Because your love is my drug

163

It’s finally our most favorite day of the week! We love Fridays, we love money, and you know what’s better? Dataviz Friday on $$$$…

Yep yep yep! Dalam dataviz kali ini, kita lagi mau bahas soal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ngaruh banget sama kondisi dompet kamu! Jadi Hari Rabu kemarin, Badan Pusat Statistik aka BPS (Ni bestfrennya Amri nih) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 yang melambat dari yang sebelumnya sebesar 5,17% di tahun 2018 menjadi 5,02% di tahun 2019.

So, what does slower economy mean for your wallet? Well, it means you earn less income and spend less money; companies have less revenues, and there will be higher unemployment rate. Howeverrrr, masih kata BPS, angka segini masih cukup baik karena dengan trend global yang terjadi sekarang (read: perang dagang US-China, krisis Timur Tengah), banyak negara yang juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat. Wondering what else you need to know about the economy? You know the drill. Scroll down, impress your Econ 101 class, or your date tonight. See ya next week!

For when you’ve been dealing with the same problem every year…

Gambar: Liputan 6

Pak Jokowi can relate.

Kemarin, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2020 di Istana Negara, Pak Jokowi menyampaikan kebeteannya karena kebakaran hutan terjadi terus tiap tahun.

Apa katanya?

Jadi Pak Jokowi melakukan flashback gitu gengs, katanya pas baru jadi presiden di tahun 2015 silam, karhutla yang terjadi menghabiskan 2,5 juta hektare lahan. Terus angka itu turun jadi 150 ribu hektare di tahun 2017, tapi sejak 2018 sampe 2019, angka ini meningkat terus...so he’s like “ini ada apa si? apa yang dicopot masih kurang?”

Dicopot apa maksudnya?

Dicopot dari jabatannya. Jadi sejak tahun 2016, Pak Jokowi udah bikin aturan bahwa kalo ada TNI atau Polisi yang ngebiarinin daerahnya mengalami kebakaran hutan, maka para pimpinan TNI atau polisi itu bakal dicopot. Kata Pak Jokowi, kalo emang ada satu daerah mengalami karhutla, maka dia bakal langsung nelepon Panglima TNI maupun Kapolri untuk nanyain “Halo halo Pak Panglima atau Pak Kapolri, itu ada daerah kebakaran. Jadi gimana? Kapolda, Pangdam, Kapolres, atau Dandim-nya udah dicopot belum?”

Idih ngeri abis…

Iya gitu, karena kata Pak Jokowi, dia pengen kita lebih hati-hati dalam menghadapi bencana karhutla. Menurutnya, Indonesia nggak mau kayak negara lain yang mengalami karhutla besar-besaran. Contohnya adalah Rusia yang telah kehilangan 10 juta hektare lahan, Brasil yang kehilangan 4,5 juta hektare hutan amazon dan Australia yang so far juga udah kehilangan sekitar 11 juta hektare lahan. Pak Jokowi juga menyebut bahwa ada 500 jutaan (We’re pretty sure the exact number is more than 1 Bil?) satwa yang mati karena kebakaran di sana, dan hal ini sayang banget, karena kekayaan hayati itu nggak bisa diitung dengan uang.

Terus cara biar nggak kayak negara lain gimana?

Yhaa pokoknya kalo ada titik api, walaupun kecil harus buru-buru dipadamkan karena makin gede apinya makin susah padam. Selain itu, beliau juga minta adanya penataan ekosistem gambut dalam kawasan hidrologi gambut

Dan yang paling pentiiiing…

Solusi ekonomi permanen aka jangan ada lagi pihak-pihak yang bakar hutan. Hal ini adalah karena dari laporan yang diterima Pak Jokowi, ketauan bahwa 99 persen kasus karhutla yang terjadi di Indonesia dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi, aka dibakar oknum. Beliau bilang, polisi harus berani tegas menghukum siapapun yang ketauan membakar hutan, baik perorangan atau korporasi. Bener yha paaaak….

Who’s just come up with a new medical program budget?

Gambar: CNN

WHO.

Who?

Ya WHO, aka World Health Organization *krik krik*.

Kemarin, WHO baru aja ngajuin dana sebesar US$675 juta kepada negara-negara anggotanya untuk membantu mengantisipasi makin luasnya penyebaran corona virus ke berbagai negara. Menurut WHO, kalo nggak invest di pencegahan dari sekarang, maka dikhawatirkan cost yang harus dibayar bakal lebih besar lagi.

Emang kata WHO, dananya mau dipake buat apa?

Pastinya sih membantu pencegahan penyebaran virus corona negara-negara yang healthcare system-nya lemah, terus juga untuk mendiagnosa dan merawat pasien yang emang udah terdeteksi corona, menghindari penyebaran virus dari orang ke orang, dan melindungi para tenaga medis.

