Black Lives Matter

96

Here is your #blacklivesmatter guide, from A-to-Z.

Gambar: cnnindonesia.com

I am ready. Where do we start?
George Floyd.

Who?
He is a 46-year-old African-American guy dari Minneapolis, Minnesota, yang meninggal karena kekerasan polisi. Dalam video yang viral, terlihat Floyd ditindihin lehernya sama lutut seorang polisi, namanya Derek Chauvin, sampe dia ga bisa napas. Floyd akhirnya meninggal setelah ditindihin selama hampir sembilan menit.

OMG. Give me all the background.
Jadi gini, awalnya Floyd itu beli rokok pake duit US$20 di sebuah swalayan. Pas bayar, si kasir beranggapan bahwa duitnya itu palsu, lalu sesuai protokol, kasirnya kemudian nelepon polisi. Gak lama kemudian, polisi dateng dan Floyd masih di mobil di parkiran, sama dua orang lainnya…

Go on…
Floyd kemudian disuruh turun dari mobil dan tangannya diborgol. Di situlah mulai terjadi tindakan kekerasan yang bikin Floyd kemudian jatuh ke tanah dalam posisi tengkurep, terus lehernya ditindihin sama Chauvin pake lutut. Selama ditindihin itu, Floyd berkali-kali bilang, “I can’t breathe“, tapi polisinya pada diem aja di posisi masing-masing. FYI, ada empat polisi yang di tempat kejadian saat itu.

Terus-terus…
Iya, at some point, Floyd akhirnya berhenti bergerak dan pengunjung yang ngeliat kejadian itu langsung meminta polisi untuk cek denyut nadinya, Ya udah nggak ada. Floyd kemudian dilarikan ke rumah sakit tapi nyawanya udah nggak tertolong.

It’s totally unacceptable.
Totally. Which is why 
puluhan ribu orang di seantero Amerika Serikat turun ke jalan untuk memprotes tragedi ini. Karena suasana yang makin mencekam, saat ini ini ada 40 kota dan 15 negara bagian di Amerika Serikat yang memberlakukan jam malam demi membatasi aksi para pemrotes.

Kenapa mencekam?
Yha karena suasananya udah makin panas. Di beberapa kota, dilaporkan bahwa polisi udah make gas air mata dan peluru karet yang menyebabkan puluhan orang luka-luka. Selain itu, banyak gedung dan toko yang terbakar dan satu orang dilaporkan tewas pas lagi aksi di Detroit, Michigan.

OK, back to George Floyd, terus si polisi yang ngebunuhnya diapain?
Keempatnya dipecat, terus Chauvin is charged with murder. Ga lama abis kejadian itu, dia juga dicerain sama istrinya.

Terus Trump?
Yang terbaru sih kemarin, Trump diketahui sempet ngumpet di bunker bawah tanahnya White House ketika aksi protes di Washington DC berlangsung. Terus seperti biasa, dia juga ngetwit yang awalnya sih minta investigasi menyeluruh atas kasus kematian Floyd. Dua hari kemudian, dia marah-marah di Twitter sama wali kota Minneapolis yang dinilainya nggak punya leadership terkait aksi protes yang berujung kerusuhan. Trump kemudian bilang bahwa kalo nggak bisa ngontrol daerahnya, maka dia bakal ngirim tentara…

Ampuuun…
Yep, to be precise, Trump ngetwit“When the looting starts, the shooting starts.” Ini langsung di-block sama Twitter karena disebut mengglorifikasi kekerasan. FYI, hingga saat ini aksi demonstrasi masih berlangsung di berbagai kota di Amerika Serikat dan bahkan sampe ke kota-kota di luar negeri kayak di Paris dan Amsterdam.

Alrite. Anything else I should know?
Well, to give you context, Amerika Serikat emang punya sejarah panjang soal rasisme, di antaranya terhadap ras Afrika-Amerika. Sejak awal kedatangan mereka ke AS yang kebanyakan sebagai budak, kelompok ini banyak mengalami aksi penyiksaan dan pelanggaran HAM, hingga sejarah diskriminasi yang panjaaang banget. Saat ini, meski secara formal perbudakan dan segregasi udah dihapuskan, aksi diskriminasi dan kekerasan terhadap warga Afrika-Amerika masih banyak terjadi, khususnya yang dilakukan sama polisi. Sebelum kasus Floyd ini terungkap, pada Februari lalu, seorang Afrika-Amerika di Atlanta, namanya Ahmaud Arbery, juga ditembak mati sama seorang mantan anggota kepolisian pas dia lagi jogging karena dikira maling lagi kabur.

#blacklivesmatter…