Friday Pause: I’m like a bird…

30

For the love of Meme: When it’s only the first week of S.2 quarantine…


Hi, everybody meet: journaling. Journaling, meet: everybody.

Yep, it’s the “Dear Diary” moment all over again…
Untuk kamu yang lived through the 90’s, chances are, for once in your life, kamu pasti pernah nulis diary. Yep, beneran diary yang pake buku *we’re not talking about lengthy captions on your close friends IG Story post….* dan kalo kamu udah ninggalin kebiasaan itu, now is probably time to consider journaling again.
 
Kenapa?
Karena menurut para ahli, journaling itu bagus buat kesehatan mental kamu. Hal ini karena nge-journal bisa bikin kamu mengklarifikasi apa yang ada di pikiran atau perasaan kamu, dan dengan rutin melakukan ini, kamu jadi bisa lebih mengenal diri kita sendiri.  Selain itu, dengan writing down our problems, kita jadi bisa lebih jernih dalam mencari solusinya.
Nah, sekarang from the health perspective, nge-journal juga bisa mendatangkan beberapa manfaat, kayak:
  • Mengurangi gejala asma, arthritis, dan kondisi kesehatan lainnya
  • Meningkatkan kemampuan kognitif kita (nalar)
  • Memperkuat respon sistem imun kita.
  • Melawan efek-efek negatif akibat stres.
Now, have we convinced you yet? Shall we get down to business? Yuk cek  beberapa hal yang bisa kamu coba ketika mulai nge-journal:
  • Gratitude Journal: This is TBH our favorite kind of journal. Jadi sama kayak namanya, gratitude journal ini merupakan jurnal khusus untuk bersyukur. Biasanya, gratitude journaling dilakukan sebelum tidur, di mana kamu bakal nge-list down hal-hal apa yang kamu syukuri di hari itu. Hal-hal kecil dari “a very good coffee I had this morning” to “My boss complimented my presentation deck” bisa kamu tulis di jurnal tersebut. Setelah kamu list down, terus kamu baca lagi daftarnya dan most likely, kamu bakal merasa lebih positif karena kamu udah mengalihkan memori kamu di hari itu ke kejadian-kejadian yang positif juga. Coba deh.
  • Emotional Release:  Kamu juga bisa nulis tentang perasaan kamu terhadap hal-hal yang terjadi di harimu, good and bad. You can get all naked and open about your feeling and don’t have to worry about how many people “have seen” your writings. Emang sih, era socmed kayak sekarang udah me-normalize kamu untuk mencurhatkan all your vulnerabilities & your bare feeling into social media, and we’re not here to tell you if it’s good or bad, but it’s always good to have alternative. Try to write down your emotions on your diary and see how it can help you manage your stress and anxiety differently. Hal ini karena dengan menumpahkan emosi dan perasaanmu dalam bentuk tulisan, secara nggak langsung kamu jadi bisa memproses perasaanmu dengan lebih baik. Percaya deh, dengan baca ulang tulisanmu, kamu jadi tahu nih, apa sih yang bikin kamu feeling restless? feeling lonely or sad? What are the root causes? This is when emotional journaling comes in handy.
  • Personal Planning Journal:  Ada juga orang yang nge-journal simply untuk mastiin apa aja yang harus mereka lakukan setiap hari, targetnya apa, memories yang ingin dia ciptakan, dan hal-hal yang merupakan pengingat biar nggak lupa aja. Personal planning journal ini juga bagus buat kamu keep track sama goals jangka menengah maupun jangka panjang yang ingin kamu capai. Misalnya, mau jadi bake expert once the pandemic ends? Jot down all kind of desserts yang kamu pengen pelajari cara bikinnya dan jangan lupa untuk ngecek catatan kamu tiap hari. Again, you can always just do this by bookmarking the recipes from the internet, tapi penelitian menyebutkan bahwa kalo sesuatu itu literally ditulis tangan, kamu bakal lebih inget sama apa yang kamu tulis, instead of yang selewat aja kamu baca. Selain itu, personal planning journaling juga bisa mengingatkan kamu tentang hal apa saja yang penting untuk kamu lakukan, dan bikin pikiran kamu jadi lebih ‘organized’Usually this will make us feel less stressed.

  • Art Journals:  For those of you yang nggak suka nulis, kamu bisa milih alternatif untuk ngegambar. Pilihan ini tentunya bisa lebih menyenangkan karena kamu jadi nggak perlu mikirin tentang grammar or anything else. Selain itu, tentunya kamu juga jadi bisa channeling your inner artsy soul tanpa takut di-judge. Need more conviction? Well, hasil riset juga menunjukkan bahwa bahwa ketika kamu lagi nge-doodle, kamu akan lebih relaxed, possibly karena art itu terbukti mengurangi kadar ‘cortisol’ or the ‘stress hormone’ di tubuh kamu. So scooch over, Picasso.


Here comes your weekly quarantips…

Guuuys, as you know, this is the part where we can tell you, “Hey, this is what you can do/read/listen to/learn how to cook this weekend!” So, let’s go!
 
