Pertemuan Jokowi-Prabowo, New York Mati Lampu, Facebook Kena Denda, Kebakaran Hutan Riau

75

Who’s finally “bumped” into each other in MRT Station and had brunch together last weekend? (hint: not you and your ex).


It’s Jokowi and Prabowo. 

Unless you’ve been living under the rock, kamu pasti udah tau kalo hari Sabtu kemarin, Pak Jokowi dan Pak Prabowo ketemuan di Stasiun MRT Lebak Bulus untuk brunch bareng.

Wait, how did that happened? 
That’s why we’re here. Jadi sejak putusan MK yang menetapkan kalo Presiden Jokowi menang pilpres, warga masyarakat emang udah request biar Pak Jokowi dan Pak Prabowo buru-buru ketemu biar tensi pasca pilpres mereda. Nah, hari Sabtu pagi menjelang siang kemaren, keduanya akhirnya ketemu di stasiun MRT Lebak Bulus. Bajunya matching lagi, putih-putih.

Kenapa ketemuannya di MRT si?
Ada beberapa alasan emang kenapa Pak Jokowi dan Pak Prabowo memilih ketemuan di stasiun MRT. Menurut Pak Menhub alias Menteri Perhubungan, ketemu di station MRT menunjukkan bahwa Pak Jokowi bakal tetap fokus membangun  infrastruktur. Selain itu, MRT juga dinilai visioner dan netral.

Terus mereka ngapain lagi?
Keduanya kemudian naik MRT dari Lebak Bulus dan turun di Station MRT Senayan. Mereka terus jalan dikit ke FX dan mam brunch barengan di Sate Khas Senayan. In case you ask kenapa di Sate Khas Senayan, karena Pak Prabowo suka sate kambing dan Pak Jokowi suka tahu tempe, and they served both. Tell your indecisive girlfriends to be like them when deciding for brunch.

Catch Me Up! on what’s matter…

  • Pak Prabowo akhirnya mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi atas kemenangannya di Pilpres kemarin. Ucapan selamat itu disampein pas keduanya press conference di Station MRT Senayan. Menanggapi hal ini, warga masyarakat yang hadir di station MRT langsung teriak-teriak “we love you!’
  • Soal kemungkinan Gerindra gabung ke koalisi pemerintah, jawabannya masih sama: ngobrol dulu sama partai koalisi yang lain.
  • Ketiga dan paling penting, Pak Jokowi dan Pak Prabowo setuju bahwa ga ada lagi istilah cebong dan kampret, adanya merah putih, dan Garuda Pancasila.
Like the airline? *krik krik*

When the city that never sleeps is finally “asleep”

Kita lagi ngomongin Kota New York, yang namanya sering banget kamu denger, dari lagunya Alicia Keys sampe film Spiderman. Nah malem Minggu kemarin, kota yang terkenal dengan sebutan “the city that never sleeps” itu akhirnya asleep karena mati lampu. Yep, New York mati lampu mulai dari sekitar jam 7 malam waktu setempat sampe tengah malam.

Mati lampu ini tentunya bikin kaget para New Yorkers, sebutan buat penghuni Kota New York karena menyebabkan subway alias MRT-nya mereka mati dan beberapa tempat wisata kayak Times Square dan patung Liberty yang terkenal itu jadi gelap.

Alasannya?
Masih diinvestigasi, jadi belum ketauan. Tapi Walikota New York udah bilang kalo kejadian mati lampu ini “unacceptable” karena bisa beresiko buat keselamatan banyak orang.


Facebook wajib bayar denda terbesar sepanjang sejarah.. thanks to Cambridge Analytica.


Wait, what?

Yes, pemerintah Amerika Serikat akhirnya mewajibkan platform sosial media yang sering kamu pake buat berantem pas Pilpres kemarin (or not) a.k.a Facebook untuk bayar denda sebesar USD 5 miliar atau sekitar Rp 70 triliun karena dianggap lalai melindungi data penggunanya. Angka ini adalah denda terbesar yang dijatuhkan ke perusahaan teknologi, setelah pada tahun 2012 lalu, Google juga didenda sebesar USD 22,5 juta.

Alasannya apa? 
Ga jauh-jauh, pelanggaran atas data pribadi. Kalo Google kena denda karena melanggar privasi penggunanya, maka Facebook didenda karena skandal Cambridge Analytica yang heboh banget di tahun 2018 lalu.

Not sure I remember what Cambridge Analytica is. 
We’ll catch you up! in the most un-boring way possible. Stay on.
Jadi Cambridge Analytica adalah nama konsultan politik asal Inggris yang ngambil data para pengguna Facebook untuk kepentingan kliennya.  Caranya adalah dengan menganalisa kepribadianmu, lewat likes dan personality quiz. Misalnya, masi inget dulu kamu sering nemu kuis dengan pertanyaan “which fries are you?” atau “negara mana yang cocok kamu tinggali?”

I remember. Go on. 
Nah, data-data ini kemudian dikumpulin dan dianalisa, dan akhirnya, dipake buat mempengaruhi pilihan politik kamu. Caranya, misalnya dari likes di akun Facebook-mu ketauan kalo kamu concern banget sama isu ekonomi, misalnya kliennya si Cambridge Analytica ini Jokowi, maka kamu bakal mulai dihujani dengan iklannya Jokowi yang juga ngomongin ekonomi. They call this psychographic microtargeting. 

Dan di kasus ini, kliennya adalah…
Donald Trump. Pas Pilpres AS 2016 lalu.

Berapa banyak data yang diambil sama si Cambridge Analytica ini?

Facebook bilang ada sekitar 87 juta data penggunanya yang diambil sama Cambridge Analytica. Dari angka itu, 70,6 jutanya punya orang Amerika, 1,2 juta punya orang Filipina, 1 jutaan punya Indonesia dan sisanya punya negara-negara lain.

Kok tiba-tiba ada Indonesia deh?
It’s still unclear why, tapi yang pasti, kliennya Cambridge Analytica emang tersebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.


Guess who’s that one guest that comes uninvited every summer?


Kebakaran hutan.
Memasuki musim kemarau, kebakaran hutan kembali terjadi di tanah air. Hari Minggu kemarin, BMKG menyebut kalo kebakaran hutan udah melanda 11 kabupaten di Provinsi Riau, hingga bikin jarak pandang cuma sampai 5 km di beberapa wilayah, kayak Kota Pekanbaru dan Dumai. Hingga awal Juli 2019, sudah lebih dari 3.300 hektare lahan di Riau yang hangus terbakar.

Penyebabnya? dibakar sama penduduk yang mau buka lahan.
Solusinya? pemadaman api dan pemerintah ngebentuk satuan tugas alias satgas yang nginep di rumah-rumah penduduk untuk ngasih penyuluhan biar ga sembarangan bakar hutan.