinovac.

By who? 
By Badan Pengawas Obat dan Makanan aka BPOM guys. Jadi kemarin banget nih, BPOM baru aja merilis hasil laporan uji klinis sementara tahap III-nya atas vaksin Sinovac asal China itu.
And the result is….. 
Pretty good. Sekarang, BPOM udah resmi ngasih izin penggunaan darurat aka Emergency Use Authorization (EUA) ke vaksin Sinovac.  Hasil laporannya bilang kalau tingkat keampuhan si vaksin corona ini sebesar 65,3 persen, meaning, angka ini udah sesuai sama standar ambang batasnya World Health Organization (WHO), yaitu sekitar 50 persen.
Whoaaa sounds like a good news???!!???
Yep, jadi melalui keterangan persnya kemarin, Kepala BPOM Bu Penny Lukito bilang bahwa data yang ada di laporan itu adalah hasil data keamanan terhadap subjek uji klinis yang diteliti setelah dua kali penyuntikan; adapun data yang diambil adalah data imunogenisitas (kemampuan vaksin membentuk antibodi); dan data efikasi vaksin atau kemampuan vaksin melindungi orang yang terpapar virus supaya nggak berujung sakit.
I see…tell me more about the riset dong…
Well, ada 1.620 relawan yang diteliti sama Tim FK Unpad Bandung, most of whom berusia di antara umur 18 sampai 59 tahun. Jadi para relawan ini udah disuntik untuk yang kedua kalinya per November 2020 kemarin, dan abis itu, mereka harus rutin diambil sampel darahnya per satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan ke depan setelah penyuntikan. Jadi emang guys, setelah data dianalisis sama BPOM, uji klinis bakal teteup lanjut abis approval, sampe pengamatan enam bulan selesai atau sekitar April atau Mei 2021 mendatang.
Got it. I need more details on the uji klinis, please. 
Ok. Jadi ada empat tahap uji klinis suatu vaksin, which are: 

  • Tahap Pra-klinis: Tahap di mana ilmuwan menyuntik vaksin ke hewan kayak tikus/monyet untuk melihat apakah si vaksin bisa memicu respon imun hewan atau nggak. Kalau udah aman, baru deh masuk proses uji klinis ke manusia.
  • Uji Klinis Tahap satu: Vaksin akan disuntik ke beberapa relawan, biasanya cuma puluhan orang dulu. Kalau lancar-lancar aja, baru deh masuk ke uji klinis tahap kedua.
  • Uji Klinis Tahap dua: Di tahap ini, vaksin akan disuntikkan ke lebih banyak relawan, biasanya ratusan. Kalau lancar, lanjut deh ke tahap ketiga.
  • Uji Klinis Tahap tiga: Dalam tahap ini, peneliti bakal membagi relawan menjadi dua kelompok untuk melihat perbandingan berapa banyak yang terinfeksi dan yang aman. Hal ini bakal menentukan apakah vaksinnya bisa melindungi orang dari virus corona atau nggak. Tahap ketiga ini diperlukan untuk tahu seberapa efektif dan dampaknya, sebelum dapat izin.

Ada efek samping dari vaksin ini nggak?

Well, menurut Bu Penny, efek samping dari vaksinnya sih dari ringan sampe sedang, kayak ada nyeri, iritasi, dan pembengkakan. Terus, kalau secara sistematis, efek sampingnya juga bisa berupa nyeri otot, kecapean, dan demam. Meski begitu, yang merasakan efek sampingnya cuma 0,1 sampai 1 persen, dan hal ini nggak berbahaya.
 
Cool…jadi bakal turun nih angka penderita corona di kita?
Iya gitu guys kata Bu Penny. Beliau menjelaskan, bahwa dengan efikasinya di 65 persen, maka estimasi penurunannya adalah 65 persen juga. Jadi misalnya saat ini ada 800 ribu kasus, maka dengan adanya vaksinasi, maka jumlahnya bisa menurun sebesar 65 persen dari 800 ribu tadi. Meski begitu, hasil efikasi ini masih sementara, karena BPOM bakal masih bakal memantau hasil uji klinis yang tiga atau enam bulan tadi guys.
 
So….
So in the meantime, tetep jaga jarak, pake masker, hindari kerumunan, hindari pegang-pegang muka, daaaan di rumah aja kalo memungkinan.
Got it. Anything else? 
So far udah ada 3 juta dosis vaksin Sinovac di Indonesia, dan vaksinasi bakal mulai dilakukan per 13 Januari 2021.  Tenaga kesehatan dan lansia menjadi prioritas untuk divaksin di tahap pertama ini gengs.  Selain Sinovac, bakal ada enam vaksin merek lain yang juga bakal digunakan di Indonesia, yakni dari Bio Farma, Astra Zeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax Inc., dan Pfizer BioNtech