Uni Eropa, WHO, Kebakaran Hutan, Kota Jakarta, Sri Mulyani

78

Welcome, Monday. Today we’re gonna make you a liiiittttle bit mellow, because we’re going to talk about: Breakup.

Gambar: nbcnews

Not your breakup. It’s the Brexit aka Britain-EU breakup.

Oh. Kirain.
Jadi pada Jumat minggu lalu, kejadian keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang kita udah denger ribuan kali dramanya, akhirnya kejadian.

Beneran jadi pisah nih, sekarang?
Yhaaa emang drama-dramanya kayak kamu yang katanya mau putus tapi nggak jadi-jadi *huft tos* tapi kali ini beneran kok. A little reminder, di tahun 2016 lalu, Inggris menggelar referendum yang hasilnya 52% warga Inggris pengen negaranya itu keluar dari Uni Eropa. Sejak saat itu, kedua belah pihak telah melakukan banyak perundingan terkait ketentuan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, dan Jumat kemarin hal ini beneran kejadian. Inggris secara resmi udah nggak lagi merupakan anggota Uni Eropa.

Whoa tell me more. 
Tapi kan emang namanya kalo putus itu nggak pernah nggak rebek, yah. Jadi meskipun udah resmi keluar dari EU, Inggris masih harus membahas soal perjanjian perdagangannya sama Uni Eropa ke depannya bakal gimana. Rencananya, pembahasan soal trade deal ini bakal dilakukan selama 11 bulan ke depan, dan negosiasinya bakal dimulai pada Maret mendatang.

Terus kalo negonya nggak selesai?
Ya emang sih, biasanya trade deals kayak gini pembahasannya bisa bertahun-tahun, jadi banyak juga para ahli yang menilai bahwa time frame selama 11 bulan ini terlalu ambisius. Kalo emang misalnya pembahasannya belum selesai sampe deadline yang ditentukan, maka Inggris bakal otomatis pake ketentuan perdagangan yang diatur WTO, aka World Trade Organization, dan dalam kata lain, bakal terjadi “No-deal Brexit”.

I don’t know what that is.
“No-deal Brexit” adalah situasi di mana Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa adanya perjanjian apapun terkait proses perpisahannya. In a nutshell, dalam No-deal Brexit berarti Inggris ya udah, keluar aja gitu secara otomatis dari seluruh keanggotaannya di Uni Eropa tanpa ada nego-nego soal gimana masa depan keduanya nanti. Hal inilah yang sebenernya dihindarin banget sama para legislator di Inggris.

Kenapa?
Karena efeknya sih. Dalam dokumen internalnya, para legislator ini bilang bahwa kalo sampe yang terjadi adalah No-deal Brexit, maka dikhawatirkan bakal terjadi kekurangan supply bahan makanan dan obat-obatan (karena keduanya kebanyakan diimpor dari Uni Eropa), sampe waktu tunggu yang lama di perbatasan.

Jadi trade deal-nya ini soal makanan dan obat-obatan?
And gazillion other things kayak industri jasa, termasuk jasa keuangan, bisnis, entertainment, sampeee sepak bola. Pokoknya semua yang berhubungan dengan pertukaran barang dan jasa antara kedua belah pihak deh. Dan idenya, Inggris pengen mencapai “zero tariff, zero quota” dalam perundingan ini. Wow.

Where do we go from here?
Well, sekarang sih nggak bakal banyak yang berubah karena Inggris lagi memasuki masa transisi selama 11 bulan itu tadi. Jadi sejak saat ini sampe Desember 2020, warga Inggris masih bisa bolak balik ke Uni Eropa dan lalu lintas barang bakal berlangsung kayak biasa. Although, karena udah bukan anggota Uni Eropa, Inggris nggak punya hak suara dalam menentukan kebijakan perdagangan Uni Eropa lagi.

So all of this will end by December 2020?
Well,
Uni Eropa sih bilang hampir nggak mungkin negosiasi ini bisa selesai semua dalam jangka waktu 11 bulan (to give you a sense, kerjasama perdagangan Kanada-Jepang aja pembahasannya bisa nyampe tujuh tahun). Well, sebenernya dalam perjanjiannya disebutkan sih bahwa masa transisi ini bisa diperpanjang kalo emang dibutuhkan, tapi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bilang bahwa pihaknya nggak bakal melakukan hal ini. So, let’s see. 

Alrighty. Anything else I should know?
Jadi gengs, Inggris ini merupakan negara pertama yang meninggalkan Uni Eropa setelah keanggotaannya berjalan selama 47 tahun. So of course, pada voting terakhir di parlemen Uni Eropa di mana ke-28 (now 27) negara anggota EU menyetujui cabs-nya Inggris, terjadi scene-scene emosional, bahkan ada anggota parlemen yang nangis. Dalam kesempatan itu, Presiden dari Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen bilang ke Inggris bahwa “We will always love you and we will never be far”.

