Kesamaan Indonesia-Brasil, Perang Dagang AS-Tiongkok, Fitur Baru Instagram, Nicki Batal Manggung

70

It’s Thursday. You’re going to take the  “moving the capital 101” class from Brazil.


Why should I take this class? 
Technically, it’s the government. Masih inget rencana pemerintah buat pindah ibu kota ke Kalimantan? Nah kemarin, Menteri Bappenas bilang kalo pindah ibu kota itu biasa dilakukan oleh banyak negara-negara dunia, dan dalam hal ini, kita bisa belajar dari Brasil yang sukses mindahin ibu kotanya dari Rio De Jeneiro ke Brazilia City.

Why Brazil?
Karena kita punya beberapa kesamaan sama Negeri Samba itu. Selain sama-sama join G20, Brasil dan Indonesia juga sama-sama punya ide pemerataan ekonomi biar duitnya ga muter di satu kota itu aja.

Some geography lesson, please…
Jadi awalnya, ibu kota Brasil adalah Rio De Jeneiro yang terletak di pinggir pantai dan merupakan pusat ekonomi negara itu. Di tahun 1960, pemerintah Brasil kemudian mindahin ibu kotanya ke Brazilia City yang berada di area hutan Amazon dengan tujuan pemerataan pembangunan. Nah menurut Pak Menteri Bappenas, hal ini sama banget sama Indonesia yang pengen pemerataan, biar pembangunan ga cuma terpusat di Jakarta atau Pulau Jawa aja, makanya pindahnya ke Kalimantan…

Calling the Brazilian Ambassador…
Menurut Dubes Brasil untuk Indonesia, selain untuk pemerataan ekonomi, pemindahan ibu kota juga punya tujuan untuk pemerataan penduduk, biar populasi negaranya lebih menyebar.

Catch Me Up! on moving on… I mean, the capital.
Either way, we won’t judge. Seperti yang kamu udah tau, pemerintah lagi ngegodok wacana untuk mindahin ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan. Rencananya ibu kota baru ini akan dibangun pada tahun 2021 dengan dana sebesar Rp 466 triliun.

Brb, we’re packing.


US-China trade war is hurting a lot of things, including The Bible. 

Like, The Bible?
Yes, you read it right. Kamu pasti udah sering denger kalo perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok bikin harga barang-barang di kedua negara naik (read: meat, diaries, soybeans, aluminum, coal, furnitures, etc etc) nah, hari Jumat kemarin, Presiden AS Donald Trump nge-twit kalo dia bakal naikin lagi tarif masuk dari 10% jadi 25%. Kebijakan ini berlaku untuk semua barang yang datang dari Tiongkok ke Amerika Serikat, termasuk buku.

Hubungannya sama Bibel apa?
Mayoritas Bibel yang ada di Amerika Serikat dicetaknya di Tiongkok. Karena itu, para penerbit khawatir bahwa kalo Bibel yang masuk ke Amerika Serikat dikenakan tarif sampe 25%, maka harga Bibel bakal jadi mahal dan susah dibeli. Akibatnya, negara itu bakal mengalami kekurangan Bibel alias bible shortage.

And the publishers says…
Mereka minta ke pemerintah biar kitab suci dan buku-buku keagamaan ga kena tarif masuk sebesar 25%, apalagi karena banyak gereja-gereja di Amrik yang ngasih Bibel gratis ke jemaatnya.

Terus gimana?
Pemerintah Amerika Serikat dan Tiongkok akan memulai lagi negosiasi soal perang tarif ini, setelah selama dua bulan kemarin stuck karena ga mencapai kesepakatan. IF the negotiation works, maka ada kemungkinan tarif 25% ini bisa berubah, Tapi kalo enggak, maka kenaikan tarif ini bakal mulai berlaku untuk semua barang-barang impor dari Tiongkok ke Amerika.

Selain Bibel, barang-barang lain yang juga bakal kena pengaruh kenaikan tarif di antaranya adalah produk Apple, Nike, drone, elektronik sampe mainan anak-anak. Yah, gajadi buka jastip US deh.


Who’s telling people to “think before you type”? 


Instagram.

Jadi Hari Senin kemarin, Instagram meluncurkan fitur baru yang bertujuan untuk memerangi aksi online bullying di platform tersebut. Dalam keterangannya, peluncuran dua fitur ini merupakan salah satu upaya Instagram untuk menghilangkan budaya online bullying yang banyak terjadi, khususnya di kalangan anak muda.

How exactly?
Ada dua cara. Pertama, buat yang mau nge-post komen-komen julid di akun orang (example: untuk kata-kata negatif kayak ugly atau stupid, Instagram bakal munculin pertanyaan “yakin mau posting kata-kata ini?” menurut mereka, notifikasi kayak gini bikin orang yang mau posting mikir dua kali, dan ujung-ujungnya gajadi ngepost).

Cara kedua, kalo kita di-bully, sebagai pemilik akun kita bisa mengaktifkan fitur “restrict”, yang bakal bikin komen dari akun itu ga muncul di akun kita. Selain itu, kalo kita nge-restrict orang, mereka juga ga akan bisa ngeliat kalo kita lagi online di message IG.


For when you feel like “My heartbeat runnin’ away…”


Not happening in Saudi Arabia
Jadi hari Selasa kemarin, rapper dan penyanyi Nicki Minaj memutuskan untuk gajadi manggung di Jeddah, Saudi Arabia. Sebelumnya, penyanyi yang ngehits dengan lagu berjudul “Super Bass” itu dijadwalkan untuk manggung di festival musik “Jeddah World Fest” pada 18 Juli mendatang.

Dalam pernyataan resminya, Nicki bilang bahwa dia batal manggung di Saudi Arabia karena dia mendukung terpenuhinya  hak-hak perempuan, LGBT dan kebebasan berekspresi. Di sisi lain, Saudi Arabia diketahui merupakan salah satu negara paling tertutup di dunia, di mana hak-hak sipil dan politik hampir ga ada di sana. Yaudah ga ketemu. Bhay.