Menolak Lupa Kasus Pembunuhan Aktivis HAM ‘Cak Munir’, Jokowi Bentuk Tim Khusus Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19, Waspada Cluster Covid-19 Ditengah Pilkada, Banyak Memberi Bisa Perpanjang Umur

65

Who’s people are remembering about?

Sumber foto: Medcom.id

Munir Said Thalib.

Yesterday, we commemorated the murder of our Human Rights hero, Munir Said Thalib. Sixteen years later, his principal values on freedom, human dignity, and equality still become an inspiration for every movement, action, and protest against injustice in our country. Because we know that the fight for our freedom, my friends, cannot be silenced.

Whose murder are we commemorating about?

Munir atau akrabnya dipanggil Cak Munir adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia tanah air. Nah, kemarin, tepat 16 tahun lalu, Cak Munir meninggal dunia dalam penerbangannya dari Jakarta ke Belanda saat beliau mau S2. Hasil otopsi menunjukkan bahwa beliau meninggal karena racun arsenik.

Whaaat?
Yep, hal ini kemudian jadi salah satu preseden kelam terkait penegakkan HAM di Indonesia, karena sampe sekarang, kasus ini masih belum terungkap. Nah, terkait hal ini, kemarin, para netizen di Twitter memperingati meninggalnya Cak Munir dengan hashtag #MenolakLupa dan #16tahunpembunuhanmunir jadi trending di Twitter.
 
Wait, I need some background.
Got it. Jadi Cak Munir ini aktivis HAM yang aktif dalam usaha-usaha penegakkan HAM di Indonesia. Beberapa kasus yang beliau tangani adalah terkait perburuhan, pertanahan, lingkungan, gender, dan sejumlah kasus pelanggaran hak sipil dan politik.
 
Zoom in, please…
OK. Jadi kasus-kasus yang pernah beliau tangani di antaranya adalah kasus dibunuhnya aktivis buruh Marsinah, kasus penghilangan paksa 24 aktivis politik dan mahasiswa pas kerusuhan di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998, tragedi Tanjung Priok 1984 hingga 1998, penembakan Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999), kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Aceh dan Papua, dan masih banyak lagi.
Whoaaa that’s a lot.
True. Selain itu, Cak Munir juga mendirikan beberapa lembaga HAM kayak KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dan Imparsial. Dalam aktivitas penegakkan HAM-nya inilah, Cak Munir juga sering dapet ancaman intimidasi kayak rumahnya dikirimi bom, dan kantor KontraS diserang.
So, do we get into the murdering part now?
Yes. Jadi di tahun 2004, beliau kemudian berangkat ke Belanda untuk lanjut kuliah S2 di bidang hukum. Pas penerbangan ke Belanda inilah, Cak Munir meninggal. Beliau yang naik Garuda Indonesia ini meninggal dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol, Belanda, dan hasil otopsi menemukan adanya racun arsenik yang melebihi dosis dalam tubuhnya.
 
OMG…
Yes, waktu itu, untuk mengungkap kasus pembunuhan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian membentuk TPF aka Tim Pencari Fakta yang berisi masyarakat sipil untuk membantu polisi dalam mengungkap kasus ini. Ga hanya polisi, upaya pengungkapan juga melibatkan Badan Intelejen Negara (BIN), Garuda Indonesia, dan beberapa jajaran menteri di kabinetnya Pak SBY.
 
Do we have a suspect?
Yep, salah satunya adalah mantan pilot Garuda yang satu pesawat sama Munir waktu itu, namanya Pollycarpus Budihari Priyanto. Dalam keputusan hakim, Pollycarpus ini diputuskan bersalah dan menjadi terdakwa atas kasus meninggalnya Munir. Beliau kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun, namun kemudian sering dapet remisi hingga hukumannya jadi hanya dijalaninya selama delapan tahun aja. Sekarang, beliau udah bebas.
That’s it? Only him?
Well, di tahun 2008 lalu, ada juga orang BIN, namanya Muchdi PR yang sempat ditetapkan tersangka karena diduga kuat terlibat kasus ini karena dia banyak banget telponan sama Pollycarpus menjelang meninggalnya Munir. Totalnya, diduga ada 41 catatan telepon yang berhasil didapatkan kepolisian, namun rekaman tersebut ga pernah dibuka di persidangan. Selanjutnya, beberapa bulan kemudian Muchdi dinyatakan nggak bersalah dan dibebaskan dari segala dakwaan.
 