PS: We LOVE to hear what you love! Jadi kalo kamu punya rekomendasi-rekomendasi menarik yang bisa kita feature di sini, don’t be shy! Shoot away your favorite books/songs/podcast/movies/ aka ANYTHING here, and we will feature it here. Go go go!
  • Podcast MENDOAN. Buat kamu para perantau yang kangen dengan obrolan dan guyonan ringan khas Jawa Timur, I highly recommend this podcast. (Anonymous)

  • “Born to Love, Cursed to Feel”. I wholeheartedly recommend this book to anyone looking to read contemporary poetry written in a narrative format and easy to follow. We are all born to find love and cursed to deal with feelings and emotions along the way. (fildz)

  • The Gifted Graduation, series Thailand yang oke banget lah biar setiap minggu ga terlalu kosong. Cocok untuk pencinta sci-fiction. (ayswldr)

  • A 25-minutes HIIT workout with all Taylor Swift playlist. No, we can’t calm down. (us)

  • Here’s to someone that’s SO DONE with all this uncertainty/workloads/study/anything, I recommend you to try doing simple yoga, it really helps me to be calmer & to have the peace of mind (and it helps to ease the PMS pains too!). And while doing yoga, you can listen to this playlist, promise you, you’ll feel better. 🙂 ([email protected]id)

  • Lagi pandemi gini, aku jadi banyak waktu untuk baca novel, dan aku mau ngerekomendasiin bukunya Ika Natassa yang judulnya “A very yuppy wedding” ya aku telat sih tapi serius bacanya bikin senyum-senyum sendiri!” (Anonymous)
  • Buat yang belum nonton, harus banget ini. Taylor Swift performing Betty on AMA. (a crazy swifties)

  • Di tengah-tengah pandemi, me and my girlboss gang sering sharing. Dari achievement temenku yang lulus dari Harvard sampai temenku yang sukses bangun catering. Ga lupa curcol kita yg masih unmarried di late 20’s hahaha. Obrolan kami di grup cenderung uncensored and mature, hingga akhirnya kita merasa yang namanya communication skills apapun bentuknya penting banget! Ku terinspirasi dari grup kecil kesayanganku ini dari SMA untuk membuat podcast yang isinya tentang kegalauan kami (ehem, self-proclaim alpha females) yang mungkin terdengar cheesy tapi ku sampaikan secara jujur apa adanya dari sudut pandang yang realistis. Podcast yang nyaman didengarkan sebelum bobok, katanya suaraku menenangkan hehe. @sedikit.tentang (Inggi di Bandung)

Quote of the day:
“Have the courage to follow your heart and intuition. They somehow know what you truly want to become.”

-Steve Jobs-

Angel’s Stories

  1. There was a time when I went back home after work.. It was a crowded highway in a busy town, but I couldn’t cross the street due to arus balik, so semua kendaraan berlomba-lomba seperti ngebut karena kondisi jalanan lancar jaya, dan tidak ada jalur khusus untuk penyeberang jalan (zebra crossand lampu lalin. After a few minutes, finally a car stopped and just let me cross the streetI thanked him/her (‘coz I didn’t look inside the carwith a nod as my gratitude. It really made me melt. How a simple kindness can be so meaningful in this rough world. Keep doing good and spread kindness in any situation!
    [email protected]

  2. Salah satu profesi yang aku kepikiran banget gimana nasibnya kala pandemi ini adalah guru ngaji. Hal ini karena setahu aku, guru ngaji itu rata-rata informal, khususnya yang ada di kampung-kampung di kota kecil (karena aku tinggal di daerah kayak gini) dan pas lagi nggak pandemi aja, biasanya mereka nggak mengambil pungutan biaya alias sukarela. Nah dengan adanya pandemi, aku beneran nggak tau pendapatan mereka dari mana, karena otomatis, semua majelis-majelis pengajian buat anak-anak maupun orang tua ditiadakan. Setelah mikir berkali-kali karena MALU (jangan dicontoh ya guys) aku akhirnya menghubungi guru ngaji aku pas SD dan aku bilang bahwa ada sedikit bantuan buat beliau dan keluarganya. Respons dia seneeeeng banget karena aku juga udah lama nggak mengontak dia. Aku kemudian mentransfer dia sejumlah uang yang nggak seberapa dan dia sampe nelepon aku untuk berkali-kali berterima kasih. Ya ampun hati ini ademmmm.
    -Like earth, West Java-
  3. Aku diem-diem beliin beras (walaupun nggak banyak) di platform e-commerce untuk dikirim langsung ke dua temen kantorku karena gaji kami di sektor pariwisata turun 50% dan ada desas-desus akan mulai ada beberapa yang harus cuti unpaid.. Kebetulan di rumahku beras masih cukup banget karena dikirimin saudara dan akan dapat jatah bansos dari pemda, sementara mereka berdua anak rantau. huhu. Walaupun kecil, semoga membantu..
    -Anonymous-

    (We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience firsthand (or no), basically, anything!) and we will feature it 
    here. Come, share us your versions of angels!)