Kesehatan Mental WHO

119

Who’s just sending a warning?

The WHO.

OK. Tell me. 
Jadi Selasa lalu, WHO mengumumkan bahwa akibat dari wabah Covid-19 yang tengah menyebar di seluruh dunia, maka ada satu lagi wabah yang juga ikutan menyebar…

Which is…
Mental distress aka gangguan kesehatan mental. Yes, the pandemic has already taken its toll on people’s mental health. Menurut Sekjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, efek dari Covid-19 terhadap kesehatan mental masyarakat sangat mengkhawatirkan.

Define “mengkhawatirkan”.
Well, jadi dalam laporan WHO, diketahui bahwa 47 persen tenaga kesehatan di Kanada membutuhkan bantuan psikologis, lalu di China, 50 persen tenaga kesehatannya juga dilaporkan mengalami depresi, dan di Pakistan, 26 persen di antara para pemberi layanan kesehatan di negara itu juga mengalami depresi berat.

So it only happens to the healthcare workers?
Not really. Tingkat stres juga dilaporkan meningkat pada orang tua selama WFH. Selain itu di negara-negara Eropa kayak Italia dan Spanyol, diketahui bahwa 77 persen anak-anak mengalami susah konsentrasi, 39 persen jadi lebih nggak mau diem dan mudah terganggu, dan 31 persennya juga mengalami rasa kesepian.

Was it that bad?
Yep, masih menurut WHO, meningkatnya depresi di masyarakat ini disebabkan karena udah lama nggak bertemu orang, takut ketularan virus, sampe kehilangan pekerjaan. Menurut WHO, jelas banget bahwa kesehatan mental adalah salah satu faktor utama yang harus turut ditangani dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

What can the governments do about this?
Well, things like memastikan keberadaan layanan kesehatan mental dan dukungan psikologis harus tersedia buat masyarakat. Selain itu, perlu juga kepastian bahwa mereka yang membutuhkan layanan bantuan mental menerima perawatan dengan rutin, dan memastikan bahwa layanan kesehatan mental juga udah ter-cover asuransi.