Studi Baru tentang Polusi dan Corona, PHK, Topan Harold, Corona Burger

97

Hi, Thursday.

Good morning. Been losing count on what day it is? Well… It’s Thursday. Dan seandainya aja saat ini nggak ada corona, kamu mungkin lagi excited siap-siap long weekend, karena Jumat besok adalah hari libur nasional. Yep, selamat memperingati Jumat Agung for our Christian friends! Have a blessed one! On another note, kami juga mau ngingetin bahwa Catch Me Up! nggak akan terbit besok as we don’t send out emails on national holidays. So… sorry to break the bad news for you, but you’ll have a week without our dataviz 🙁 Have a great weekend ahead!


For when you need more reasons to wear face masks in public…

Gambar: dw.com

Not so good news for you.
Karena baru-baru ini, penelitian dari para ilmuwan di Harvard menemukan bahwa semakin tinggi polusi udara di satu wilayah, maka semakin tinggi juga risiko kematian buat orang-orang yang terinfeksi corona di wilayah tersebut.

Oh no…
Iya, jadi menurut para ilmuwan ini, ditemukan bahwa kalo kamu sering terekspos ke polusi udara, maka kemungkinan kamu untuk menderita dampak corona yang parah juga makin besar. Pada akhirnya, kemungkinan kamu untuk meninggal juga jadi makin tinggi.

Terus maksudnya ngasih tau info ini apa?
Well, in case di antara kamu ada yang kerja di government, para peneliti tadi memberikan imbauan buat pemerintah yang tingkat polusi udara di daerahnya tinggi untuk nyiapin ventilators yang lebih banyak. Selain itu, pemerintah juga disarankan untuk memastikan bahwa kebijakan physical distancing bener-bener diterapin dengan ketat di daerahnya *uhuk* Pak Anies *uhuk*.

This is such an interesting finding, though. 
Agreed. Jadi menurut para peneliti ilmu paru di Amerika Serikat, studi ini juga makin membuktikan betapa bahayanya partikel polusi yang sering dihirup oleh masyarakat. Sejauh ini, kita udah tau bahwa polusi bisa memperparah penyakit paru-paru, memicu stroke, serangan jantung, hingga menyebabkan kanker paru. Nah, dengan studi ini, ada satu lagi nih penyakit yang dipicu sama polusi: coronavirus.

I see. Anything else I need to know?
Berdasarkan studi ini, para peneliti tadi juga menekankan perlunya pemetaan tinggi-enggaknya level polusi secara global. Menurut mereka, dengan adanya pemetaan ini, maka pemerintah setempat juga bakal lebih mudah memitigasi daerah mana yang kemungkinan bakal terdampak paling parah oleh corona.


For when you’ve been updating your resume and LinkedIn profile..

Gambar: tirto.id

Hi, there. If Covid-19 has made you lose your job, or if you were being told to take unlimited leave, or has made your job-seeking experience looks like there’s no end sight, please know that; we see you, and we’re here for you. No matter what, we will always be here, in your inbox, every 6 AM in the morning. Sorry that this happened to you, but we can promise you: we are in this together. 

You’re about to talk about job?
Yep. Karena kemarin, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah baru aja mengumumkan bahwa sampai saat ini, udah ada lebih dari satu juta pekerja yang dirumahkan atau kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sebagai dampak dari pandemi virus corona.

OMG…
Jadi dalam keterangannya, Bu Ida menyebut bahwa ada total 74.430 perusahaan yang merumahkan pekerjanya dan mutus hubungan kerja. Dari total 1.200.031 orang yang kena PHK atau dirumahkan, diketahui 1.010.579 orang dari sektor formal dan 189.452 pekerja dari sektor informal.

So, has the government done something about this?
Yep. Kata Bu Ida, pemerintah udah menyiapkan beberapa program untuk membantu mereka yang terkena dampak dirumahkan atau PHK karena corona. Ada pun program yang dimaksud di antaranya adalah program Kartu Pra Kerja dan insentif khusus melalui BP Jamsostek.

So they can cover everything?
Well, menurut pihak Kementerian Keuangan, dua program ini rencananya bakal bisa men-support 6 juta pekerja. Rinciannya, 5,6 juta korban PHK dan pekerja informal masuk ke program Kartu Pra Kerja. Terus, sekitar 400 ribu orang dicari untuk dapet bantuan via BP Jamsostek.

Explain more. 
Sure. Kalau Kartu Pra Kerja, rencananya masing-masing pekerja bakal dapet dana sebesar Rp1 juta untuk periode pelatihan, dana bantuan sebesar Rp600 ribu per bulan selama 4 bulan, ditambah dana ngisi survei sebesar Rp50 ribu selama 3 bulan.

Sedangkan BP Jamsostek dikhususkan untuk korban PHK dan pemegangnya bakal dapet Rp1 juta per bulan, plus insentif Rp1 juta. Program ini hanya diperuntukkan untuk pekerja yang udah punya BPJS Ketenagakerjaan.

Anything else you want me to know?

Bu Menteri juga minta perusahaan untuk ambil langkah alternatif selain PHK, like:

  • Mengurangi gaji pada tingkat manajer dan direktur
  • Mengurangi shift kerja
  • Membatasi kerja lembur
  • Mengurangi jam kerja dan hari kerja
  • Meliburkan atau merumahkan pekerja secara bergilir untuk sementara waktu

Barely infected by the coronavirus, this region was hit by a deadly cyclone…

Gambar: npr.org

Jadi Senin lalu, Negara Kepulauan Vanuatu baru aja diterjang angin topan yang namanya Topan Harold.

