Kebijakan Ramadan di Berbagai Negara, Transportasi Udara Ditutup, Pandemi Kelaparan, Kopi Sehat

126

Hello, it’s the first day of Ramadan.

We’re pretty sure that you will open this email later than 6 am from now on. During Ramadan last year, we would wake up early for sahur, ate, waited patiently for dawn prayers, and after that, we”d go back to sleep until God knows what time. That part won’t probably change much these days, but everything else is different. Way too different. No one has ever thought that we would celebrate Ramadan with the door of our mosques closed. No salat berjamaah, no bukber di masjid, no I’tikaf, nothing. But we believe if there is one superpower that all us humans have, it’s adaptability. Together we’ll soon be able to accept this new normal and sooner than later, this will all be over. We’re pretty sure about that.

Happy first day of fasting.


For when your tarawih prayers will be a liiiiitle different this year…

Gambar: aljazeera.com

Yep, whether you do it 11 rakaats or 23 rakaats, nothing screams Ramadan nights louder than taraweeh prayers. Dari mulai nyari mesjid yang salatnya cepet, rakaatnya dikit, atau yang ada bagi-bagi takjilnya (no judgement here :P) tahun lalu, all the choices were there. All you needed to do was some research. Tapi tahun ini, you will most likely salat tarawih #dirumahaja, which also happens pretty much eeeeeeverywhere else in the world right now. Let’s see how they do it in other countries…

Iran. Sebagai negara yang kena efek Covid-19 paling parah di Timur Tengah, Iran melalui pemimpinnya, Ayatollah Ali Khamenei, udah menyampaikan pada warganya untuk menghindari salat berjamaah.

Mekah dan Madinah. Raja Salman membolehkan salat tarawih di the two holy mosques, tapiii nggak boleh ada jemaahnya. Jadi yang boleh ikutan tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi cuma para imam kedua masjid tersebut beserta staf penjaga, staf kebersihan, dan beberapa warga lokal yang udah ngelewatin health test. Selain itu, di kedua masjid tersebut juga gak ada buka puasa bareng atau pun i’tikaf yang biasanya rutin dilakukan setiap tahun.

Di Malaysia, khususnya Selangor, pemerintah setempat udah menghentikan seluruh kegiatan keagamaan hingga 31 Mei mendatang.

Di Palestina, tepatnya di Masjidil Al-Aqsa, juga nggak akan ada kegiatan ibadah, karena masjidnya bakal ditutup.

Di Pakistan, pemerintahnya membolehkan warga untuk salat tarawih berjamaah, namun para jemaah ini harus berjarak minimal dua meter dan harus bawa sajadah sendiri dari rumah.

Di Inggris, seluruh kegiatan keagaan dari salat, kultum, sampe bacaan Quran, semuanya bakal dilakukan via online.

Di Tajikistan, pemerintahnya mengimbau umat Muslim di sana untuk nggak puasa selama Ramadan. Menurut presidennya, Emomali Rakhmon, puasa bikin orang “rentan terhadap infeksi penyakit menular”, makanya beliau mengimbau masyarakatnya untuk menunda puasa.

Now, what about home?
Well, back home di Indonesia, MUI udah mengimbau agar seluruh aktivitas keagamaan saat Ramadan dipusatkan di rumah. Menurut MUI, hal ini penting untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19.


For when all flights are cancelled…

Gambar: detik.com

Like, legit, they’re all canceled.
Karena per hari ini, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan udah resmi menutup sementara semua penerbangan, dalam dan luar negeri, charter, maupun komersial, sampe 1 Juni mendatang.

Whaaaaat?
Yep. Jadi dalam keterangannya kepada media kemarin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto bilang bahwa menyusul aturan larangan mudik yang diumumkan Pak Jokowi pada Rabu lalu, maka seluruh moda transportasi dihentikan sementara.

Whoaa… all flights, really?
Well, 
ada sih beberapa pengecualian untuk kargo, kayak kargo khusus medis, sanitasi, dan logistik yang relevan. Selain itu penerbangan untuk pimpinan lembaga negara, tamu, dan wakil negara dari organisasi internasional juga masih boleh terbang.

Now I’m officially bakal celebrating Lebaran di kosan…
We’re really sorry to hear that 🙁 Jadi emang larangan ini mencakup seluruh moda transportasi massal. Tujuannya, of course untuk menghindari penyebaran Covid-19 ke daerah. Terkait larangan ini, Kemenhub menyebut bahwa untuk kendaraan bermotor, maka larangannya adalah hingga 31 Mei, lalu transportasi laut hingga 8 Juni, kereta api hingga 15 Juni, dan pesawat hingga 1 Juni.

