Pemilu Pilkada 2020 Tetap Berlangsung

56

Who’s saying ‘the show must go on’? 

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia aka KPU RI.

Uhm….what show?
Pilkada Serentak 2020. Yep, like what we’ve already mentioned here and here, kamu pasti tahu bahwa salah satu kegiatan yang rencananya gaakan cancelled tahun ini adalah pemilihan kepala daerah 2020 yang bakal digelar pada 9 Desember mendatang.
 
I know. Any updates?
Yep, kayak yang kamu juga tentunya udah tau, kita baru aja melewati tahapan pendaftaran calon kepala daerah dan bentar lagi kita akan memasuki masa…jeng-jeng….kampanye yang akan dimulai pada 26 September mendatang.
 
Kampanye? Emang boleh lagi pandemi gini?
Boleh, though kampanyenya jadi ala-ala new normal gengs. So in case daerahmu bakal menggelar pilkada, bakal ada ketentuan-ketentuan baru dalam kampanye kali ini yang udah diatur dalam peraturan KPU (PKPU). Jadi salah satu aturannya adalah bahwa untuk kampanye pertemuan terbatas dan pertemuan tatap muka, maka hanya boleh dihadiri oleh maksimal 50 peserta, dan harus jaga jarak satu meter.
 
Terus terus apa lagi…
Selain itu, kampanye yang dilakukan secara tatap muka juga harus bisa diikuti sama peserta lain via media atau internet. Dalam pasal lain disebutkan juga bahwa untuk kampanye jenis rapat umum, maka kegiatan ini nggak boleh melibatkan balita, batita, ibu hamil/menyusui, dan orang lanjut usia.
 
Terus, masih boleh ada dangdutan gitu nggak?
Boleh guys. Jadi dalam aturan KPU, ada tujuh kegiatan yang nggak melanggar aturan kampanye, yaitu pentas seni, panen raya, konser musik, jalan santai, sepeda santai, lomba, bazar/donor darah, ulang tahun partai politik, atau melalui media daring. Meski boleh, teteup diatur bahwa untuk kegiatan kampanye rapat umum di tempat terbuka, maka maksimal warga yang boleh hadir adalah 100 orang.
 
HAH kok masih boleh sih?
Yha menurut KPU, karena emang aturan soal kampanye ini udah diatur di Undang-Undang, jadi KPU nggak bisa mengubah atau meniadakannya. Selain itu, Komisioner KPU I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi juga bilang bahwa sebenernya KPU udah punya rencana untuk bikin aturan yang lebih progresif terkait pandemi, tapi ya gabisa serta merta dilakukan karena harus sesuai dengan UU Pilkada.
 
I see. So how about the D-day?
During the d-day a.k.a hari H pencoblosan, akan ada beberapa hal yang beda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Jadi kalo biasanya kamu mencelupkan jari ke tinta pas udah selesai nyoblos, maka kali ini tintanya ditetes. Terus kamu wajib social distancing, gaboleh kontak fisik, wajib pake masker, dan ga boleh berkerumun. Selain itu, KPU juga mengatur bahwa kalo ada petugas, saksi maupun warga yang suhu tubuhnya di atas 37,3 derajat, maka mereka gaboleh ikut dalam proses.
 
So…are we safe?
Unclear. Karena sebenernya, banyak pihak khususnya dari kalangan pakar kesehatan yang meminta pemerintah maupun KPU untuk meninjau kembali rencana pilkada di tahun ini, mengingat angka penyebaran Covid-19 yang terus bertambah. Meanwhile, Pak Jokowi menyatakan bakal tetap menggelar pilkada sesuai jadwal.