Data Tokopedia Bocor, Pekerja Migran ditangkap di Malaysia, Pengguna Pinjol Milenial, Brown Bear di Spanyol

95

Hello, Tuesday.

Welcome back to your 8th or 9th Tuesday where you spend it on your sweatshirt all day. At this point, we all could feel a little hopeless and uncertain. And, in any moment when the dark clouds are hanging above your heads, always remember to count your blessing: your health, your family, your time to spend with your loved ones, the nature that is healing and the time when things will be better. Because it will eventually get better. 


Who’s saying “time to change your passwords…”?

Gambar: detik.com

Tokopedia.

Why? What happened?
Karena Sabtu kemarin, beredar info bahwa marketplace yang makin sering kamu browsing pas lagi stay-at-home ini mengalami peretasan aka kebocoran data.

Hah serius?
Yep, jadi diduga bahwa ada 91 juta akun di Tokopedia yang diretas. Padahal tahun lalu, Tokopedia  menyatakan bahwa mereka punya 91 juta akun aktif di platformnya. Meaning, hampir semua akun di Tokopedia diambil datanya sama peretas.

Whoaaaa for real?
Yep. Jadi awalnya, akun Twitter dengan username @underthebreach ngetwit soal peretasan ini sambil mention ke akun Tokopedia. Selain itu, disebutkan juga dalam twit tadi bahwa data yang bocor adalah email, hash kata kunci, nama pengguna, hingga nomor telepon.

Ya ampun. Emang datanya diapain si?
Dijual. Jadi diketahui juga, bahwa peretas ini ngejual 91 juta data pengguna Tokopedia tadi di dark web dengan harga US$5.000 atau sekita Rp74,3 juta.

Well, I believe Tokopedia has a say about this…
Yap, jadi VP Comm-nya Tokped, Nuraini Razak menyampaikan minggu lalu bahwa emang ada upaya pencurian data pengguna, namun informasi penting para user-nya tetap terlindungi. Nuraini juga bilang bahwa nggak ada kebocoran data pembayaran. Beliau menambahkan bahwa seluruh transaksi dengan semua metode pembayaran baik berupa kartu debit, kredit, maupun OVO tetap terjaga keamanannya. Selain itu, untuk memastikan keamanan data penggunanya, Tokopedia juga pake sistem keamanan yang berlapis, contohnya OTP aka one time password.

OK. Did the govt say anything about this?
Yes.  Menteri Kominfo, Johnny G. Plate udah manggil Direksi Tokopedia untuk bahas persoalan ini. Pak Johnny juga menegaskan bahwa Tokopedia wajib memenuhi Standar Perlindungan Data Pribadi yang ada dalam Peraturan Pemerintah. Selain itu, Kominfo juga minta Tokopedia untuk melakukan tiga hal:

  1. Tokopedia harus segera mengamankan sistem untuk mencegah kebocoran data lagi.
  2. Tokopedia diinstruksikan untuk ngabarin user yang akun yang data pribadinya kemungkinan udah terekspos.
  3. Tokopedia diminta untuk melakukan investigasi internal untuk mencari tahu penyebab kebocorannya.

Noted.  Anything else?
Yep. Kata pengamat keamanan siber Alfons Tanujaya, kalo data kamu diretas, maka ada potensi kamu bisa kena scam dan phishing.  Scam itu kayak penipuan, contohnya, kamu dapet email bahwa kamu memenangkan hadiah, tapi kamu diminta untuk ngirim uang dulu dengan jumlah tertentu.  Sedangkan phishing tuh kayak, kamu diminta untuk ngasih data pribadi kita (email and password) tanpa kamu sadari.  Contohnya, misalnya kamu lagi browsing, terus tiba-tiba kamu diarahin ke situs tokopedia, tapi ternyata situs tokopedia yang palsu. Tapi kamu udah keburu disuruh log-in, jadi mereka dapet password kamu deh. Tiati ya gengs.


Who’s being detained during the pandemic?

Gambar: aljazeera.com

Refugees and Migrant workers.

What? Where?
Di Kuala Lumpur, Malaysia. Jadi berdasarkan data dari Human Rights Watch (HRW) dan Asia Pacific Refugee Rights Network yang dirilis minggu lalu, diketahui bahwa ada lebih dari 700 orang pengungsi dan pekerja migran yang ditahan, termasuk anak-anak.

Tapi kenapa mereka ditangkep?
Jadi menurut kelompok HAM tadi, diduga bahwa para pekerja migran yang ditangkap adalah penduduk ilegal karena nggak punya izin tinggal dan dokumen identitas yang nggak lengkap. Selain itu, dalam beberapa waktu terakhir ini juga banyak warga Malaysia yang menolak kehadiran refugee dan migrant workers karena mereka dianggap menyebarkan virus corona dan jadi ‘beban’ bagi pemerintah Malaysia.