Drama, drama, dramaaaa…


What’s become a worldwide concern…

Coronavirus.
Karena minggu lalu, akhirnya World Health Organization (WHO) menetapkan status coronavirus sebagai darurat global.

Huh? How did we get there?
Jadi awalnya, WHO masih bilang bahwa it’s “too early” untuk bikin status coronavirus ini sebagai darurat global. Tapi over last week, jumlah penularan antar orang dan ke negara lain meningkat cepat, sampe bikin WHO menggelar emergency meeting di Geneva, Swiss, pada Kamis lalu. Nah, pas itu, langsung deh diumumin bahwa coronavirus ini berstatus darurat global aka global emergency.

I see. Go on…
Dalam keterangannya, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus bilang bahwa penetapan status ini bukan cuma karena atas apa yang terjadi di China, tapi juga yang terjadi di negara lain. Tedros juga menyatakan bahwa concern utama lembaganya adalah gimana kalo virus ini menyebar ke negara lain yang sistem kesehatannya lemah, sehingga mereka nggak siap untuk menanggulangi virus tersebut.

What does this status mean for the virus?
Well,
dengan ditetapkannya coronavirus sebagai global health emergency, maka WHO bakal bisa dengan lebih baik mengkoordinasikan respon negara-negara anggotanya terhadap virus ini. Selain itu, WHO juga bakal punya aturan standar terkait kebijakan karantina, perdagangan, screening, sampe traveling yang bisa digunakan oleh negara-negara tersebut.

Meanwhile in Indonesia…
Kemarin kita udah berhasil memulangkan 238 orang dari total 245 WNI yang ada di Wuhan. Tapi yang nggak ikut pulang di antaranya ada tiga orang yang gak lolos screening coronavirus, dan ada empat orang yang emang milih untuk stay di Wuhan karena lebih nyaman berada di sana. Wow.

Trus, mereka udah balik ke Indonesia?
Yep, tepatnya ke Natuna, di Kepulauan Riau. Kata Kemenkes, para WNI asal China ini bakal diobservasi dulu selama 14 hari untuk memastikan bahwa mereka benar-benar sehat.

Natuna yang kemaren rame yah? Kenapa kok di Natuna?
Ada beberapa pertimbangan sih kenapa Natuna jadi tempat pilihan untuk observasi. Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, beberapa perkembangan di antaranya adalah pertama, karena pangkalan militer Natuna punya fasilitas rumah sakit yang bagus dengan kapasitas 300 orang. Terus juga tempatnya lumayan jauh dari pemukiman warga, dan letak rumah sakitnya juga nggak jauh dari landasan pesawat.

I see. So people are ok with this?
Not really.
Kemarin, sejumlah warga di Natuna melakukan aksi penolakan para WNI di wilayahnya. Menurut mereka, fasilitas kesehatan di Natuna juga nggak lengkap, dan mereka takut terjadinya penyebaran coronavirus di wilayahnya yang kecil tersebut.


For when you’re being a good neighbor…

Gambar: KUMPARANnews

Indonesia, too.
Sabtu kemarin, Indonesia baru aja ngirim bantuan ke Australia untuk membantu mengatasi kebakaran hutan di negara tersebut yang udah terjadi sejak September tahun lalu.

Tell me more. 
Olrite.
Jadi Indonesia mengirimkan bantuan, namanya Satgas Garuda RI, yang terdiri dari 44 personel. Adapun para personel ini terdiri dari jajaran TNI AU, AD, dan AL, terus juga ada perwakilan dari Kemenlu dan BNPB. Sabtu kemarin, Satgas ini cusss dari Bandara Halim Perdanakusumah dan dilepaskan langsung oleh Panglima TNI Pak Hadi Tjahjanto.

Alasannya apa sih kita ngirim bantuan?
Kata Pak Hadi sih, karena Australia adalah tetangga kita yang juga udah berulang kali ngirimin bantuan buat Indonesia pas kita lagi mengalami bencana alam. Selain itu, Indonesia dan Australia juga punya perjanjian, namanya Traktat Lombok yang isinya adalah kerjasama dan saling ngasih bantuan kalo terjadi peristiwa bencana maupun hal-hal darurat di kedua negara.

Terus nanti tugas mereka di sana apa?
Pastinya sih membantu penanganan karhutla dan membuka akses ke jalur dan pemukiman warga yang terdampak karhutla. Selain itu, Pak Hadi juga minta para TNI ini untuk selalu koordinasi sama petugas setempat karena mereka yang paling tau lapangan.

