Kebiasaan Belanja Online Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

14

For when online shopping is your best friend…

There’s no going back. 

 
What do U mean?
Well, sejak pandemi Covid-19 ini menyebar, ngaku deh, kamu jadi lebih sering belanja online, even for groceries, kan?  Apparently, kebiasaan baru ini nggak bakal hilang, gengs.
Masa sih? 
Iya, berdasarkan risetnya McKinsey diketahui bahwa tren online shopping di China meningkat 3 – 6 persen dari total market share online.  Semakin lama pandemi, konsumen semakin terbiasa dengan kebiasaan ini dan nggak mau balik belanja kayak dulu.  Rata-rata konsumen udah belanja online selama setidaknya enam bulan, you know how hard it is to break a habit, right? 
Wah iya juga.
Nah, berdasarkan munculnya kebiasaan baru ini, tentunya perekonomian juga jadi terpengaruh, ada yang untung, ada yang justru makin rugi.
Tell me more.
Yha misalnya, obviously, perusahaan-perusahaan yang untung adalah perusahaan yang udah punya sistem online shopping sebelum pandemi, kayak Amazon. Lagi pandemi gini, Amazon bahkan harus terus-terusan merekrut karyawan-karyawan baru untuk memastikan supply chains-nya lancar.  Selain itu, Ikea juga mencatat kenaikan penjualan online sebanyak 45% selama 12 bulan sebelum Agustus kemarin.
Terus klo yang rugi?
Kebanyakan yang rugi ini adalah brand-brand yang sebelum pandemi lebih fokus ke penjualan di toko atau di mall. Nggak cuma mengalami kerugian, namun ada beberapa dari brand ini yang udah bangkrut kayak J.Crew, Brooks Brothers, Sur La Table, dll. Fyi guysbefore the pandemic, perusahaan retail biasanya cuma invest 10 persen untuk e-commerce, tapi sekarang naik jadi 30 – 40 persen.
Rite. Anything else? 
Well, Menurut prediksi eMarketer, penjualan dari e-commerce nya Amerika bakal naik menjadi 18 persen hingga $710 juta tahun ini. Sementara itu, penjualan global bakal naik 16,5 persen hingga $3,9 triliun.