Startup di Indonesia, Greenland, Upacara 17 Agustus, Film Mulan

61

It’s Monday and your independence day weekend has officially over. Let’s catch up with things from Greenland to Hong Kong.


Gambar: ayobandung.com

But before we get there, lets get down to the business. 

Business? what business? 
Literally, bisnis. Jadi weekend kemarin, beberapa pejabat kayak wapres Pak Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani, Menteri KKP Bu Susi, Menkominfo Pak Rudiantara, Ketua BKPM Pak Tom Lembong sampe CEO beberapa unicorn asal Indonesia kumpul di Senayan untuk ngasih mentoring soal bisnis startup. Nama acaranya Gerakan Nasional 1000 startup digital yang tujuannya emang untuk menambah jumlah startup di Indonesia.

It’s still early. Why do you tell me bout’ this?
Karena menurut Pak JK, emang udah waktunya roda ekonomi digerakkan sama anak muda. Pak JK bilang, kalo nggak bisnis dari sekarang, maka Indonesia bakal selamanya menjadi konsumen atas negara-negara produsen, kayak China dan Hong Kong.

I am reading…
Menurut Pak Rudiantara, untuk mendukung berkembangnya bisnis startup di Indonesia, pemerintah nggak akan bikin peraturan yang ribet untuk mereka yang baru mau mulai bisnis. Hal ini karena menurut Pak Rudi, tingkat kesuksesan startup di Indonesia masih rendah, yaitu hanya 5% aja. Biar nggak makin rendah, aturannya jadi ga akan terlalu ribet, gitu katanya.

Should I start my own startup?
Your call, hon. Tapi yang pasti, masih kata Pak Rudi, jumlah startup di Indonesia masih rendah, yaitu baru 2.041. Kalah jauh sama Amerika Serikat misalnya, yang uda punya 46.491 startup.

What else do I need to know?
Our favorite BFF in the cabinet aka Ibu Sri Mulyani dan Ibu Susi yang turut hadir di acara kemarin juga ngasih berbagai nasihat buat para pengusaha startup. Kalo dari Ibu Ani, beliau nyaranin para pengusaha startup untuk rajin buka-buka nota keuangan 2020, karena siapa tahu dapet inspirasi bikin aplikasi soal fintech. Sedangkan menurut Bu Susi, secara 71% wilayah Indonesia terdiri dari laut, maka apa aja potensi laut bisa dibikin aplikasinya.

We’re thinking of a startup that makes Monday doesn’t feels like Monday. Got the idea?


What to say when your mom wants to buy random stuff from Infomercial on TV?

Gambar: worldatlas

Mom, kayak Trump de.

Gimana, gimana? Ga paham. 
Jadi minggu lalu, pemberitaan dunia internasional mendadak heboh dengan isu ketertarikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membeli Pulau Greenland (Geography lesson 101: Greenland adalah daerah otonomi di Denmark, yang lokasinya udah deket ke Kutub Utara, dan hampir seluruh permukaannya tertutup es).

Wow, iya random. Kenapa kok Trump pengen beli Greenland?
Menurut bocoran dari orang dalemnya Gedung Putih, Trump menunjukan ketertarikan dia buat ngebeli Greenland karena potensi mineral dan posisi geopolitiknya. Trump juga udah minta para penasihatnya untuk bantuin dia mempertimbangkan plus-minusnya ide pembelian ini.

Potensi geopolitik? 
Yes, Greenland emang jadi rebutan buat Amerika Serikat, China dan Rusia karena posisinya yang strategis dan kandungan mineralnya yang berlimpah.

Tell me more about it.
Beberapa tahun lalu, Amerika Serikat dan Denmark punya perjanjian yang ngasih Amerika Serikat akses penuh atas pangkalan militer yang terletak di Greenland, namanya Thule Air Base. As you can guess, Amerika pengen memperkuat posisinya di Greenland setelah pada tahun 2018 kemaren, mereka juga berhasil menolak China yang mau masuk ke Greenland dengan cara bikinin tiga bandara di sana.

Sepengen itu? 
Yes, dan wacana untuk beli Greenland ini bukan pertama kalinya. Pas abis perang dunia kedua, Presiden Amerika Serikat waktu itu, Harry Truman nawarin Denmark untuk ngejual Greenland ke Amrik dengan harga $100 juta, tapi ditolak.

I suppose it’s no different this time?
Yes, Kementerian Luar Negerinya Greenland pas minggu lalu ngetwit kalo wilayah mereka terbuka untuk bisnis, tapi nggak untuk dijual. Ouch.


Never underestimate the power of “Om, tante, ada salam dari papa…”

Gambar: republika.co.id

Karena maknanya bisa jadi lebih besar daripada yang kamu pikirin.

Like? 
Weekend kemarin, pas anaknya Pak SBY, Mas Agus Harimurti Yudhoyono ikut menghadiri upacara 17-an di Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Mas Agus yang dateng sama istrinya, Annisa Pohan ketemu sama Pak Jokowi dan menyampaikan bahwa pepo ga bisa ikutan hadir di istana gara-gara lagi jagain ibunya yang sakit.

Why do I need to know this? 
Karena akhir-akhir ini, isu kalo Partai Demokrat bakal merapat ke pemerintah lagi santer berhembus. Nah, dalam kesempatan kemarin, selain nyampein salam dari Pepo, Mas Agus juga bilang kalo dia mendukung program-program pemerintah untuk memajukan SDM Indonesia, khususnya generasi muda. Jeng jengg…

Maksudnya AHY yang bakal jadi menteri dari kalangan anak muda?
Masih misteri. Ketika ditanya soal potensi dirinya masuk ke kabinetnya Pak Jokowi, Mas Agus nggak mau jawab. Katanya, dia pengen fokus di 17-an aja. Can relate.


What happens when #Hashtag vs #Hashtag? It’s #Hashtagwar

Gambar: scmp.com

Minggu lalu, pemeran utama film Mulan remake, Liu Yifei bikin rame jagat media sosial dengan cuitannya di akun Weibo (kayak Twitter versi China) miliknya. Yifei bilang kalo dia mendukung Polisi Hong Kong dalam menghadapi para demostran pro-demokrasi yang udah turun ke jalan selama berbulan-bulan untuk menuntut dibatalkannya RUU Ekstradisi. Cuitannya itu juga dilengkapi dengan hashtag “#IAlsoSupportTheHongKongPolice”.

Ga lama kemudian, Hashtag #BoycottMulan jadi trending topic worldwide sebagai balasan atas cuitan Yifei yang dinilai banyak pihak sebagai bentuk dukungan atas kekerasan yang dilakukan polisi terhadap para demostran. Terkait hal ini, pihak Walt Disney belum ngasih komentar apa-apa.

Wondering what happens in Hong Kong? Catch Up! with our past edition on Hong Kong, here.