Go on…

Untuk membahas lebih jauh soal penanggulangan corona virus ini, para scientist WHO rencananya bakal meeting di Geneva, Swiss pada 11-12 Februari mendatang. Meeting ini juga bermaksud untuk bahas lebih jauh terkait upaya penyembuhan dan pengembangan vaksin corona.

I see. Any updates on the medicine, though?

Lagi berusaha dikembangkan di mana-mana, but the progress is slowww. Di China, para dokter melaporkan bahwa beberapa kasus corona yang udah sembuh diobatin pake paduan antara obat influenza dan obat anti-HIV, tapi gaada laporannya berapa orang yang udah sembuh dengan penggunaan kedua obat ini. Terus minggu lalu, pemerintah China juga baru aja merilis jenis obat-obatan tradisional yang bisa dikonsumsi untuk nyembuhin corona, although keampuhannya belum terbukti.

Anything else I should know?

Sejauh ini, virus corona udah menyebar ke makin banyak negara, gengs. Jumlah pasien yang confirmed tertular corona secara global udah mencapai 28,275 orang, dengan sekitar 28,000-nya merupakan warga China. Selain itu, saat ini udah ada 565 orang yang meninggal karena corona virus, dengan masing-masing satu kasus di Filipina dan Hong Kong, dan sisanya di China.

For when you’ve been living in “What happens in Bali stays in Bali” mantra…

Gambar: Jawapos

Calling all the boozers yang hobi liburan ke Bali!

Kemarin, Gubernur Bali I Wayan Koster baru aja menerbitkan Peraturan Gubernur yang melegalkan arak dan minuman tradisional Bali lainnya. Kata Pak Gub, penerbitan aturan ini diharapkan bisa meningkatkan ekonomi rakyat yang berbasis kerakyatan dan kearifan lokal Bali. Selain arak, tuak dan brem Bali juga dilegalkan karena ketiganya merupakan sumber daya keragaman budaya di Pulau Dewata. Pak Gub bilang, selama ini arak dan tuak Bali udah terkenal banget, tapi pengembangannya terhambat karena minuman alkohol termasuk ke dalam “negative list” dalam peraturan presiden, tapi ternyata hal ini bisa diatur dalam peraturan gubernur.

Dengan adanya peraturan ini, Pak Gub berharap biar segala urusan produksi, distribusi, sampe penjualan arak dan tuak Bali bisa dilakukan sesuai aturan karena kan udah ada aturannya. Beliau juga ngingetin biar minuman beralkohol ini nggak boleh dijual ke anak-anak di bawah umur. Wanna know what’s we save for the last? Pak Gub juga rencananya mau ngadain festival minum arak Bali, di mana bakal ada lomba yang bisa paling banyak minum dan nggak mabok bisa juara.

Welp, look who’s just checking the flight tickets to Bali for the next holiday…hint: definitely not us 😛

“Kalau saya minum kopi, saya bisa pidato tiga jam tanpa berhenti,”

Kata Pak Prabowo dalam sambutannya di acara Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Gerindra yang digelar di Kantor DPP Gerindra di Jakarta, kemarin. Kata pak Prabowo, dia sebenernya galau karena nggak boleh ngopi banyak-banyak sama dokter, padahal kopi adalah rahasianya bisa kuat pidato berjam-jam.

Now you know who can speak longer than your dosen during a morning class…

Love Letter Catch Up!

Catchers: Gak penting sih pertanyaannya, tapi kepo aja, apa yg jadi dasar pemilihan honorific(?) untuk tokoh2 tertentu. Kayak contohnya d artikel soal komisioner KPU dulu ada nyebut panggilannya Mas Wahyu Setiawan. Tapi di kesempatan lain, ada juga tokoh yang dipanggil pakai pak. Apa karena umur? Atau jabatan? Atau suka2 aja. Thank you Haifa/Amri~

CMU! HQ: Hi there! Wow you have such a keen eye for details! lol Jadi sebenernya untuk sebutan beberapa tokoh itu kita ngikutin fakta di lapangan sih. Jadikan sebagai jurnalis, aku pernah ngepos di beberapa tempat untuk wawancara narasumber, nah pas lagi wawancara itu, kita jarang banget langsung nyebut nama. Biasanya kita pake kata sebutan kayak Mas/Pak/Mbak/Ibu/Bang (paling sering) atau kalo politisinya dari PKS, kita seringnya pake sebutan “Pak Ustaz”. Nah, karena Catch Me Up! ini idenya conversational, jadilah apapun yang kita temuin di lapangan, kita tulis aja juga di newsletter. Gitu ceritanya.

– Haifa-

(Our most favorite part of the day is to know what you think about our newsletter. Thus, we have created this section where you can ask our founder (Haifa) and cofounder (Amri) anything about Catch Me Up! Shoot away your questions here and get a chance to be featured. See you again tomorrow!

Catch Up! Recommendations

For when you’ve been drinking kopi tubruk and you know that there’s gotta be more to life…try this.