Indonesia Hadapi Corona, Tegal Lockdown, Kasus Akibat Corona, Dedy Yon Supriyono

32

Hi, it’s Friday.

Another day in our quarantine life. We’ve mastered the skill of making the perfect scrambled eggs, thanks to endless cooking show on YouTube. Today, as usual, we have for you, our most-proud of, carefully curated, and rigorously-checked data visualization. We always, always, love our dataviz, and we want you to feel the same. So, check it out and tell us what you think!


It’s been three weeks since we started talking about corona.

We wish we could talk about something else, tapi dengan perkembangan corona di Indonesia yang masif, we really just.. have to let you know.

Jadi sampai data terakhir yang disampaikan pemerintah kemarin, tercatat udah ada 893 kasus positif corona di Indonesia. Angka ini naik sebanyak lebih dari 100 kasus dalam jangka waktu 24 jam aja.

Dari angka tersebut, tingkat kematiannya udah sebanyak 78 orang. FYI, persentase angka kematian di Indonesia adalah 8,73 persentase. Angka ini paling tinggi di Asia Tenggara dan secara global, kita hanya lebih rendah daripada Iran, Amerika Serikat, dan Swiss.

This data then will get you questioning: Ini kita siap nggak sih, menghadapi corona????

Whatever answer you have, just hold that thought. Kita liat aja datanya. Di sini kami punya data perbandingan jumlah tempat tidur di rumah sakit, jumlah tenaga kesehatan, dan perbandingannya antar provinsi. Terus kami bandingkan dengan angka positif corona di provinsi-provinsi tersebut. Go ahead. Scroll down and find the answer below.


For when there’s always the first for everything…

Gambar: detiknews

Yep. Indonesia will soon be having its first local lockdown ever.

Hah gimana?
Iya, jadi Rabu lalu, Wali Kota Tegal Pak Dedy Yon Supriyono menyampaikan dalam konferensi persnya bahwa kotanya itu bakal melakukan local lockdown untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Langkah ini merupakan kebijakan lockdown pertama di Indonesia.

Kok bisa Tegal mau lockdown?
Jadi dalam keterangannya itu, Pak Dedy bilang bahwa situasi terkait corona di Jawa Tengah udah darurat. Hal ini karena jumlah Orang Dalam Pemantauan aka ODP di provinsi tersebut udah mencapai 2.858 dan pasien yang dalam pengawasan juga udah mencapai 257.

Go on…
Nah, selain angka positif corona yang terus meningkat, Tegal juga baru saja mengalami kematian pertamanya yang diduga akibat corona. Warga yang meninggal ini adalah seorang pria berusia 77 tahun yang ada dalam pemantauan. Nah, pasien ini kemudian dirawat di rumah sakit dan udah melakukan test swab untuk melihat apakah dirinya kena corona apa nggak. Tapi hasil tesnya belum keluar, eh, pasiennya sudah keburu meninggal. FYI, pasien ini punya riwayat abis dari Jakarta.

OMG…
FYI lagi, sampe kemarin, di Tegal udah ada 41 Orang Dalam Pemantauan (ODP), 13 Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan satu orang PDP dinyatakan meninggal dunia.

Ok. Please tell me more about the local lockdown…
Jadi Pak Dedy nerangin bahwa dengan diberlakukannya local lockdown ini, maka seluruh perbatasan wilayahnya bakal ditutup pake beton aka moveable concrete barrier (MCB). Terus, akses ke tempat-tempat umum kayak alun-alun dan tempat yang ramai bakal ditutup. Selain itu, lampu-lampu di ruas jalan utama juga bakal dimatiin malam-malam untuk mengantisipasi warga yang masih suka nongki-nongki.

Terus, mau lockdown-nya berapa lama?
Rencananya sih untuk akses keluar masuk Kota Tegal bakal ditutup dari 30 Maret sampe 31 Juli, so it’s about four months. 

Whoaaa I want to know what people think about this?
Well, Pak Dedy sih bilang bahwa dia sadar bahwa kebijakan ini bakal banyak pro dan kontranya, terutama dari kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Karena itulah, Pemkot Tegal bakal ngasih bantuan sosial untuk masyarakat kecil atau kurang mampu. Beliau juga menyebut bahwa dirinya pribadi bersama-sama anggota legislatif di Kota Tegal bakal mengumpulkan dana buat warganya.

