Sebanyak 52 Persen Warga Negara Inggris Ingin Memisahkan Diri dari Uni Eropa

108

Welcome, Monday. Today we’re gonna make you a liiiittttle bit mellow, because we’re going to talk about: Breakup.

Gambar: nbcnews

Not your breakup. It’s the Brexit aka Britain-EU breakup.

Oh. Kirain.
Jadi pada Jumat minggu lalu, kejadian keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang kita udah denger ribuan kali dramanya, akhirnya kejadian.

Beneran jadi pisah nih, sekarang?
Yhaaa emang drama-dramanya kayak kamu yang katanya mau putus tapi nggak jadi-jadi *huft tos* tapi kali ini beneran kok. A little reminder, di tahun 2016 lalu, Inggris menggelar referendum yang hasilnya 52% warga Inggris pengen negaranya itu keluar dari Uni Eropa. Sejak saat itu, kedua belah pihak telah melakukan banyak perundingan terkait ketentuan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, dan Jumat kemarin hal ini beneran kejadian. Inggris secara resmi udah nggak lagi merupakan anggota Uni Eropa.

Whoa tell me more. 
Tapi kan emang namanya kalo putus itu nggak pernah nggak rebek, yah. Jadi meskipun udah resmi keluar dari EU, Inggris masih harus membahas soal perjanjian perdagangannya sama Uni Eropa ke depannya bakal gimana. Rencananya, pembahasan soal trade deal ini bakal dilakukan selama 11 bulan ke depan, dan negosiasinya bakal dimulai pada Maret mendatang.

Terus kalo negonya nggak selesai?
Ya emang sih, biasanya trade deals kayak gini pembahasannya bisa bertahun-tahun, jadi banyak juga para ahli yang menilai bahwa time frame selama 11 bulan ini terlalu ambisius. Kalo emang misalnya pembahasannya belum selesai sampe deadline yang ditentukan, maka Inggris bakal otomatis pake ketentuan perdagangan yang diatur WTO, aka World Trade Organization, dan dalam kata lain, bakal terjadi “No-deal Brexit”.

I don’t know what that is.
“No-deal Brexit” adalah situasi di mana Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa adanya perjanjian apapun terkait proses perpisahannya. In a nutshell, dalam No-deal Brexit berarti Inggris ya udah, keluar aja gitu secara otomatis dari seluruh keanggotaannya di Uni Eropa tanpa ada nego-nego soal gimana masa depan keduanya nanti. Hal inilah yang sebenernya dihindarin banget sama para legislator di Inggris.

Kenapa?
Karena efeknya sih. Dalam dokumen internalnya, para legislator ini bilang bahwa kalo sampe yang terjadi adalah No-deal Brexit, maka dikhawatirkan bakal terjadi kekurangan supply bahan makanan dan obat-obatan (karena keduanya kebanyakan diimpor dari Uni Eropa), sampe waktu tunggu yang lama di perbatasan.

Jadi trade deal-nya ini soal makanan dan obat-obatan?
And gazillion other things kayak industri jasa, termasuk jasa keuangan, bisnis, entertainment, sampeee sepak bola. Pokoknya semua yang berhubungan dengan pertukaran barang dan jasa antara kedua belah pihak deh. Dan idenya, Inggris pengen mencapai “zero tariff, zero quota” dalam perundingan ini. Wow.

Where do we go from here?
Well, sekarang sih nggak bakal banyak yang berubah karena Inggris lagi memasuki masa transisi selama 11 bulan itu tadi. Jadi sejak saat ini sampe Desember 2020, warga Inggris masih bisa bolak balik ke Uni Eropa dan lalu lintas barang bakal berlangsung kayak biasa. Although, karena udah bukan anggota Uni Eropa, Inggris nggak punya hak suara dalam menentukan kebijakan perdagangan Uni Eropa lagi.

So all of this will end by December 2020?
Well,
Uni Eropa sih bilang hampir nggak mungkin negosiasi ini bisa selesai semua dalam jangka waktu 11 bulan (to give you a sense, kerjasama perdagangan Kanada-Jepang aja pembahasannya bisa nyampe tujuh tahun). Well, sebenernya dalam perjanjiannya disebutkan sih bahwa masa transisi ini bisa diperpanjang kalo emang dibutuhkan, tapi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bilang bahwa pihaknya nggak bakal melakukan hal ini. So, let’s see. 

Alrighty. Anything else I should know?
Jadi gengs, Inggris ini merupakan negara pertama yang meninggalkan Uni Eropa setelah keanggotaannya berjalan selama 47 tahun. So of course, pada voting terakhir di parlemen Uni Eropa di mana ke-28 (now 27) negara anggota EU menyetujui cabs-nya Inggris, terjadi scene-scene emosional, bahkan ada anggota parlemen yang nangis. Dalam kesempatan itu, Presiden dari Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen bilang ke Inggris bahwa “We will always love you and we will never be far”.

Drama, drama, dramaaaa…