Garuda Indonesia, Trump ke Korut, Partai Oposisi, Jersey Persija

55

Start your Tuesday with the “Curious Case of Fishy Report” and channel your inner Sherlock Holmes.


Plat merah, rapor merah. All you need to know about Garuda Indonesia’s fishy money report. 

Setelah sebelumnya sempat disorot karena diduga ada main mata sama Lion Air untuk kongkalingkong soal harga tiket pesawat yang makin mahal, kini Garuda Indonesia calls our attention again… for their money report.

What report? Some background, please?
Jadi awalnya, pas rapat para pemilik perusahaan (read: RUPS. Think of: kamu dan beberapa teman kamu yang patungan buat buka coffee shop, lalu kalian sepakat untuk nunjuk, let’s say, si Budi untuk ngurusin tempatnya. Secara rutin, Budi ini ngasih laporan keuangan ke kamu dan temen-temenmu, tapi bulan April lalu, kamu baca laporannya and you find something…bizarre) akhirnya kamu memutuskan untuk ga mau nandatanganin laporan keuangan si Budi sebagai tanda kalo kamu ga setuju dengan isinya.

So, Budi is Garuda Indonesia dan gue dan teman-teman gue adalah pemilik perusahaan?
Yep, now let’s call you “pemegang saham”, to make it sounds fancier.

Go on.
Ada dua orang pemegang saham yang ga mau tanda tangan, dengan alasan ada dugaan manipulasi laporan keuangan di Garuda Indonesia. Jadi dalam laporan itu, dibilang bahwa ada uang sebesar lebih dari US$ 239 juta yang udah dimasukin ke daftar pemasukan, padahal uangnya belum masuk ke kas Garuda. Karena praktek ini, laporan keuangan Garuda yang awalnya rugi berubah jadi untung. Nah, hal inilah yang dimasalahin oleh dua orang pemegang saham tadi.

Terus, kata Garuda apa?
Kata Garuda, ya sebenernya ini cuma perbedaan pendapat aja. Laporan keuangannya juga teteup disahkan kok, karena selain dua orang tadi, pemegang saham yang lain ya setuju-setuju aja.

Does the government has a say on this?
Iya dong. Keuangan si Budi a.k.a Garuda Indonesia kemudian diaudit sama pemerintah, dan hasilnya mereka kena denda dengan total sebesar Rp.1,25 Milyar. Budi juga diharuskan untuk ngebenerin lagi laporan keuangannya. Calling all accounting major…


Who’s finally crossed the line?

Donald Trump. Casually. 

Hari Minggu kemarin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump “mampir” ke Korea Utara dan jadi presiden AS pertama dan satu-satunya yang menginjakkan kaki saat tengah menjabat di salah satu negara paling tertutup di dunia itu, thanks to Twitter.

Twitter?
Yep, jadi kan sebelumnya Trump abis meeting G20 di Jepang, terus dia mampir ke Korsel, dan dia kemudian ngetwit bahwa mumpung lagi di sana, dia pengen ketemu sama Kim Jong Un. Basically the Trump style of “hi I’m in the area, u up?”. Twit ini kemudian direspon positif oleh pihak Korea Utara dan 30 jam kemudian, Trump uda salam-salaman sama Kim Jong Un di area perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan.

“I never expected to meet you at this place”
Kata Kim Jong Un pas salaman sama Donald Trump. Gak lama abis itu, Trump kemudian “nyebrang” ke Korea Utara, dan berjalan 20 langkah sebelum balik lagi ke area Korea Selatan.

Anything else?
Yep, abis salaman, mereka kemudian ngobrol untuk bahas soal program nuklirnya Korea Utara. Selain itu, Trump juga ngundang Kim Jong Un untuk berkunjung ke White House.


Who’s saying “you can’t sit with us” other than The Plastics?


Partai Nasdem.

Partai pendukung pemerintah itu bilang kalo partai-partai oposisi kayak PAN, Gerindra dan PKS enggak perlu nyebrang ke pemerintah. Menurutnya, partai-partai itu ga menguntungkan untuk ada di jajaran pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, jadi mendingan tetep jadi oposisi aja. Ouch.

Catch me up! on what happens after the MK drama.
Koalisi Adil Makmur resmi bubar. Masing-masing partai kemudian bebas menentukan langkahnya sendiri. Keempat partai ini adalah Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat.

The recap:
Gerindra:
Leaning untuk tetap jadi oposisi. Katanya, kadernya yang minta.
PKS: Juga leaning towards opposition, meskipun keputusan resminya baru diambil abis musyawarah partai.
PAN: Belum tau. Ada yang bilang siap nyebrang ke pemerintah, ada yang bilang ga perlu. Either way, keputusan resminya diambil pas rapat partai nanti.
Demokrat: Masih belum tau juga karena masih berkabung usai ditinggal Ibu Ani Yudhoyono.

Now you know who’s more indecisive than you choosing what’s for lunch.


Show your “Macan Kemayoran” pride, wear the shirt.


Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana untuk ngewajibin para PNS di lingkungan Pemprov DKI untuk pake jersey Persija pas Persija Day alias hari di mana klub sepak bola asal DKI Jakarta itu bertanding. Anies bilang, peraturan ini adalah sebagai bentuk dukungan atas si “Macan Kemayoran”.