So, where are going we from here?
Raise your hand if you believe that Pollycarpus is the only person that planned the murder. No one? Ok then. Hingga saat ini, berbagai elemen Hak Asasi Manusia masih sangat aktif menyerukan pada pemerintah untuk mengungkap dalang di balik kasus kematian Cak Munir. Selain itu, kemarin, Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid juga menyatakan bahwa dalam dua tahun lagi, kasus Munir ini bakal kadaluarsa. Artinya, kasusnya nggak akan bisa dibuka dan diusut lagi.
Well, what can I do to support?
For starter, getting yourself informed about human rights issue in Indonesia could be a great starting point. Kamu bisa baca buku-buku terkait HAM atau kalau kamu lagi di daerah Jawa Timur, kamu juga bisa berkunjung ke Museum Omah Munir, asal tetap jaga protokol kesehatan ya! Selanjutnya, kalo kamu tertarik, kamu juga bisa ikut aksi-aksi terkait HAM ex: Aksi Kamisan (yang sekarang digelar online) maupun aksi lainnya yang menolak aturan-aturan yang menurutmu bakal mengancam hak asasimu. Selain itu, kamu juga bisa berdonasi buat lembaga-lembaga HAM kayak KontraSLBH JakartaElsam, atau LBH-LBH di kotamu. God speed!

For when there’s another Covid-19 team added to the list…

Sumber foto: cnbcindonesia.com

Everyone, meet: Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19.

What is that?
Jadi kayak namanya, tim ini adalah tim yang ditugasin khusus sama Pak Presiden Jokowi untuk mempercepat pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia. Tim ini baru aja diumumkan sama Pak Jokowi kemarin, dan diisi oleh para menteri di kabinetnya.
Lah bukannya udah ada tim covid ya? 
Beda, karena tim ini bakal fokus aja ke pengembangan vaksin. Selain itu, tim ini juga bakal bertanggungjawab langsung ke Presiden. Disebutkan juga bahwa ada empat tujuan dari pembentukan tim vaksin covid-19, yaitu terkait pengembangan vaksin covid-19 di Indonesia, kayak melakukan penelitian, pengembangan dan pengkajian tentang vaksin covid-19.
I see. Jadi anggotanya ada siapa aja? 
Well, structurally, di timnya itu ada Pengarah, Penanggung Jawab, dan Pelaksana Harian.  Here’s for some detail:
 

Pengarah: 

  • Ketua Pengarah:  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
  • Anggota Pengarah:  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,  dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.

 Penanggung jawab: 

  • Ketua:  Menteri Ristek dan Teknologi/Kepala BRIN
  • Wakil Ketua I:  Menteri Kesehatan
  • Wakil Ketua II:  Menteri BUMN
  • Anggota: Menteri Luar Negeri, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Pelaksana harian:
  • Kemristek, Kemenkes, Kementerian BUMN, Kemenperin, Kemendag, Kemdikbud, BPOM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, perguruan tinggi, dan badan usaha.
Got it.
Cool. FYI jadi dalam menjalankan tugasnya itu, Ketua Penanggung Jawab wajib ngasih laporan ke presiden dan tim pengarah paling sedikit satu kali dalam enam bulan, atau tergantung kapan dibutuhkan. Tim ini rencananya nya bakal kerja sampai 31 Desember 2021.

Who’s just flagged the warning sign?

