Pemilu Di Myanmar 90 Partai Politik Berkompetisi Raih Kursi Parlemen

14

For when you thought we’ve done talking about elections…

Eittts, not yet guys. Now let’s talk about….
Myanmar election. 
 
Hah gimana? 
Yep, jadi nggak cuma Amerika Serikat yang baru selesai pemilu, namun negara tetangga Myanmar juga baru aja menggelar pesta demokrasi tersebut, tepatnya pada hari Minggu (9/11) kemarin.
 
Tell me more…
OK. Jadi pas pemilu kemarin itu, ada lebih dari 37 juta warga Myanmar yang bisa menggunakan hak pilihnya. Selanjutnya, ada lebih dari 90 partai politik (yep, you read it right!) yang ikut berkompetisi dalam pemilu untuk meraih kursi di Parlemen Myanmar.
Go on…
To give you some context, pada pemilu sebelumnya di  tahun 2015, partai yang keluar sebagai pemenang adalah Partai National League for Democracy (NLD) yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi. Partai ini berhasil menang melawan kekuatan militer yang berkuasa lebih dari 50 tahun, dan pada pemilu kali ini, NLD berupaya untuk mempertahankan kemenangannya.
Terus? Berhasil?
Masih penghitungan suara gengs, kan pemilunya baru Hari Minggu kemarin. Namun banyak prediksi yang menyebutkan bahwa Suu Kyi berhasil mempertahankan kemenangannya. Selanjutnya kemarin sore, partai-nya Suu Kyi aka NLD juga udah mengumumkan kemenangannya walaupun belum ada hasil resmi dari komisi pemilu di sana. Makin banyak yang begini de…
Tru.
Xixixii. Nah soal kemenangannya Suu Kyi ini, para pengamat menilai bahwa beliau tetap mendapat dukungan tinggi dari rakyatnya meskipun reputasinya di luar negeri udah minus gara-gara isu genosida etnis Rohingya. Selain itu, emang Suu Kyi merupakan satu-satunya politisi yang paling populer saat ini di Myanmar.
I see…tell me about the voting then. 
Well, meski lagi pandemi Covid-19,  komisi pemilu di sana tetap mengharuskan para pemilih untuk datang dan melakukan pencoblosan in-person. Belum dirilis secara resmi sih, jumlah voter turnout-nya berapa, namun yang pasti, muncul isu juga terkait hak pilih yang tidak diberikan kepada beberapa etnis minoritas.
HAH masa?
Yep, organisasi HAM Human Rights Watch (HRW) bahkan menilai pemilu ini “fundamentally flawed” karena banyak dari warga etnis minoritas yang nggak bisa milih. Selain etnis Rohingya, disebutkan bahwa ada juga etnis-etnis lainnya yang tidak memiliki hak memilih, dan totalnya ada sekitar 1,5 juta penduduk yang stripped off from their voting’s rights. 
Got it. Anything else?
Well, despite all, Mother Suu tetap diprediksi bakal memenangkan pemilu tahun ini.  Menurut analis politik, Richard Horsey, warga memilih Mother Suu karena dukungan personal tanpa melihat kinerjanya selama ini.  FYI, Aung Suu Kyi pernah mendapatkan Nobel Peace Prize di tahun 1991, namun pada tahun lalu, beliau justru disidang di Mahkamah Internasional di Belanda karena dugaan aksi genosida terhadap etnis Rohingya yang dilakukan di bawah pemerintahannya.