But, I’ve bought my tickets…
Don’t worry, karena kalo kamu udah punya tiket, kamu bisa refund ke masing-masing maskapai kok. Tapi, maskapai nggak diwajibkan untuk mengembalikan dalam bentuk uang tunai, kata Bu Novie. Jadi ya ujung-ujungnya ganti jadwal aja atau ganti rute ketika udah boleh terbang lagi. Atau maskapai juga boleh ngasih voucher tiket senilai sama tiket yang kita udah beli, dan voucher-nya bisa dipake minimal satu tahun dan diperpanjang satu kali ke depan.

Terus kalo masih ada yang ngotot pengen mudik?
Bakal ada sanksinya gengs. Jadi kata Menteri Perhubungan Ad Interim Luhut Pandjaitan, mulai 7 Mei nanti akan ada sanksi bagi masyarakat yang tetap mudik. Opung Luhut bilang, sanksinya ini bakal diterapkan secara bertahap, bertingkat, dan berlanjut.


Who’s just sending some warnings?

Gambar: theguardian.com

Caution: This upcoming article is depressing. Scroll through if you don’t want to consume such news this early in the morning. Don’t worry, it’ll be sitting in your inbox all day. 

At this point? Just tell me.
Oke. Jadi kemarin, Badan Pangan Dunia aka United Nations’ World Food Programme (WFP) memperingatkan para world leaders bahwa bakal ada sekitar 265 juta orang yang menderita kelaparan di seluruh dunia akibat Covid-19.

Oh gosh…
Yep. WFP menyebut bahwa dalam waktu dekat, diprediksi bakal ada lebih dari 30 negara berkembang yang warganya bakal mengalami wabah kelaparan. Sedangkan saat ini, udah ada sekitar 10 negara yang satu juta warganya di ambang kelaparan.

Go on…
Dalam keterangannya itu, WFP juga menyebut bahwa masalah kelaparan ini adalah masalah yang serius banget, karena Covid-19 bisa menghambat jalur supply makanan hingga orang-orang bisa bener-bener meninggal karena nggak ada makanan. In their words, “Now, my goodness, this is a perfect storm. We are looking at widespread famines of biblical proportions.”

Terus gimana?
WFP udah ngirim pesan ke UN Security Council (Badan Keamanan PBB) untuk memperingatkan para pemimpin dunia soal kondisi ini. Selain itu, WFP juga menganjurkan negara-negara agar menyiapkan dana sebesar 2 miliar USD untuk nanganin masalah ini, with an extra of US$350 million for logistics, food, and medical supplies.

And?
And they have to act fast. Saking urgent-nya masalah kelaparan ini, WFP bahkan bilang bahwa empat minggu dari sekarang aja udah susah dibayangin kondisinya bakal kayak apa. Makanya para pemerintah negara-negara ini harus buru-buru bertindak untuk memastikan rantai pasokan makanan tetap jalan, caranya dengan nggak ngelarang ekspor dan menghilangkan aturan-aturan yang mempersulit perdagangan pangan lintas negara.


For when you’ve been living by “but first, coffee” mantra…

Gambar: coffeesesh.com

Yep, we understand. You’ve been ignoring those health articles telling you to limit your coffee intake during fasting time. Fine. No judgement. But here’s how to make your coffee healthier: use filter.

Jadi dalam penelitian terbaru yang baru aja diterbitkan oleh European Journal of Preventive Cardiology, disebutkan bahwa cara menikmati kopi yang paling sehat adalah dengan cara memfilternya dengan filter kertas. Tau kan? itu lho, yang suka dipake di coffee shop-coffee shop dengan metode manual brewing. Nah, back to the research, yang menarik ternyata minum kopi yang udah difilter lebih sehat daripada nggak minum kopi sama sekali (whaaaat?).

Hal ini karena penelitian tersebut menemukan, minum kopi yang udah difilter bisa meningkatkan fokus, memperbaiki mood, dan bikin kita lebih semangat ketika berolahraga. Sebaliknya, minum kopi yang nggak difilter dulu (kayak french press atau kopi tubruk misalnya), berpotensi meningkatkan resiko gangguan jantung, karena emang bubuk kopi itu mengadung zat kimia yang namanya kafestol dan kahweol yang bisa meningkatkan kolestrol. Dengan difilter dulu, kandungan-kandungan kimia tadi nggak masuk ke minuman kamu.