Ok, go on…
Nah terkait hal ini, Hari Jumat lalu kemudian dilakukan penangkapan atas para pengungsi dan migrant workers yang tinggal di Kuala Lumpur. Selanjutnya, para migran ini kemudian ngantri di check point untuk dibawa ke pusat penahanan yang terkenal padat dan nggak higenis. Foto dan video atas penangkapan dan antrian ini kemudian menyebar di media sosial…

Emang refugees and migrant workers-nya berasal dari mana?
Menurut keterangan sih, rata-rata pekerja migrannya berasal dari Asia Selatan kayak Bangladesh, India, dan Nepal meskipun ada juga yang dari Indonesia. Sedangkan untuk refugees-nya rata-rata datang dari Rohingya (Myanmar).

Terus terus?
Aksi ini kemudian mendapat kecaman dari kelompok pembela HAM. Menurut mereka, proses penangkapan para pekerja migran dan pengungsi ini nggak ‘manusiawi’, dan tindakan tersebut termasuk ke dalam kriminalisasi terhadap warga yang justru kerjaannya berat dan beresiko.

I see. Anything related to corona?
Yep, jadi diketahui bahwa para pekerja migran dan pengungsi ini tinggal di pemukiman yang diisi oleh sekitar 9000 orang dalam satu gedung. Pemukiman ini juga dijaga ketat oleh polisi dan tengah dalam kondisi lockdown setelah ditemukan adanya 235 kasus positif Covid-19 di sana.

Well, I believe the Malaysian government has a say on this…
Uhm… so far polisi dan departemen imigrasi Malaysia belum ada komentar sih, soal in. Ditunggu yha.


For when shopping is your favorite sport…

Be careful gengs. Apalagi kalo kamu sampe harus minjem duit dari pinjol aka pinjaman online…

Wait, what about it?
Karena ditemukan bahwa mayoritas orang yang paling banyak minjem duit ke fintech atau pinjol adalah kelompok usia millennial.

Really?
Yep. Begitu kata hasil survei yang dilakukan sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi dalam data OJK pada Bulan Maret lalu, diketahui bahwa 70,07 persen orang yang minjem duit ke pinjol berusia 19 sampai 34 tahun.

Whoaa terus?
Nah, di posisi kedua baru deh didominasi oleh orang-orang di atas usia milenial, yakni 27,79 persen berusia antara 35 tahun – 54 tahun, dan hanya 1,37 persen peminjol yang berusia di atas 54 tahun. Selain itu, sebagian kecilnya lagi berusia kurang dari 19 tahun.

Interesting. Tell me more…
Penemuan lainnya adalah dari segi jenis kelamin, di mana jumlah peminjam laki laki dan perempuan hampir sama, walaupun yang laki-laki terhitung sedikit lebih banyak. Jadi untuk peminjol berjenis laki-laki persentasenya adalah 50,58 persen dari total peminjam sebanyak 24,15 juta orang. Sedangkan, peminjam perempuan mencapai 49,29 persen.

I see. Anything else I need to know?
Yep, jadi diketahui juga bahwa per Maret 2020, jumlah pinjol yang mengalir adalah sebanyak Rp14,79 triliun atau naik 90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun sayangnya, peningkatan pinjol ini nggak diiringi dengan kualitas kredit. Buktinya, masih menurut data OJK, tercatat bahwa Tingkat Keberhasilan Bayar 90 Hari (TKB90) pada kuartal ini menurun jika dibandingkan kuartal lalu.


What’s having the “I am back!” moment?

Gambar: cnn.com

This brown bear.
Berita menarik datang dari taman nasional O Invernadeiro yang terletak di Galecia, Spanyol. Jadi setelah 150 tahun nggak pernah keliatan, seekor beruang cokelat yang merupakan hewan dilindungi di Spanyol kemarin tertangkap kamera lagi mondar-mandir di taman nasional tersebut. Video dari beruang cokelat yang diprediksi berjenis kelamin jantan dan berusia tiga atau empat tahun itu tertangkap oleh kamera yang emang sengaja ditinggalin oleh crew film yang lagi bikin project terkait kehidupan liar di taman nasional tersebut. Menanggapi penemuan ini, para kru film menyampaikan rasa kagetnya karena mereka nggak pernah menemukan beruang cokelat sebelumnya. “Kita biasa sih nemu musang, babi hutan, rusa, atau kucing liar. Tapi baru kali ini nemu beruang cokelat,” gitu katanya.


