Pertemuan Jokowi-Prabowo, Pajak Emisi Karbon, Topan Hagibis, Nobel Perdamaian, PKS

67

Good Monday morning. Come, sip your coffee with us while we tell you a story on a relationship between…

Gambar: tirto.id

Jokowi and Prabowo. 
No, not on your ex and his new gf.
Jadi ceritanya, Hari Jumat kemarin Pak Presiden Joko Widodo ketemu sama lawan nyapresnya selama dua kali berturut-turut, Pak Prabowo Subianto. Dalam pertemuan yang berlangsung selama kira-kira 45 menit itu, keduanya yang kompakan pake putih-putih bahas at least tiga hal.

Which are…
Soal kondisi ekonomi saat ini, rencana pemindahan ibu kota, dan peluang Gerindra bergabung dalam koalisi pemerintah. Khusus soal kemungkinan Gerindra “nyebrang” ke koalisi pemerintah, Pak Jokowi bilang bahwa keputusan soal hal ini masih belum final.

Terus, kata Pak Prabowo apa? 
Kata beliau, kalo emang dibutuhkan maka pihaknya akan siap membantu, tapi kalopun Gerindra stay jadi oposisi, maka pihaknya bakal setia berada di luar pemerintahan untuk jadi penyeimbang. Selain itu, Pak Prabowo juga bilang bahwa dia bakal menghadiri pelantikan presiden yang bakal digelar minggu depan.

Anything else I need to know? 
Sehari sebelum ketemu sama Pak Prabowo, Pak Jokowi juga abis ketemu sama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bahas hal yang sama, yaitu soal kemungkinan Partai Demokrat masuk dalam koalisi pemerintah. Tapi, Pak Jokowi bilang bahwa belum ada kesepakatan.

Decisions, decisions…


For when you’ve been worrying about the climate change…

Gambar: phys.org

IMF (International Monetary Fund) akhirnya nemuin cara yang paling ampuh buat mengatasi perubahan iklim.

Drum roll please… 
For carbon tax
aka pajak emisi karbon.

I am not familiar with the term. 
We’ll break it down for you. Jadi dalam laporan terbarunya yang diterbitkan minggu lalu, IMF menyebut bahwa cara yang paling efektif dan berpengaruh untuk mengatasi perubahan iklim adalah dengan meningkatkan nilai pajak emisi karbon.

Nilai pajak emisi karbon itu apa sih? 
Jadi dalam proses produksi industri, setiap kegiatan pembakaran minyak bumi, gas alam atau batu bara akan menghasilkan karbon aka CO2. (Think of: pabrik-pabrik yang corong asapnya mengeluarkan asap pekat). Dengan adanya aturan soal carbon tax ini, maka perusahaan-perusahaan tadi akan dikenakan pajak dalam jumlah tertentu atas limbah karbon yang dikeluarkannya.

Why does it matter? 
Karena karbon merupakan salah satu elemen yang berkontribusi penting terhadap pemanasan global. Sifat karbon yang memerangkap panas di bumi menyebabkan efek rumah kaca yang berakibat pada meningkatnya suhu bumi.

Now you’ve got my full attention. 
Nah, terkait emisi karbon ini, para ahli memprediksi bahwa di tahun 2100, suhu bumi bakal naik sampe 4 derajat celcius. Menanggapi hal ini, 195 negara kemudian meratifikasi Paris Agreement yang tujuannya adalah menargetkan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius aja, dengan cara menciptakan komitmen bersama untuk mengurangi emisi karbon tadi. Tapi ternyata, nggak semua negara punya pandangan yang sama atas perjanjian ini, dan bahkan ada negara yang memutuskan keluar dari Paris Agreement karena perjanjian ini dinilai ngerugiin ekonomi negaranya *cough* US *cough*. 

Ok. Balik ke pajak emisi karbon…
Saat ini, ada lebih dari 40 negara yang punya aturan soal pajak karbon, namun rata-rata harga pajaknya adalah US$ 2 per ton. Sedangkan menurut IMF, kalo mau mencapai target di bawah 2 derajat celcius tadi, maka pajaknya harus di angka US$ 75 per ton.

What does the “carbon-producer” think of this report?
You mean the industry? Ya mereka menolak kebijakan soal pajak karbon ini karena dinilai bakal menaikkan harga bahan bakar. Menurut mereka, kalo pajaknya naik sampe US$ 75 per ton, maka harga batu bara bakal naik sampe 200 persen dan harga gas sampe 70 persen.


For when you’ve been wondering about what happened in Japan…

Gambar: detiknews

Topan Hagibis.
Hari Sabtu lalu, Jepang dilanda badai topan besar, namanya Topan Hagibis yang menewaskan 11 orang dan menyebabkan 16 orang lainnya hilang. Diketahui bahwa topan ini merupakan topan terkuat yang menerjang Tokyo sejak tahun 1958 dan menyebabkan Ibu Kota Tokyo lumpuh karena air sungai meluap dan membanjiri wilayah perumahan. Selain itu, badai ini juga menyebabkan hampir setengah juta rumah nggak teraliri listrik. Akibat badai ini, Jepang kemudian memberlakukan status siaga bencana di negaranya dan meminta lebih dari tujuh juta warganya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.


Who just won a nobel prize for World Peace?

Gambar: nydailynews

Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed. 
Minggu lalu, Ahmed diumumkan sebagai pemenang anugerah Nobel Perdamaian atas jasanya mengakhiri konflik perbatasan yang udah berlangsung selama 20 tahun antara Ethiopia dengan negara tetangganya, Eritrea. Jadi tiga bulan setelah resmi menjabat sebagai perdana menteri pada bulan april 2018 lalu, Ahmed kemudian menggelar pertemuan bersejarah dengan Presiden Eritrea Isaias Afwerki. Hasil pertemuan ini adalah ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara kedua negara yang secara resmi mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak tahun 1998.

Atas penghargaan ini, Ahmed bilang bahwa dia bersyukur banget bisa menang, dan mempersembahkan kemenangan ini buat Afrika dan Ethiopia. Pada penghargaan nobel tahun ini, panitia harus milih pemenang dari total 301 kandidat, salah satu di antaranya adalah aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg.


“Lebih terhormat berada di luar pemerintahan,”

Kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jazuli Juwaini saat ngomentarin soal pertemuan antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo Subianto yang bahas soal kemungkinan Partai Gerindra merapat ke pemerintah. Kalo Gerindra jadi pindah kubu, maka kemungkinannya PKS bakal jadi satu-satunya partai oposisi yang ada di DPR. Sejauh ini, PKS juga uda bilang bahwa mereka siap jadi oposisi sendirian.

Now you know who will not be invited to the “Gov 2gther” group chat…