Nasib Buruh Tekstil

84

Who’s (almost) raising the white flag?

Gambar: cnbcindonesia.com

The textile industry.

What happens?
Not so good news: Mayoritas kegiatan produksi tekstil di tanah air terhenti.

Really?
Yep. 
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa pas lagi meeting sama DPR RI, Senin lalu. Menurut Jemmy, tingkat produksi atau utilisasi industri tekstil saat ini udah di bawah 20% dan menuju 5%. Tak menutup kemungkinan, utilisasi industri tekstil ini bakal turun terus sampe ke 0%.

Why?
Yha apalagi kalo bukan karena Covid-19. In fact, saat ini kondisi jual beli tekstil baik di pasar domestik maupun global sangat terganggu karena banyak konsumen yang membatalkan pesanan mereka. Hal ini karena emang demand-nya jadi jauh berkurang. Contohnya, Pasar Tanah Abang yang terpaksa tutup akibat pandemi corona. Hasilnya, penjualan pun jadi terhenti.

Go on…
Jemmy juga menambahkan bahwa dengan kondisi kayak gini, mayoritas pengusaha tekstil jadi running out cash flow karena pembayaran dari hasil ekspor maupun penjualan domestik bisa dibilang nggak jalan sama sekali.

So sorry to hear that 🙁 Terus para karyawannya gimana?
There’s no other choice than dirumahkan sementara. Menurut Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil, per awal Mei, total buruh dari industri tekstil yang di-PHK dan dirumahkan itu sekitar 2 juta orang (lebih spesifiknya 1,9 juta). Selain di-PHK atau dirumahkan, THR para karyawan tekstil ini juga bakal dicicil, karena kemungkinan besarnya, perusahaan gak bisa bayar THR on time.

🙁 Is there anything the government can do? 
There sure is. Jadi dalam rapatnya sama DPR itu, Jemmy menyampaikan beberapa usulan keringanan buat industri tekstil dari pemerintah, contohnya kayak pemberian diskon tarif listrik, pelonggaran pembayaran pajak, hingga keringanan kredit dari perbankan.

Never take your “baju lebaran” for granted again 🙁