Menolak Lupa Kasus Pembunuhan Aktivis HAM ‘Cak Munir’

54

Who’s people are remembering about?

Sumber foto: Medcom.id

Munir Said Thalib.
 
Who?
Munir atau akrabnya dipanggil Cak Munir adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia tanah air. Nah, kemarin, tepat 16 tahun lalu, Cak Munir meninggal dunia dalam penerbangannya dari Jakarta ke Belanda saat beliau mau S2. Hasil otopsi menunjukkan bahwa beliau meninggal karena racun arsenik.
 
Whaaat?
Yep, hal ini kemudian jadi salah satu preseden kelam terkait penegakkan HAM di Indonesia, karena sampe sekarang, kasus ini masih belum terungkap. Nah, terkait hal ini, kemarin, para netizen di Twitter memperingati meninggalnya Cak Munir dengan hashtag #MenolakLupa dan #16tahunpembunuhanmunir jadi trending di Twitter.
 
Wait, I need some background.
Got it. Jadi Cak Munir ini aktivis HAM yang aktif dalam usaha-usaha penegakkan HAM di Indonesia. Beberapa kasus yang beliau tangani adalah terkait perburuhan, pertanahan, lingkungan, gender, dan sejumlah kasus pelanggaran hak sipil dan politik.
 
Zoom in, please…
OK. Jadi kasus-kasus yang pernah beliau tangani di antaranya adalah kasus dibunuhnya aktivis buruh Marsinah, kasus penghilangan paksa 24 aktivis politik dan mahasiswa pas kerusuhan di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998, tragedi Tanjung Priok 1984 hingga 1998, penembakan Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999), kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Aceh dan Papua, dan masih banyak lagi.
Whoaaa that’s a lot.
True. Selain itu, Cak Munir juga mendirikan beberapa lembaga HAM kayak KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dan Imparsial. Dalam aktivitas penegakkan HAM-nya inilah, Cak Munir juga sering dapet ancaman intimidasi kayak rumahnya dikirimi bom, dan kantor KontraS diserang.
So, do we get into the murdering part now?
Yes. Jadi di tahun 2004, beliau kemudian berangkat ke Belanda untuk lanjut kuliah S2 di bidang hukum. Pas penerbangan ke Belanda inilah, Cak Munir meninggal. Beliau yang naik Garuda Indonesia ini meninggal dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol, Belanda, dan hasil otopsi menemukan adanya racun arsenik yang melebihi dosis dalam tubuhnya.
 
OMG…
Yes, waktu itu, untuk mengungkap kasus pembunuhan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian membentuk TPF aka Tim Pencari Fakta yang berisi masyarakat sipil untuk membantu polisi dalam mengungkap kasus ini. Ga hanya polisi, upaya pengungkapan juga melibatkan Badan Intelejen Negara (BIN), Garuda Indonesia, dan beberapa jajaran menteri di kabinetnya Pak SBY.
 
Do we have a suspect?
Yep, salah satunya adalah mantan pilot Garuda yang satu pesawat sama Munir waktu itu, namanya Pollycarpus Budihari Priyanto. Dalam keputusan hakim, Pollycarpus ini diputuskan bersalah dan menjadi terdakwa atas kasus meninggalnya Munir. Beliau kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun, namun kemudian sering dapet remisi hingga hukumannya jadi hanya dijalaninya selama delapan tahun aja. Sekarang, beliau udah bebas.
That’s it? Only him?
Well, di tahun 2008 lalu, ada juga orang BIN, namanya Muchdi PR yang sempat ditetapkan tersangka karena diduga kuat terlibat kasus ini karena dia banyak banget telponan sama Pollycarpus menjelang meninggalnya Munir. Totalnya, diduga ada 41 catatan telepon yang berhasil didapatkan kepolisian, namun rekaman tersebut ga pernah dibuka di persidangan. Selanjutnya, beberapa bulan kemudian Muchdi dinyatakan nggak bersalah dan dibebaskan dari segala dakwaan.
 
So, where are going we from here?
Raise your hand if you believe that Pollycarpus is the only person that planned the murder. No one? Ok then. Hingga saat ini, berbagai elemen Hak Asasi Manusia masih sangat aktif menyerukan pada pemerintah untuk mengungkap dalang di balik kasus kematian Cak Munir. Selain itu, kemarin, Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid juga menyatakan bahwa dalam dua tahun lagi, kasus Munir ini bakal kadaluarsa. Artinya, kasusnya nggak akan bisa dibuka dan diusut lagi.
 
Well, what can I do to support?
For starter, getting yourself informed about human rights issue in Indonesia could be a great starting point. Kamu bisa baca buku-buku terkait HAM atau kalau kamu lagi di daerah Jawa Timur, kamu juga bisa berkunjung ke Museum Omah Munir, asal tetap jaga protokol kesehatan ya! Selanjutnya, kalo kamu tertarik, kamu juga bisa ikut aksi-aksi terkait HAM ex: Aksi Kamisan (yang sekarang digelar online) maupun aksi lainnya yang menolak aturan-aturan yang menurutmu bakal mengancam hak asasimu. Selain itu, kamu juga bisa berdonasi buat lembaga-lembaga HAM kayak KontraSLBH JakartaElsam, atau LBH-LBH di kotamu. God speed!