Sumber foto: cnnindonesia.com
Pak Jokowi.
Warnings on what?
The regional elections aka Pilkada. Jadi kan weekend kemarin, ratusan pasangan calon kepala daerah di berbagai kabupaten/kota provinsi yang mendaftarkan diri ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di daerahnya. Some of which are… ngumpul-ngumpul rombongan, bikin arak-arakan, bikin kerumunan dan tentunya, nggak mempraktekkan social distancing. A big no-no di masa pandemi Covid-19 gini.
Jadi, ini yang diingetin sama Pak Jokowi?
Yep, beliau bilang dalam rapat sama menteri-menteri kemarin, bahwa Mendagri Pak Tito Karnavian harus hati-hati, jangan sampe muncul “klaster pilkada” gara-gara kejadian kemarin. Menurutnya, selama ini kita terlalu fokus ke penyebaran Covid-19 di klaster umum atau di fasilitas umum, padahal ada juga ‘klaster keluarga’ dan ‘klaster kantor’. Terus sekarang…klaster pilkada.
 
Terus gimana?
Ya sebagai mitra pemerintah untuk urusan Pilkada ini, Pak Jokowi ngingetin Mendagri untuk bener-bener tegas meminta para pihak untuk bener-bener mematuhi protokol kesehatan. Beliau juga meminta polisi untuk ikut mengawasi tahapan Pilkada 2020, khususnya tentang penerapan protokol kesehatan.
 
Pak Tito sendiri ada komentar nggak?
Beliau juga udah berkali-kali ngingetin para calon kepala daerah untuk mematuhi protokol kesehatan, karena kalo terjadi penularan pas lagi Pilkada, hal ini bakal jadi preseden yang tidak baik. Beliau juga udah kordinasi sama para penyelenggara pemilu, kayak KPU dan Bawaslu untuk mengawasi dipatuhinya protokol kesehatan ini oleh para calon.
 
I see. Anything else?
Well, soal ngumpul-ngumpul pas pendaftaran calon ini, Bawaslu sebagai pihak pengawas dalam penyelenggaraan pemilu menyebutkan bahwa selama periode pendaftaran calon yang berlangsung selama dua hari (4-6 September) kemarin, diketahui bahwa ada 243 dugaan pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan bakal calon kepala daerah. Totalnya, hari pertama 141 (dugaan pelanggaran), hari kedua ada 102. FYI gengs, melanggar protokol kesehatan kayak gini ada hukuman pidananya lho, bisa didenda, bisa hukuman penjara.

For when “sharing is caring” is your new mantra…

Sumber foto: cnn.com

Sharing could also means: living longer

Yep, penelitian terbaru menunjukkan, bahwa mereka yang banyak memberi cenderung memiliki usia yang lebih panjang dibanding mereka yang nggak. Dalam penelitian yang dirilis minggu lalu oleh the Proceedings of the National Academy of Science itu, ditemukan juga bahwa ada hubungan yang linear antara frekuensi pemberian kekayaan dengan berapa panjang umur seseorang.
Adapun contohnya adalah dua negara, Prancis dan Jepang yang diketahui memiliki resiko kematian terendah dan memiliki rasio rata-rata “berbagi” paling tinggi. Dari itungannya, diketahui bahwa warga di negara-negara ini membagi pendapatan seumur hidupnya (average lifetime income) sebesar 68% – 69%. Sebagai perbandingan, warga di China dan Turki membagikan pendapatan mereka sebanyak 44%-48% dan mortality rate-nya lebih tinggi dua kali lipat dibanding Prancis dan Jepang.
Finally, dan ini yang paling menarik, dari penelitian tadi ditemukan juga negara-negara dengan angka berbagi paling rendah adalah negara-negara di sub-Sahara Afrika dan *uhuk* Asia Tenggara *uhuk* dan hasilnya, mereka yang tinggal di negara-negara ini mengalami jangka waktu kehidupan yang lebih pendek.
 
