Pemanasan Global Di Amerika Meningkat

36

What’s more extreme than your mood during PMS?

Sumber foto: cnn.com
The weather. EXTREME weather.

Eh?
Iya, jadi studi baru yang dilakukan di Amerika Serikat baru aja sends a chilling message: resiko meningkatnya pemanasan di kota-kota besar di Amerika Serikat, bakal melonjak hingga 13 sampe 30 kali lipat di tahun 2100 mendatang, kalao emisi gas rumah kacanya nggak dikendalikan.
Whoaaaa tell me more. PLZ. 
Ok. Jadi dalam studi yang di-publish kemarin di dalam Journal Proceedings of the National Academy of Sciencesdijelaskan bahwa ada dua tantangan terbesar di abad ini terkait extreme weather: kemampuan manusia dalam mengatasi pemanasan global dan kemampuan kita beradaptasi terhadap suhu bumi yang naik.
 
Whooaa.. details please. 
Right, before we go on, here’s a quick review.  Pemanasan global/global warming itu berarti adanya kenaikan suhu iklim di bumi kita. Kenapa bisa naik? Karena adanya gas rumah kaca yang terperangkap di permukaan bumi, hingga akhirnya buminya makin panas. Gas-gas rumah kaca ini terdiri dari mostly karbon dioksida, methane, dan lainnya. Nah, ketika suhu iklim kita naik, cuaca bakal jadi lebih ‘extreme’ or lebih ‘parah’. Jadi, ketika panas, bakal panas banget, dan ketika dingin, bakal dingin banget. Right now, we’re talking about dampak yang ‘panas banget’.
Got it, lanjut… 
Back to the study, jadi penelitian ini berfokus pada 47 kota besar di Amerika Serikat. Adapun hasil pengukuran para peneliti menunjukkan bahwa New York City merupakan kota dengan resiko exposure terhadap suhu panas yang paling tinggi dibanding kota-kota padat lainnya, disusul kemudian oleh Washington, Atlanta dan Los Angeles.
Sounds like all big cities…
Smart cookie. Jadi emang makin padat kotanya, kemungkinan warga terekspos ke resiko cuaca panas yang ekstrim juga makin tinggi. Meski begitu, penelitian lain juga menyebutkan bahwa “Sun Belt cities” kayak Atlanta, Austin, Miami, dan Orlando juga bakal mengalami cuaca panas parah.
 
Ini semua gara-gara apa si?
Yha emisi gas tadi. Selain itu, faktor utama lain yang juga menyebabkan extreme heat di kota-kota besar adalah makin masifnya proyek pembangunan, which means, makin sedikitnya ruang terbuka hijau, makin banyaknya bangunan yang menyerap panas, sampe efek penggunaan aspal yang juga bikin hareudang, hareudang, hareudang…
 
Terus gimana?
Yhaaa tentu kota-kota tadi udah harus mulai mikirin pendekatan pembangunan urban yang juga peduli terhadap isu lingkungan, considering bahwa sekitar 80 persen penduduk AS tinggal di area urban. Selain itu, fakta juga menunjukkan bahwa terekspos panas ekstrim merupakan salah satu penyebab kematian di negara tersebut, dengan 702 rata-rata kematian setiap tahunnya.