Tobias Rathjen Pelaku Penembakan Shisha Bar di Hanau Jerman, Dilatarbelakangi Rasisme dan Xenophobia

110

For when we got some updates from Germany…

Gambar: CBS News

The Germany shootings.
Pada Rabu malam waktu setempat, terjadi penembakan massal yang dilakukan oleh seorang pria di sebuah shisha bar di Hanau, sebuah kota di Jerman yang deketan sama Frankfurt. Akibat penembakan ini, sembilan orang tewas.

What?
Yep, jadi pada malam itu, sekitar jam 10an, si pelaku yang diyakini merupakan seorang ekstremis sayap kanan mendatangi dua shisha bar yang terletak di wilayah yang banyak imigrannya (shisha itself first started in Turkish community, but now it’s getting more and more popular among young Germans). Abis melakukan penembakan di shisha bar itu, si pelaku kemudian balik ke rumahnya dan pas didatengin polisi, dia udah meninggal dengan luka tembakan—so was his mom.

His mom?
Yep. Kata polisi, kemungkinan besar si pelaku ini nembak ibunya dulu, dan setelah ibunya meninggal, barulah dirinya melakukan bunuh diri.

Tell me more about the victims...
Diyakini bahwa mayoritas dari para korban meninggal dalam peristiwa ini punya background imigran, dan walaupun pemerintah Jerman belum secara resmi mengumumkan kewarganegaraan dari para korban, namun kedutaan besar Turki di Berlin udah ngumumin bahwa lima warga negaranya termasuk ke dalam daftar korban tewas.

Oh no… did the German government say anything about this?
Yep, nggak lama setelah penembakan ini terjadi, Kanselir Jerman Angela Merkel langsung menyampaikan statement-nya. Merkel menyebut bahwa sejauh ini, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa motif di balik tindakan sang pelaku adalah pandangan ekstremisme sayap kanan, rasisme, dan berangkat dari kebencian atas orang dengan asal, kepercayaan, dan penampilan yang berbeda dengan dirinya. Merkel juga bilang bahwa, “racism is a poison, hatred is a poison.”

Well, do we know the identity of the shooter?
Yep, like, sekitar jam empat subuh tadi banget, otoritas di Jerman mengumumkan identitas pelaku penembakan yang bernama Tobias Rathjen. Tobias ini berumur 43 tahun dan dia punya sebuah website dan akun YouTube (which, udah pada di-takedown sama pemerintah Jerman) yang isinya rasis dan xenophobic banget. Di website-nya itu, Tobias bilang bahwa dia nggak suka sama orang Turki, Maroko, Lebanon, dan Kurdi.

I wonder how the German public react to this…
Well, tentunya penembakan ini ngagetin buat masyarakat Jerman, secara Germany has the strictest gun law in the world, meaning, susah banget emang bisa punya sejata api di Jerman. Menurut data pemerintah Jerman pada 2015, dari total 82 juta penduduk, cuma 1,5 juta orang yang memiliki senjata api. Selain itu, banyak warga Jerman yang turun ke jalan sebagai aksi anti-rasisme dan anti-xenophobia.

Xenopho…
Xenophobia, ini adalah pandangan kebencian terhadap orang dari negara lain (in this case, immigrant) yang lagi rising nggak cuma di Jerman, tapi juga di berbagai negara di Uni Eropa. Kebencian ini biasanya menarget orang-orang imigran dari wilayah konflik kayak Timur Tengah dan Afrika. Di Jerman sendiri, kasus penembakan ini adalah kasus mematikan ketiga dalam setahun terakhir yang dilatarbelakangi sama pandangan xenophobia dan ekstremis sayap kanan tadi.