Blokir Internet di Myanmar

47

For when you’re tired of hearing Covid-19 news every day…

Gambar: cnnindonesia.com

Some people in Myanmar can’t relate.

Hah gimana maksudnya?
Iya, while kamu udah bosen banget baca berita soal Covid-19 (trust us, US TOO!), namun ada satu negara yang ratusan ribu penduduknya justru nggak tau apa itu Covid-19.

HAH serius?
Yep, please welcome, the Rohingya refugees yang tinggal di Rakhine State, Myanmar. Jadi kan mereka ini tinggal di kamp-kamp pengungsian, dan sejak tahun lalu, akses internet di sana diblokir full.

Whaaat??
Iya, alasan pemerintah setempat sih katanya untuk menghentikan penyebaran informasi yang bisa menyulut konflik antara kelompok militer dan pemberontak di sana. Tapi jadinya, para pengungsi yang berjumlah 800 ribuan orang itu malah jadi gatau apa-apa soal Covid-19.

Myyyy goodness.
Yeah, it’s that bad. Jadi menurut Kelompok HAM kayak Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International, tindakan pemerintah Myanmar ini bahaya karena nggak cuma menyebabkan pelanggaran HAM makin rawan terjadi, tapi juga warga jadi gatau bahwa mereka harus pake masker/physical distancing/cuci tangan karena informasinya di-block.

Terus emang kenapa di-block sih?
Jadi hal ini bermula dari bentrokan yang terjadi antara tentara militer Myanmar dengan kelompok pemberontak terbesar di negara tersebut, namanya Arakan Army. Kelompok Arakan Army ini menuntut untuk punya otoritas lebih di Rakhine State, and Myanmar was like“No can’t do. Now we’re gonna turn off the internet!” FYI gengs, bentrok yang terjadi di tahun 2018 itu menyebabkan 151 warga sipil meninggal dan 344 orang lainnya terluka.

Does the government have a say about this?
Udah dikontak sih sama CNN, tapi masih belum direspon…

OK baiklah. Anything else?
Well, 
per Senin (22/6) kemarin, ada 292 kasus dan 6 orang meninggal di Myanmar karena Covid-19.  Beberapa kasus Covid juga ditemukan di bagian utara Rakhine State, di mana lebih dari 100.000 muslim Rohingya tinggal di kamp pengungsian yang sempit dan berdesakan.