Peace Plan, Rencana Trump Terkait Pembagian Wilayah Israel-Palestina

85

It’s one more day to the weekend. Grab your coffee or bubur ayam *kita #teamdiaduk* and let’s Catch Up! on…

Gambar: BBC News

Trump’s so-called “peace plan” on Palestine-Israel.

Background, background. 
OK. Jadi kemarin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru aja mengumumkan “rencana perdamaian” aka “peace plan” untuk konflik terpanjang di era modern ini, yaitu pendudukan Israel di Palestina. Dalam proposalnya yang diumumkan Selasa lalu, Trump memperkenalkan rencana yang menurutnya “realistis” dan “win-win”, dan bisa jadi “kesempatan terakhir buat warga Palestina”.

Kayak apa si proposalnya?
Jadi ide utamanya adalah soal pembagian wilayah Israel dan Palestina. To give you background, saat ini wilayah Palestina adalah West Bank dan Gaza Strip (meskipun banyak pemukiman Israel aka Israeli settlement di kedua wilayah itu).

Before we proceed, meet: Jerusalem. 
Yang merupakan kota yang penting banget di Timur Tengah. Kenapa penting? Karena kota ini punya tiga tempat suci buat tiga agama samawi; yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Di Jerusalem ada Masjidil Aqsa, tempat Nabi Muhammad mi’raj dari bumi ke langit; Wailing Wall, tempat penganut agama Yahudi berdoa; dan Gereja Makam Kudus, yang merupakan tempat suci bagi penganut Kristen. Jadi emang signifikan banget lah, Yerusalem ini.

Ok, go on…
Nah, pada 2018 lalu, Trump mengumumkan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. This means, AS udah secara de facto mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Padahal selama ini, Yerusalem adalah wilayah dispute, yang kata PBB penyelesaian masalahnya harus dilakukan melalui negosiasi antara kedua negara. Yaudah tuh, langkah Trump itu banyak banget diprotes warga dunia walaupun pemindahan kedubesnya tetep lanjut.

I see. Terus…
Nah dalam proposal yang diumumin Trump kemarin, ada beberapa rencana penting yang dicantumkan, di antaranya:

  • Israel tetep lanjut menguasai seluruh wilayah Yerusalem sebagai ibu kotanya. TAPI, warga Palestina masih boleh berkunjung ke Masjidil Aqsa.
  • Ibu kota Palestina bakal ada di sebagian kecil wilayah timur Yerusalem.
  • West Bank yang merupakan wilayah Palestina bakal dikuasai sekitar 30 persennya sama Israel (Alasannya, karena emang udah ada Israeli settlement di sana *Iya tapi itu ilegal, Misterrrr*) anyway…
  • In the meantime, Israel setuju untuk menghentikan dulu proyek pembangunan di wilayah settlement-nya, tapi selama empat tahun aja, sampe Palestina mau memulai lagi negosiasi (?).
  • Assuming proposal ini lanjut, Palestina bakal diakui jadi negara merdeka (selama ini Palestina masih belum diakui sebagai negara sama AS) tapi mereka nggak boleh punya kekuatan militer.
  • Pengungsi Palestina ga boleh balik lagi ke wilayahnya. Jadi pas pembentukan negara Israel di tahun 1940-an lalu, sekitar 7 juta orang Palestina jadi pengungsi di berbagai negara tetangga kayak Jordania dan Lebanon. Nah, kalo emang proposal ini lanjut, maka para pengungsi ini ga boleh balik ke wilayahnya. Opsi buat para pengungsi ini adalah gabung di negara tempat dia ngungsi, atau diterima sebanyak 5.000 orang pengungsi setahun, tapi cuma selama 10 tahun.

Welp. I guess the Palestinians are very unhappy with this plan?
Of course. Pertama, mereka sama sekali nggak diajak untuk ikutan bahas soal proposal ini. Jadi proposalnya cuma dibahas antara Amerika Serikat (yang ngurusin adalah mantunya Trump, Jared Kushner, dibantu Dubes AS untuk Israel David Friedman, dan pemerintahannya PM Israel Benjamin Netanyahu.

Lah, terus kata Palestina apa?
A thousand times no, no, no. Gitu kata Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam keterangannya ga lama setelah Trump ngumumin plan-nya ini. Abbas juga bilang bahwa ini mah plan konspirasi yang bahkan nggak worth it untuk dipertimbangkan.

Kalo Netanyahu ada komentar nggak?
Ada donk. Menurut dia, plan ini realistis banget untuk mencapai perdamaian yang awet. HAH.

Anything else I need to know?
Well, meskipun namanya peace plan, tapi rencana ini banyak menuai kritik bahkan dari dalam negeri. Anggota DPR AS yang juga bacapres, Bernie Sanders, bilang bahwa proposal ini unacceptable. Bacapres lainnya dari Massachusetts, namanya Elizabeth Warren, bilang bahwa plan ini boongan, bukan diplomasi. Ya emang sih, banyak juga yang bilang bahwa plan ini politis, mengingat baik Trump maupun Netanyahu lagi menghadapi tantangan politik dalam negeri. Kalo Trump lagi menghadapi impeachment, Netanyahu lagi menghadapi dakwaan korupsi. Sedangkan isu-isu kayak gini populer banget untuk meraih dukungan dari publik.

In case you want a clear picture of what the new proposed “peace plan” looks like, you can check out the map below. Compare the orange territories on the left and right. Let that sink in. 

Sumber foto: The New York Times