Hasilnya? Berkurangnya resiko kematian akibat penyakit cardiovascular sebesar 12% pada cowok, dan berkurangnya resiko yang sama sebesar 20% terhadap cewek, dibandingkan dengan nggak minum kopi sama sekali.

Adding coffee filter to our “checkout abis gajian” list…


“Mengapa kasus di Indonesia tampak lebih sedikit? Jawabannya sederhana: Karena pemerintah tidak mampu melakukan testing dengan cepat dan masif.” 

Gitu kata Presiden Partai Keadilan Sosial (PKS) Sohibul Iman dalam orasinya yang disampaikan dalam acara milad PKS ke-22 yang dilaksanakan kemarin. Beliau bilang, ya apa mungkin memetakan dan memitigasi penyebaran Covid-19 jika testing yang dijalankan pemerintah sangat rendah? Selain itu, Sohibul juga minta pemerintah belajar dari negara-negara lain kayak China dan Korsel, maupun negara-negara lainnya di benua Eropa mengenai cara memformulasikan kebijakan dalam menghadapi covid-19.

Raise your hand if you think what Pak Sohibul thinks…


Angel’s Stories 

1. Ibuku seorang penjahit. Sudah beberapa hari ini menjahit masker untuk dibagikan ke tetangga dan teman secara gratis, tapi hanya diberi dua saja biar banyak yang kebagian. Kalau ambil lebih, diminta buat bayar. Hari Sabtu, 4 April lalu, bapakku juga “nggiling” gabah sebanyak dua karung. Kemudian hari Minggunya, 4 April, dibagikan ke tetangga yang menurut bapak membutuhkan 5 kg beras masing-masing. Ya kurang lebih ada 18-20 keluarga yang dapat. Seneng banget sih orangtuaku sangat peduli dengan tetangga sekitar, nggak kemakan hoax, bisa memfilter informasi juga. Aku mohon doanya aja dari team CMU! dan pembaca supaya orangtuaku sehat selalu <3
– Someone from Jogja –

2. Kemarin-kemarin itu sempet baca WhatsApp yang bilang kalau ada yang terinfeksi Covid-19 karena ambil uang di ATM. Jadi aku sama adik aku setiap ambil uang ke ATM selalu semprot alkohol atau hand sanitizer yang berbahan cair dan ngelap bagian yang sering dipencet-pencet. Biar yang mau pakai ATM selanjutnya juga aman. Semoga banyak yang ngelakuin hal ini juga. God bless.
– Cijessie,Pamulang –

3. Beberapa hari ini Bogor hujan terus di sore hari. Kemarin aku terpaksa order Go-Send untuk ambil barang pas lagi hujan-hujan. Aku bilang ke driver-nya kalau masih deras nunggu hujan reda aja nganterin barangnya. Kata beliau, terlalu lama kalau nunggu hujan reda, nanti ordernya jadi kelamaan. Dia minta izin buat packing barangnya dulu pake plastik biar gak basah sampai di tempat aku. Dan bener dong barangnya kering, gak basah sama sekali. Bapaknya cerita kalau belum dapet order dari tadi dan baru dapet order pas mulai hujan. Terus pas bapaknya udah selesai naruh barang (agak besar btw, jadi sama dia dibantu taruin di teras) aku kasih uang lebih buat ganti uang parkirnya (sengaja disiapin karena ngerasa gak enak order Go-Send pas hujan-hujan). Terus dari muka bapaknya dia agak surprise terus senyum dan bilang terimakasih. See? Melakukan hal baik itu bisa dari mana aja dan dalam bentuk apa saja. Let’s share happiness around us!!
– Ailurophile, Bogor –

4. Hari ini harusnya aku balik ke Indonesia, karena emang jatah cuti bulanan dari kantor. Sekarang aku lagi di suatu negara di Afrika Utara. Selama masa krisis karena Covid-19 ini semua penerbangan tutup, bahkan Emirates sempat “pamit” dari Bandara Soetta. Sedih sih, ngga bisa ketemu sama Mamah dan tunangan aku. Tapi aku yakin, ini adalah jalan paling bener. Karena sampai Indonesia pun aku takut kalo aku jadi bawa virus. Hari ini anxiety aku kambuh, konsul dokter sudah dan minum obat. Terus aku dijengukin sama temen-temen. Kita cerita sambil makan spaghetti. Walau sedang susah, selalu ada keluarga walau tak sedarah.
– Nida –

(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience first hand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. Come, share us your versions of angels!)


Catch Me Up! Recommendations

Save this Ramadan timetable in your smartphone.