I see. Anything else I need to know?
Nah semalam, Gubernur Jawa Tengah Mas Ganjar Pranowo bilang bahwa yang di-lockdown di Tegal hanya alun-alun aja. Informasi ini dia dapatkan setelah nanya langsung sama Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Junaidi. Mas Ganjar juga bilang bahwa dirinya belum dapat laporan dari Wali Kota Tegal terkait rencana local lockdown ini.


If you are a man and happen to be a smoker…

 

Gambar: scientific american

Not so good news for you.
Karena hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ada lebih banyak cowok yang meninggal gara-gara virus corona dibanding cewek. Alasannya: cowok cenderung lebih banyak merokok, minum alkohol, dan emang kurang menjaga kesehatan aja.

Contohnya di Italia, dari total keseluruhan warganya yang positif menderita corona, 60 persen di antaranya adalah cowok. Angka juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pasien corona yang meninggal di Italia berjenis kelamin laki-laki. Di Korea Selatan juga gitu gengs. Jadi meskipun kebanyakan yang positif menderita corona di negeri ginseng itu adalah cewek, namun 54 persen kasus yang berakhir kematian didominasi oleh cowok.

Ternyata, fenomena ini terjadi nggak cuma pas corona sekarang aja, tapi juga ketika pandemik SARS dan MERS terjadi beberapa tahun lalu. Again, alasannya, selain emang cowok generally punya gaya hidup yang lebih nggak sehat dibanding cewek, kecenderungan mereka untuk punya pre-existing conditions kayak penyakit jantung atau diabetes juga lebih tinggi. And as you know, virus ini bakal lebih mudah menyerang pada tubuh yang udah menderita penyakit-penyakit tadi.

Careful, caferul.


“Lebih baik saya dibenci warga daripada maut menjemput mereka.”

Gitu kata Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono dalam keterangan persnya kemarin malam terkait keputusan beliau untuk me-lockdown kotanya demi mengantisipasi penyebaran virus corona. Kebijakan ini muncul nggak lama setelah Tegal menemukan kasus corona positif pada warganya yang telah meninggal dunia. Rencananya, kebijakan local lockdown ini bakal berjalan selama empat bulan ke depan di Kota Bahari tersebut.

One bold decision at a time…


Angel’s Stories 

1. Few days ago, aku sama temenku nyebrang pake JPO di depan BIP (you know, Bandung Indah Plaza). Then, we came across satu anak kecil (probably 8-10 years old) yang jualan cobek dan ulekan (Yep, it’s not uncommon, in Bandung to find kids selling cobek and ulekan) . Dia lagi istirahat. She must be exhausted because those things are made of stone). A stranger yang jalan di depan kita kemudian balik lagi nyamperin anak tadi dan dia ngasih uang (I guess it was 20k or 50k rupiahs) without buying dagangannya. My friend and I were amazed by that kind stranger. Aku selalu inget adik aku sendiri kalo liat anak-anak struggling in the street, and that scene was really heartwarming.

– Anonymous in Bandung –

2. Jadi kemarin bersama temen yang tinggal di Taiwan, kita ngumpulin dana untuk beliin APD buat tim medis di Indonesia. APD di Taiwan masih jauh lebih murah juga dan karena kondisi Taiwan is way better than us, masih diizinkan untuk export APD ke Indonesia. Doain ya guys supaya bisa dapet banyak APD since yang didonasiin dari China ga cukup untuk RS rujukan dan RS mitra kita 🙁

– Somewhere in Surabaya😌 –

3. Berhubung pekerjaan saya dokter, kami sebagai kaum paling berisiko terkena covid-19, sangat mengapresiasi dan bersyukur atas adanya penggalangan dana yang dilakukan beberapa orang, khususnya untuk pemberian APD, karena kami sangat membutuhkan nya. Hats off untuk setiap orang yang menyumbang berapapun jumlahnya! God bless Indonesia!

– Anonymous –

(We believe that angels, just like superheroes and cats, come in different costumes, but they’re here for the same reasons: to make our days brighter, our smiles wider, and our feelings happier. So during these uncertain times, we’ve decided to replace the love letter with stories about kindness, because now more than ever, our community needs that. Shoot us your kindness stories here (can be something you see or experience first hand (or no), basically, anything!) and we will feature it here. Come, share us your versions of angels!)


Catch Me Up! Recommendations

For when you’ve been watching too many food review videos on YouTube… this one is like no other.