Peace at Last, Protes RUU Ekstradisi, Diskon Ojol, Pembatasan Koneksi

66

I’m (almost) surviving the week. Catch Me Up! with something light… like my salad dressing.



You got it.

Entah terinspirasi sama momentum lebaran atau enggak, tapi Taylor Swift sama Katy Perry akhirnya bilang “Minal Aizin Walfaizin ya, sis”

Yep, dua penyanyi papan atas Hollywood itu (akhirnya) berdamai, setelah sejak tahun 2009 mereka ga temenan (read: sindir-sindiran, ngomongin di belakang, bajak-bajakan back up dancers sampe jadian sama mantan *halo, John Mayer*).

Apa penyebab mereka berantem, sih?

Awalnya adalah ketika Katy Perry deket sama John Mayer, yang mantannya Taylor Swift. Terus mereka makin tegang-tegangan ketika di tahun 2014, Taylor Swift ngadain konser dan dia ngerekrut back up dancer-nya Katy Perry. Nah, beberapa bulan kemudian, Katy Perry juga ngadain konser dan para back up dancer itu balik lagi ke #teamkaty. Itu back up dancers atau abang ojol lagi ngantri bubble tea deh, bolak-balik mulu.

Terus, mereka baikannya gimana? 

Hari Rabu kemarin, Katy Perry ngupload foto cookies di Instagramnya dengan tulisan “peace at last” dan nge-tag Taylor Swift. Terus di kolom komennya, Taylor membalas dengan emoji “heart” gitu. Syukurlah maafannya bukan dengan kalimat template:

“Jika tangan tak bisa berjabat,
dan mata tak bisa berpandangan…”

 


Alright, I am ready for something a little….heavy.

Baiklah. Ayo kita bahas soal kerusuhan di Hongkong.

Iya, Hongkong lagi kenapa sih? 

Sejak hari Rabu kemarin, ratusan ribu warga Hongkong, bahkan ada yang bilang satu juta warga, turun ke jalan untuk memprotes kemungkinan diberlakukannya Undang-Undang Ekstradisi.

Ektradisi adalah…
Proses di mana pelaku kriminal yang kabur ke luar negeri dibalikin lagi ke negara asalnya untuk diadili sesuai peraturan. Contoh: temanmu yang ketauan ibunya nilep uang bayaran kuliah lalu ngumpet di kosan-mu, dengan perjanjian ekstradisi, kamu harus balikin dia ke rumah ibunya untuk bertanggung jawab (a.k.a jangan ghosting!). Tapi kalo ga ada perjanjian ekstradisi, kamu boleh biarin dia untuk tinggal di kosanmu (walaupun ibunya udah gedor-gedor pintu).

Got it. Jadi dalam kasus Hongkong ini, pelaku kriminal dari Tiongkok yang ngumpet di Hongkong ga bisa diekstradisi?

Betul. Begitu juga sebaliknya. Nah, menurut Tiongkok (yang mendukung Undang-Undang Ekstradisi ini), undang-undang ini penting banget, biar Hongkong ga jadi tempat persembunyian para kriminal asal Tiongkok.

Terus, kenapa Undang-Undang ini justru ditolak sama warga Hongkong?

Orang-orang yang nolak adalah para mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi yang menilai bahwa berlakunya undang-undang ini bakal bikin pengaruh Tiongkok makin kuat di Hongkong.

And why is it bad? 

Karena emang hubungan Tiongkok dan Hongkong ga harmonis. Meski merupakan bagian dari Tiongkok, Hongkong merupakan wilayah semi-otonomi yang punya aturan, sistem hukum dan ekonominya sendiri. Sistem politik yang dianut Hongkong adalah demokratis, sedangkan Tiongkok bersistem komunis. Karenanya, Undang-Undang Ekstradisi ini dinilai oleh para aktivis pro-demokrasi Hongkong sebagai upaya negara komunis itu untuk lebih bisa ngontrol Hongkong.

Dan para aktivis itu bilang “No way!” dengan cara…

Turun ke jalan, protes, bentrok sama polisi dan dihujani gas air mata. Sejauh ini, setidaknya sudah ada 72 orang korban luka-luka. Sounds familiar?


Untuk yang suka naik ojek online, kamu harus tau kalo…

Pemerintah ga jadi bikin aturan soal diskon ojek online. Awalnya, pemerintah mau mengatur terkait diskon ojol yang berpotensi menyebabkan terjadinya monopoli dan predatory pricing.

Predator? Kayak yang di film Jurassic Park itu? 
Bukan. predatory pricing adalah istilah dalam ekonomi yang tidak sehat di mana satu perusahaan menurunkan harga servisnya jadi murah banget dengan tujuan mematikan pesaing. setelah pesaingnya mati, maka perusahaan tersebut akan menaikkan harga lagi untuk memulihkan kerugian selama masa predatory dan mendapatkan keuntungan.

That’s sounds bad. Terus kenapa ga jadi diatur?

Karena pemerintah a.k.a Kementerian Perhubungan bilang, urusan monopoli dan predatory pricing ini bukan urusan dia, melainkan urusannya Komisi Pengawas persaingan Usaha (KPPU).

Terus, jadinya gimana? 

Jadinya, menurut Kemenhub ya ga apa-apa ada diskon (yeay!) asal jumlahnya ga melewati tarif atas dan bawah yang udah diatur pemerintah. Contohnya, misalnya tarif bawah per satu kilometer adalah 2.000 rupiah, misalnya kamu dapet diskon potongan harga sebesar 1.500, diskon itu ga bisa bikin harga ojol kamu turun jadi 500 rupiah per kilometer. Gitu…


Kalau hari ini kamu ga bisa buka Whatsapp dan Instagram, itu bukan gara-gara hape-mu ga dapet sinyal

Tapi karena ada kemungkinan pemerintah membatasi koneksi kepada dua aplikasi itu menjelang sidang Pilpres perdana di Mahkamah Konstitusi yang berlangsung hari ini. Namun menurut Kementerian Kominfo, pembatasan ini masih situasional kok, tergantung rusuh atau engga dan banyak hoaks berseliweran atau enggak.