Terus Satgas Garuda ini bakal berapa lama di Ostrali?
Rencananya sih bakal satu bulanan ya, tapi ada kemungkinan nambah, tergantung sikon aja. Siapa tau masih dibutuhkan bantuan untuk karhutla ini.

Catch Me Up! on Australia’s fire…
Jadi sejak September tahun lalu, Australia mengalami bencana kebakaran hutan yang besar banget dan telah membakar lebih dari 18 juta hektar lahan dan menyebabkan tewasnya 33 orang. Selain itu, diprediksi ada lebih dari 1 miliar hewan yang mati karena habitat mereka yang hancur dan supply makanan yang tidak tersedia. Padahal, Australia terkenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitasnya yang paling beragam di dunia.


For when you’ve been stuck in traffic for soooo…looong….

Yha gak heran sih, karena ternyata Jakarta emang termasuk ke dalam salah satu kota termacet di dunia. Jadi dalam keterangan terbaru yang dirilis sama TomTom Traffic Index, diketahui bahwa Jakarta menduduki peringkat ke-10 sebagai kota paling macet di dunia. Peringkat ini sebenernya naik dari tahun 2017 di mana Jakarta ada di ranking 4, terus di tahun 2018 di posisi 7, baru deh di tahun 2019 lalu ada di posisi 10. Meski begitu, index ini juga menunjukkan bahwa sebenernya nggak ada yang berubah dalam tingkat kemacetan di Jakarta, di mana ibu kota berada pada congestion level 53%. Meaning, kalo lagi nggak macet, warga Jakarta bisa nyampe tujuan 53% lebih cepet dibanding kalo macet.

In case you haven’t noticed, kemacetan paling parah di JKT terjadi pagi dan sore hari, yang bikin warga Jakarta jadi buang waktu sebanyak 19-26 menit (dari tiap 30 menit) lebih lama karena macet.


“That’s the beauty of election. Nanti pihak mana menjanjikan apa, gratis apa, yang lain juga enggak mau kalah, menggratiskan yang lainnya. Saya jadi sering sakit perut.”

Kata Menteri Keuangan Sri Mulyani minggu lalu saat cerita soal pengalamannya pas masa kampanye Pilpres tahun lalu. Bu Ani cerita, bahwa ada beberapa janji kampanye Pak Jokowi, kayak misalnya janji kartu pra kerja, yang bikin dia nervous gara-gara belum ada anggarannya. Namun hal ini bisa teratasi cepat dengan bantuan teknologi.

Kirain janji cuma bisa bikin sakit hati doang, taunya juga bisa bikin sakit perut yha. 


Love Letter Catch Up!

Catchers 1: It’s not a question actually, I just want to give my big fat warm hug for geniuses behind Catch Me Up (yes it’s you guys, dear Amri & Haifa). May the great always be in you guys’ favor like SERIOUSLY THANK YOU AMEN! <3

Catchers 2It’s not actually a question, rather, an appreciation for the founders and the team! Terima kasih sudah membuat saya membaca berita semudah ini, setelah sebelumnya selalu malas sekali padahal udah sampe masukin BBC News ke screen utama HP:) Keep up the good work, Catchmeup Team! Have a great day, too.

Amri: Hi Mister dan/atau Miss yang di sana, we want to send you a big fat warm thank you hug for your lovely words! This is exactly the kind of message that gives us extra energy boost to work around the clock and deliver the best newsletter for our readers. Catch Me Up! is still a baby and hopefully you can keep watching it grow (a.k.a. keep reading our newsletter) into something more mature in the near future. Thank you for being with us in this journey. Don’t forget to share your joy to other people and recommend us to all your friends, families, neighbours, coworkers, etc. 🙂

-Amri-

(Our most favorite part of the day is to know what you think about our newsletter. Thus, we have created this section where you can ask our founder (Haifa) and cofounder (Amri) anything about Catch Me Up! Shoot away your questions here and get a chance to be featured. See you again tomorrow!


Catch Up! Recommendations

We’re hiring! 
Yeppp, we’re finally getting some people in! This is so exciting because it’s our first open recruitment, and you guys are the first to know <3.

So, we’re looking for a full-time writer that is in love (and familiar!) with our writing style, passionate about doing research about multi-sectoral issues, speaks and writes good English, discipline, willing to learn (you will work and learn directly with our very own CEO!), and bonus point is you are also familiar with Canva and social media management.

If you think you got what it takes to be a part of our small yet growing team (still feels like a dream to write this! lol), kindly send your CV highlighting your skills mentioned above and your writing samples (any kind writing example, but pro tip: make it as closely as similar to our writing style ;-)) to [email protected]. Put the: “full-time writer job application” as the subject.

Excited to have you on board! 😉