Brb we’re checking our donation list…

#BoycottMulan

Adalah hashtag yang baru-baru ini lagi trending di antara para aktivis HAM di Hong Kong, Taiwan dan Thailand ga lama setelah film tersebut akhirnya rilis di channel berbayar Disney+. Seruan ini muncul karena pemeran utama Mulan, aktris Chinese-American Liu Yifei pada Agustus 2019 lalu menyatakan dukungannya atas kekerasan polisi yang dilakukan terhadap para demonstran prodemokrasi di Hong Kong. Waktu itu, Yifei nge-Weibo “I support the Hong Kong police. You can all attack me now. What a shame for Hong Kong,” yang langsung disambut sama dukungan dari publik China, tapi backlash dari warga Hong Kong.
…..

Angel’s Stories

1. Gue pengen bilang makasih banyak buat anon yang ngerekomendasiin podcast Boker di Friday Pause tanggal 28 Agustus. Jadi beberapa minggu kebelakang gue emang lagi banyak yang dipikirin. Biasanya gue denger podcast di Spotify sih. Dan tiap liat chart, notice juga ada podcast Boker, cuma waktu itu gue gak tertarik aja. Dan karena rekomendasi lo, gue akhirnya dengerin. Berkat lo gue bisa ketawa lagi, bisa semangat lagi. Sekali lagi, thank you so much for bringing happiness again to my life. :’)
-Han, Bekasi-
2. I was scrolling my twitter when suddenly a tweet caught my attention. Ada seorang selebtwit yg suka rescue stray cats dan dia lakukan kegiatan itu secara rutin. Kemudian daku kepikiran beberapa voucher diskon yg ku punya di sebuah market place. Sepertinya voucher itu lebih berguna jika daku beliin makanan buat para kucing daripada nambah koleksi skincareku (hahaha, maklum mata suka ijo kalau liat promo). So, I decided to ask that cat savior about his address and sent him some cat food to support his good deeds. Semoga mimpinya buat bikin shelter untuk para kucing terlantar bisa segera terwujud. Hidup kocheng 🤣
-Fu (a cat slave)-
 
3. Tahun lalu, malam minggu di lesehan Pecel Lele. saat itu aku makan sendirian, pesen nasi tempe tahu. karena tempat duduknya sedikit akhirnya aku duduk di samping mas-mas. Kami engga ngobrol banyak cuman bilang permisi ikut duduk di situ dan masnya mengiyakan.Masnya selesai makan duluan. aku masih makan. setelah itu mau bayar tapi kata penjualnya makanan dan minumanku udah dibayarin sama masnya tadi yang duduk disamping aku.”Udah dibayarin mba sama masnya yg tadi disamping mbanknya.””ha? mas kenal sama mas tadi?””laah dikira mba temennya.””engga, mas. aku engga kenal dia.””yaudah, mba rezeki mba tuh.””alhamdulillaah.. cuman heran aja gitu mas. kalau ketemu sama masnya titip bilang terima kasih ya..”Mas penjualnya mengiyakan. Sepanjang jalan pulang, perasaan heran sama terharu campur aduk. Sampai aku nangis, ternyata masih ada orang baik tanpa pamrih. Sepanjang perjalanan pulang juga, aku terus mendo’akan masnya karena telah baik sama aku.Semenjak itu, aku jadi yakin kalau berbuat baik tidak perlu pandang kenal atau tidak, banyak atau sedikit. Kemudian, aku mencoba mengikuti jejak masnya, beli jus mangga buat bapak-bapak petugas parkir di sebuah tempat makan ayam geprek, jusnya tidak dikasih langsung sama aku tapi dititip melalui mas pelayannya. Setelah itu, munculah perasaan lega karena bisa berbagi dan semoga hal berbagi yang mengikuti jejak masnya bisa menjadi aliran amal baik buat masnya.Warungboto, Jogja
-Na_-
(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here(can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. Come, share us your versions of angels!)

Catch Me Up! Recommendations

These days have been confusing and weird, we agree. So why don’t you pause, catch a breath, and give your head the much needed rest with this technique