Give me some short geography lesson…
You got it! Jadi Vanuatu ini terdiri dari 83 pulau dan terletak di kawasan Pasifik. Nah, meskipun Vanuatu ini sering kena angin topan, tapi kali ini topannya parah banget, karena kecepatan anginnya mencapai 165 mph. Topan ini juga masuk ke kategori 5, which means kategori badai tertinggi dalam skala Saffir-Simpson.

Any casualties?
So far, nggak ada korban jiwa yang dilaporkan, tapi setidaknya kerusakan dari angin topan itu diperkirakan mencapai US$380 juta.

I see, terus negara sekitarnya kena juga gak?
Sadly, yes. Sebelum menerjang Vanuatu, Topan Harold juga udah lewat ke Kepulauan Solomon sehari sebelumnya dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 27 orang. Selain itu, update terbaru menyatakan bahwa Kepulauan Fiji juga terdampak, khususnya pulau utamanya, yaitu pulau Viti Levu. Belum ada korban yang dilaporkan, tapi ada 10 rumah warga yang hancur.

Well, did their governments say anything?
Yep. Saat ini, negara-negara pasifik ini juga tengah dalam kondisi tanggap darurat dalam menghadapi virus corona dan kebanyakan dari mereka telah menerapkan kebijakan physical distancing. Namun dengan adanya Harold Cyclone ini, para pemerintah tadi jadi harus menyesuaikan tindakannya sesuai keadaan.

Like what?
Like, kalo di Kepulauan Fiji, Perdana Menteri Frank Bainimarama minta warganya untuk tetap di rumah aja, kecuali mereka harus dievakuasi karena topan. On the other hand, pemerintah Vanuatu batalin sementara physical distancing untuk mastiin keselamatan para penduduk yang mengungsi.


For when you’ve been anxious about the coronavirus…

Gambar: timesnownews.com

Aren’t we all?
Tapi tenang aja, gengs. Adalah seorang chef di Vietnam, namanya Hoang Tung, yang baru-baru ini jadi viral karena bikin burger berbentuk virus corona! Yep, as if you haven’t read, seen, or heard anything about the coronavirus, Chef Hoang ini kemudian memutuskan untuk bikin burger berbentuk virus corona buat dimakan oleh para konsumennya.

Menurut sang chef, ide untuk bikin burger yang dinamai corona burger ini adalah untuk membantu warga yang mengalami gangguan kecemasan aka anxiety yang berlebihan gara-gara takut kena corona. Katanya, secara saat ini banyak orang yang takut kena corona, dengan memakan burger berbentuk virus tersebut, maka seolah-olah kita udah “memakan” virusnya, and that gives us a sense that, “Oooh… virusnya ternyata nggak semengerikan itu.”

Baiklah. Saatnya nyari burger bentuk mantan untuk sarapan. 


“Today I am suspending my campaign. But while the campaign ends, the struggle for justice continues on.”

Demikian isi twit bakal calon presiden Amerika Serikat, Bernie Sanders, yang baru aja mengumumkan pengunduran dirinya tadi malam dari konvensi Partai Demokrat. Dengan mundurnya Sanders, maka otomatis satu-satunya kandidat yang kesisa untuk jadi capres dari Demokrat adalah mantan wakil presiden era Obama, Joe Biden.

It was a good fight, Bernie. 


Angel’s Stories 

1. Aku diceritain kakakku seorang polwan yang bertugas untuk approach masyarakat dan mengamankan lingkungan. Dia dan teman-temannya tidak dibekali APD sama sekali, tidak ada masker maupun hand sanitizer. Lalu aku ceritakan hal ini kepada teman-temanku, mereka lalu berinisiasi mendonasikan ratusan masker untuk seluruh unit kakakku dan mendonasikan UV agar maskernya bisa steril dan bisa digunakan kembali (harganya mahal huhu). Kakakku memiliki dua orang anak balita, dia dan suaminya sama-sama polisi, mereka selalu takut untuk pulang ke rumah dan menularkan virus ke keluarganya huhu. Memberikan donasi kepada tenaga kesehatan memang sangat penting, tapi jangan lupakan polisi juga yang membantu menjaga keamanan kita. Look after our policemen and policewomen, too, guys so that they can look after us.
– Bon, Palembang –

2. Saya dapat WA dari yang sewa rumah untuk minta keringanan pembayaran. Saya teruskan ke isteri saya, dan akhirnya pembayaran bulan ini kita tangguhkan, dan dia boleh cicil kapan saja di bulan-bulan berikutnya.
– Somewhere in Bekasi –

3. Well… ayahku itu salah satu yang parno banget sama virus ini. Recently, ketua RT di kompleksku bilang bakal ada penyemprotan disinfektan, yang mau ikut bantuin boleh lapor. You know what, ternyata dengan senyum yang sumringah ayahku bilang, “Ayah ikut ya, ibu bantuin juga, ya.” Gak tau kayak seneng aja karena ayah bisa melawan rasa takutnya untuk kebaikan semuanya. Dan pas minggu kemaren, eyang dan ibuku rebus kacang, terus ada tetangga yang bikin pastel, buat makanan bapak-bapaknya, but of course udah dipisahin per piring dan ditutup, jadi ambilnya juga ga bersentuhan.
– Panpan –

 

(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience first hand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. Come, share us your versions of angels!)


Catch Me Up! Recommendations

For when you’ve been wanting to explain Covid-19 to children, look no further than here.