“It’s been seven weeks since I’ve had a haircut.”

Gitu kata orang tertajir nomor empat di dunia, Warren Buffet saat cerita soal dirinya, yang kayak kita semua, juga lagi stay-at-home karena pandemi Covid-19. Buffet menyampaikan curhatannya itu kala menggelar virtual event yang live-stream di Yahoo Finance pada Hari Sabtu lalu. Selain belom potong rambut, Buffet yang juga CEO dari perusahaan Berkshire Hathaway itu juga bilang bahwa dia udah tujuh minggu nggak pake dasi, dan sehari-harinya cuma pake baju training aja.

Finally, something about Warren Buffet you can relate to…


Angel’s Stories 

1. Sudah hampir 2 bulan aku di rantau. Mengetahui WFH diperpanjang sempat bikin aku stress, nangis dan murung selama seminggu penuh karena tetap gak bisa pulang. Kemudian, Ramadhan pun dimulai. Aku seorang Nasrani tapi aku punya 2 teman sekos Muslim yang menjalankan puasa. Aku mikir, pasti lebih berat bagi mereka tidak bisa merayakan Lebaran bersama keluarga mereka. Setiap kali buka puasa, aku selalu nimbrung untuk sekadar ngobrol dan bantuin masak, bahkan kadang aku traktir mereka es kopi susu atau sekadar cemilan pencuci mulut. Begitu pun dengan keluarga di rumah dan pacarku di Jakarta, saat rinduku sudah di ubun ubun, aku memutuskan untuk pesenin mereka makan lewat aplikasi. Entah kenapa, setiap aku bisa membagikan sesuatu dan melihat mereka senang, aku merasa hangat dan suasana hatiku menjadi lebih baik. Sekarang aku mulai ikhlas dengan keadaan. Aku tidak sendirian menghadapi kondisi luar biasa seperti ini. Aku punya teman kos yg baik, keluarga yg mendoakanku, bahkan pacar yg selalu setia mendengarkan ocehanku berjam jam. Semuanya seimbang. Puji Tuhan, aku bersyukur.
-Anonymous-

2. Udah dua bulan ini mama sakit cukup parah dan kira-kira 6 kali bolak-balik masuk rumah sakit swasta, karena fasilitas RS negeri di sini memang tidak senyaman yg dimiliki swasta. Tapi, keuangan keluarga udah ga memungkinkan lagi untuk bayar biaya tersebut, saking udah desperate-nya sampai aku pun ngejual barang-barang elektronikku biar bisa nutupin biayanya walaupun cuma sedikit. Sangat bersyukur dikelilingi orang baik, teman-teman aku semua bergerak ikut promosiin sampai anggota DPR RI yang sama sekali ga kenal pun bantu promosiin di akun sosmednya:”) dan alhamdulillah cepet bgt cuma beberapa jam barangnya ada yg terjual. Yang bikin kaget lagi, ada stranger ga mau beli tapi nyumbang uang dengan jumlah yang menurutku besar, which is unbelievable, alasannya karena dia jg tau rasanya kalau ibu sakit. Ditambah lagi, di masa sulit kayak skg semua temen sekelas aku masih mau nyisihin uang jajannya untuk iuran bantuin pengobatan mamaku, dan… ya Tuhan. Bantuan mereka lebih dari cukup untuk ngebiayain pengobatan mama T-T. Semoga suatu hari nanti aku bisa menjadi salah satu orang baik seperti mereka 🙂
-J, Calon ibukota-

3. Minggu lalu gw baru aja kecelakaan. Secara fisik gw baik2 aja, tapi engga secara mental. Sepertinya gw mengalami trauma berat. Bayang2 kejadian terus menghantui bahkan sampai terbawa ke mimpi. Apalagi di tengah masa quarantine ini rasanya sedih bangettt, merasa ketakutan dalam kesendirian. Gw jadi sering bengong dan selalu keinget lagi kejadian itu, kadang sampai nangis saking takutnya. Akhirnya gw cerita sama temen deket. Beruntungnya dia care bgt. Hampir setiap hari dia nanyain kabar gw, mastiin gw baik2 aja. Nyari topik biar perhatian gw bisa teralihkan. Yah mungkin hal itu sebenernya biasa aja, tapi bagi orang dg kondisi trauma kaya gw, ini berarti banget. Seneng bgt dan terharu rasanya ketika punya orang yg menenangkan, someone to talk to. Hey you, please, say hello to your friend. Pastiin mereka baik2 saja. Pastiin mereka have someone to talk to :’)
-Mbak M-

(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience first hand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. Come, share us your versions of angels!)


Catch Me Up! Recommendations

Learn how to protect your personal details in the digital era, here.